KARBALA,
IRAQ - DECEMBER 03: Shi'ite Muslims pray and worship at the Imam Abbas
Shrine during the Arbaeen ceremony in the Iraqi city of Karbala on
December 03, 2015. Hundreds of worshippers attend the Arbaeen ceremony
to mark the 40th day anniversary of Ashura, commemorating the martyrdom
of Imam Hussein, grandson of Prophet Mohammad, in the holy city of
Karbala. (Photo by Ayman Ali/Anadolu Agency/Getty Images)
Peringatan Asyura memang telah berlalu, namun hikmah dari peristiwa tersebut akan selalu kekal sepanjang zaman. Di antara hikmah tersebut dapat kita baca dari sabda Sayidina Husain yang terbukti kebenarannya. Perhatikan baik-baik ucapan Sayidina Husain berikut, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”
Kita mulai kisah pembunuh Sayidina Husain dari awal. Sebelum ditugaskan di Karbala, Umar bin Saad [panglima perang pasukan Yazid, putra Saad bin Abi Waqash] sudah mendapat perintah untuk pergi ke sebuah daerah di Persia, dan menjadi gubernur di sana. Namun, Ibnu Ziad memberikan tawaran lain, yakni membunuh Sayidina Husain. Tawar menawar antara Umar dan Ibnu Ziad pun terjadi.
Umar bin Saad bimbang. Anaknya menceritakan bahwa Umar berkata, “Apakah aku akan pergi ke Karbala dan membunuh Husain? Jika aku melakukan itu, maka aku akan mendapatkan kekuasaan dan harta, serta dunia akan bergegas kepadaku. Akan tetapi di akhirat aku akan mendapat neraka Jahannam dan siksa Allah. Adapun jika aku tidak pergi ke Karbala, maka bagiku akhirat, kemuliaan surga, keridhaan Allah, namun aku tidak mendapatkan dunia.”
Hubb ad-dunyâ (kecintaan kepada dunia) seolah merasukinya, dan ia berkata, “Di sana ada akhirat. Jika begitu, sekarang kita pergi ke Karbala dan membunuh Husain, lalu kita kembali ke Ray dan memegang kekuasaan di sana, dan setelah itu baru kita bertaubat.”
Di tengah pertempuran Karbala, Sayidina Husain berulang kali mengingatkan Umar atas apa yang akan dilakukannya. Sayidina Husain berharap agar manusia ini masih dapat memperoleh hidayah dari Allah. Sayidina Husain menawarkan segala yang Umar inginkan. Ketika Umar mengatakan, “Aku ingin memerintah di Ray.” Imam Husain berkata, “Aku harap engkau tidak memakan gandum dari daerah Ray, karena mereka akan memenggal kepalamu di tempat tidurmu.”
Singkatnya, Umar menolak tawaran Imam. Pembantaian di Karbala berakhir. Umar telah membunuh Sayidina Husain, sang cucu Nabi, dan menjalankan perintah Ibnu Ziad dan Yazid. Mari kita mengingat kembali ucapan suci Imam Husain, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”
Umar bin Saad melapor dan berkata kepada Ibnu Ziyad, “Aku telah siap untuk berangkat ke Ray.” Ibnu Ziyad berkata, “Aku mendengar bahwa engkau melakukan pertemuan khusus dengan Imam Husain. Apa pentingnya engkau melakukan pertemuan dengan musuh?!” Umar menjawab, “Itu tidak penting. Aku telah menjalankan perintahmu untuk membunuh Husain dan telah aku kirim ke Syam. Sekarang, setelah semua ini, apa yang engkau inginkan?”
Ibnu Ziad berkata, “Seharusnya engkau tidak melakukan pertemuan dengan Husain. Berikan kepadaku surat perjanjian mengenai kekuasaan Ray.” Ibnu Ziyad mengambilnya dan merobek-robek serta membuangnya. Umar berkata, “Wahai Ibnu Ziyad, engkau telah menghancurkanku.” Setelah kejadian ini, Umar selalu membacakan ayat: “Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata” (QS. Al-Hajj : 11).
Umar mulai menjadi gila. Istri dan anak-anaknya jengkel. Mereka berkata, “Engkau menyebabkan kesengsaraan kami. Karena perbuatan kejimu, kami tidak bisa pergi ke luar rumah.” Setiap Umar melewati jalan-jalan kota, anak-anak melemparinya dengan batu dan mendapat hinaan dari orang-orang di sana.
Kemudian datang periode Mukhtar, khalifah Umayyah lainnya. Istri Umar bin Saad adalah saudari Mukhtar. Karena itu, istri Umar mendapat surat jaminan keselamatan bagi suaminya. Mukhtar tahu bahwa Umar telah melakukan kejahatan besar di Karbala. Karenanya surat jaminan itu berbunyi: “Umar ibn Saad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan (Umar bin Sa’ad dalam keadaan aman selama tidak menciptakan suatu perkara).”
Mukhtar bangkit dengan dalih menuntut darah Karbala dan demi mengobati hati pengikut Imam Ali. Dalam sebuah majelis, Mukhtar memerintahkan anak buahnya untuk menyembelih dua putera Umar bin Sa’d. Umar berkata, “Sungguh, pemandangan ini sangat menyakitkan aku.” Mukhtar berkata, “Ketika engkau memenggal kepada Ali Akbar di hadapan Imam Husain, apakah tindakan itu tidak menyakitkan?”
Mukhtar balik ke rumah dan memanggil dua pengawalnya. Mukhtar berkata, “Pergi dan bawa Umar ke hadapanku. Kalian harus berhati-hati. Jika Umar berkata akan mengambil baju, sungguh dia akan menipumu karena dia sangat licik. Maka bunuhlah di sana.”
Kedua pengawal Mukhtar mendatangai Umar yang sedang tidur dan berkata, “Mukhtar menginginkan engkau wahai Umar!” Umar berkata, “Mukhtar telah memberikanku surat jaminan keamanan.” Umar menunjukkan surat itu. Pengawal mendapatkan kalimat ’Umar ibn Sa’ad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan dan berkata, “Kalimat ini mempunyai dua makna. Makna pertama selama tidak melakukan perkara maka aman. Sedangkan makna kedua selama tidak buang air maka aman.” Kalimat mâ lam yuhdits hadatsan berasal dari kata hadats (buang air).
Umar berkata, “Mukhtar tidak menginginkan makna yang kedua.” Pengawal itu berkata, “Kami memahaminya demikian.” Lalu Umar berkata, “Ambilkan bajuku.” Pada saat Umar berkata seperti itulah kedua pengawal itu memenggal leher Umar bin Saad. Anak Umar yang melihat kejadian itu juga ikut dibunuh.
Imam Husain sudah berusaha menasehati Umar dan ucapan Imam terbukti dengan benar. “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.” Wallahualam.
Sumber: Jihâd A-Nafs
Nasib Pembunuh Pembantaian Karbala yang Lain
Syimr bin Ziljausyan bernama asli Syurahbil bin Qurath Adz-Dzahabi Al-Kilabi, salah satu pelaku paling keji di Karbala. Suatu ketika setelah salat ia berdoa, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa aku termasuk orang yang mulia, karena itu ampunilah aku.” Seseorang berkata kepadanya, “Bagaimana Allah akan mengampunimu, padahal engkau ikut membunuh cucu tercinta Rasulullah!”Syimr menjawab, “Apa yang dapat kami lakukan? Ketika para pemimpin memerintahkan kami, tak ada lagi yang dapat kami lakukan selain mematuhinya. Bila kami menentang, nasib kami lebih buruk dari keledai-keledai itu.”
Sama seperti nasib Umar bin Saad, Mukhtar melakukan pembalasan terhadap para pembunuh di Karbala. Syimr pun dikejar sampai ke daerah Kiltaniah, Khuzistan. Di sana ia bertemu dengan pasukan Mukhtar. Syimr yang belum sempat berpakaian, segera menyerang. Abu Amrah berhasil membunuh Syimr; jasadnya dibuang dan menjadi santapan anjing liar.
Harmalah bin Kahil Al-Asadi yang membunuh Ali Akbar bin Husain. Ia juga dibunuh oleh pasukan Mukhtar. Mukhtar mengatakan kepadanya, “Celakalah engkau! Tidak cukupkah apa yang kau lakukan hingga tega membunuh seorang bayi dan menyembelihnya? Tidakkah kau tahu dia adalah cucu Rasulullah?!” Beberapa riwayat menyebutkan ia menjadi sasaran tembak panah pasukan Mukhtar.
Riwayat lain mengatakan bahwa Mukhtar berkata, “Syukur kepada Allah yang memberi aku kesempatan menuntut balas darimu!” Mukhtar memerintahkan untuk memotong kedua tangan dan kakinya, kemudian pedang panas ditempelkan ke leher Harmalah hingga putus.
Mainsource : https://ejajufri.wordpress.com/2010/01/05/bagaimana-nasib-pembunuh-sayidina-husain/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar