Ritual Asyura mengisahkan tentang kesyahidan Imam Husein as di Padang Karbala dan ia tercipta dari budaya lisan dan tradisi kaum Muslim sejak masa silam. Ritual peringatan Asyura memiliki beragam bentuk di tengah kaum Muslim, khususnya di wilayah Iran. Hal ini mengindikasikan kepercayaan kuat masyarakat tentang kebangkitan Karbala dan tradisi Asyura juga sudah mengakar di wilayah Iran. Ritual peringatan Asyura di Iran memiliki banyak bentuk dan sebagian dari ritual itu sudah bersifat umum dan bisa ditemukan di seluruh penjuru negeri, tapiada juga ritual yang hanya bisa dijumpai di desa tertentu.
Namun, semua ritual Asyura menyimpan titik kesamaan yakni, percampuran antara budaya Islam dan Iran. Ini adalah sebuah percampuran yang sangat unik, di mana dua budaya yang kaya dapat tampil dalam sebuah tradisi yang mengakar dan diperingati setiap tahun pada bulan Muharram. Salah satu ritual yang paling kuno untuk mementaskan peristiwa Asyura di Iran dan juga memiliki aturan tertulis disebut Ta'zieh. Dalam referensi budaya Iran dan Asyura, Ta'zieh adalah sebuah pertunjukan yang berkisah tentang peristiwa Asyura serta melambangkan semangat kepahlawanan dan perlawanan. Di sepanjang bulan Muharram, Ta'zieh dipentaskan di berbagai daerah di Iran dan ritual ini selalu menyita perhatian luas masyarakat.
Seorang penulis Iran, Jaber Anasori dalam bukunya Shabih Khani, menjelaskan pentingnya pementasan peristiwa Asyura di banyak momen dan menulis, “Ta'zieh merupakan sebuah pertunjukan khusus dari sudut pandang karakterisasi, pengenalan kepribadian, pakaian, simbolisme warna, latar peristiwa, estetika komunikasi dan perilaku, serta pementasan emosional dan rasa kemanusiaan. Mungkin dapat dikatakan bahwa Ta'zieh adalah pertunjukan penderitaan dan musibah serta ekspresi duka dan kesedihan manusia di medan perang serta pertentangan antara cahaya dan kegelapan, kemuliaan dan kehinaan.”
Meskipun mayoritas masyarakat dunia mengenal acara berkabung dan ritual Asyura melalui Ta'zieh,namun ritual-ritual lain seperti, pembacaan narasi duka Padang Karbala, acara ceramah Asyura, pembacaan doa ziarah, kirab Asyura, dan pawai acara duka, juga terinspirasi dari peristiwa Asyura dan sudah dilaksanakan oleh kaum Muslim sejak berabad-abad lalu. Kebanyakan dari ritual tersebut memiliki konten dan struktur yang sama. Namun,iajuga menyimpan perbedaan karena dipengaruhi oleh kondisi wilayah dan geografis.
Ritual-ritual Asyura menafsirkan heroisme dan gelora perjuangan dengan cara yang indah serta memuat pelajaran-pelajaran agama dan akhlak. Pelaksanaan ritual Asyura mendorong manusia untuk menghayati cinta, pengorbanan, kepahlawanan, iman, serta perang menuntut keadilan dan melawan kezaliman.
Manaqib Khania dalah bentuk ritual lain yang banyak ditemukan pada acara peringatan Asyura. Ritual ini berisi puji-pujian yang disampaikan dalam bentuk ceramah agama atau hikayat tentang kepahlawanan para ksatria Karbala. Acara ini merupakan penggabungan antara agama dan seni. Para pemimpin ritual Manaqib Khani mengisahkan tentang perjuangan Imam Husein as berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih dan sesekali membaca syair-syair tentang revolusi Asyura. Ritual ini bertujuan untuk mementaskan kecintaan masyarakat kepada Imam Husein as dan keluarganya.
Munajat Khaniadalah salah satu ritual lain di bulan Muharram. Acara ini berisi doa, zikir, dan syair yang bernafaskan Islam dan ia dibaca pada saat pelaksanaan ratapan duka Asyura. Munajat Khanitelah menjadi sebuah ritual yang digunakan untuk acara-acara keagamaan di Irandan ia juga menjadi wasilah (perantara) untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya. Kecintaan kepada Imam Husein as dan para syuhada Karbala senantiasa mengarahkan hatigenerasi muda kepada makrifat, pengorbanan, dan kepahlawanan. Semua ritual Munajat Khani yang dilaksanakan pada acara-acara lain juga terilhami dari peristiwa Asyura dan kepribadian suci Imam Husein as.
Menurut catatan sejarah, hati Imam Husein as senantiasa membangun hubungan dengan Allah Swt dan ia tidak pernah membiarkan rasa pesimis untuk meracuni hatinya. Malam Asyura adalah momen yang paling indah dan paling mengharukan bagi Imam Husein as dan para sahabatnya.Imam Husein as adalah seorang hamba Allah Swt yang ikhlas dan selalu larut dalam doa. Setelah meminta waktu dari musuh, sang pahlawan Karbala itu kembali ke kemahnya dan menghidupkan malamnya dengan membaca al-Quran, beristighfar, dan berdoa kepada Sang Khalik.
Salah satu doa yang paling populer dari Imam Husein as adalah doa Arafah. Pada sore hari, Imam Husein as keluar dari kemahnya bersama keluarga dan sekelompok sahabatnya menuju Padang Arafah. Dengan penuh kerendahan dan kekhusyukan, Imam as dan rombongan menghadapkan wajah ke Jabal Rahmah. Kemudian beliau menghadap Ka'bah dan mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah Swt. Beliau mementaskan bentuk penghambaan terindah dan makrifat terdalam lewat kata-kata yang indah dan penuh makna.
Ritual dan upacara berkabung pada bulan Muharram memiliki banyak variasi yang diselenggarakan di seluruh penjuru Iran. Nakhl Gardani adalah salah satu upacara berkabung yang paling penting untuk mengenang peristiwa Asyura.Nakhl melambangkan peti mati dan ia dibuat berbentuk seperti daun pohon. Para peziarah menutupi Nakhl, yang sebagian besar terbuat dari kayu, dengan kain hitam dan menggantung pernak-pernik yang berhubungan dengan Asyura di peti tersebut. Karena bobotnya sangat berat, Nakhl diangkat ramai-ramai oleh para peziarah dan diarak di sekitar lokasi peringatan Asyura.
Kota dan desa-desa seperti Semnan, Damghan, Khomein, Qom, Kashan, Abyaneh, Khor-Biabanak, Zavvareh, Ardestan dan Naeenadalah pusat utama untuk mengadakan ritual Nakhl-Gardani. Akan tetapi, upacara ini digelar secara besar-besaran di seluruh Provinsi Yazd. Jutaan peziarah menghadiri upacara ritual tersebut selama Asyura setiap tahun. Beberapa orang juga berdiri di atas Nakhl untuk mengobarkan semangat para pembawa Nakhl dengan syair-syair seputar Imam Husein as dan memandu mereka sehingga bergerak seirama.
Setelah ritual Nakhl-Gardani usai, para peziarah masih larut dalam duka dan mereka mendengarkan khutbah agama sampai matahari terbenam. Setelah shalat magrib, mereka memperingati ritual Sham-e Ghariban (malam untuk orang asing) dengan menyalakan lilin untuk para syuhada Karbala. Anak-anak pergi ke berbagai penjuru dengan mambawa lilin dan menerangi jalan-jalan. Ritual ini melambangkan saat anak-anak Imam Husein as dan para sahabatnya sedang mencari mayat di malam gelap gurun Karbala.
Ritual lain yang dilakukan pada hari Asyura adalah Maqtal Khani.Maqtal (tempat seseorang terbunuh)adalah sebuah tulisan yang menceritakan kisah pertempuran Karbala dan kesyahidan Imam Husein as. Ritual Maqtal Khani juga dapat ditemukan di seluruh penjuru Iran pada peringatan Asyura.Pada dasarnya, setiap buku yang ditulis tentang peristiwa Asyura di masa lalu disebut Maqtal. Ahlul Bait as yang ditawan dan anak-anak Imam Husein as adalah para perawi pertama peristiwa Asyura dan mereka juga orang pertama yang mempopulerkan ritual Maqtal Khani.
Setelah terjadinya kejahatan mengerikan itu, para penguasa zalim Dinasti Umayyah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghilangkan dampak tragedi itu dan mereka mengarahkan para pembaca Maqtal untuk membenarkan tindakan Yazid. Para penguasa Bani Umayyah ingin mencegah pemberontakan warga setelah peristiwa Asyura dan menutup jalan perang menentang kezaliman. Akan tetapi, semua cara mereka gagal total dan peristiwa Asyura akan selalu dikenang oleh umat manusia. (IRIB Indonesia/RM) / http://indonesian.irib.ir/muharam/item/101860-ritual-peringatan-asyura-di-iran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar