Rabu, 05 Oktober 2016

Peringatan Asyura di Republik Islam Iran, antara Fakta dan Fitnah

Kalau sejumlah kaum muslimin di Negara lain menyambut kedatangan bulan Muharram dengan bersuka cita dan saling mengucapkan selamat akan bergantinya tahun, masyarakat Iran justru melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam.
Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran. Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.




Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka. Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah al-Qur’an dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain As meski sudah berlalu 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya. Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka. Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain. Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut.

Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini. Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut. Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.


Mengenang Ali Asghar
Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain As yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun. Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain As pun memeluk dan menggedongnya. Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. 







Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram. Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang. Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad Saw. Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain. Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  
Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. 




Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya. Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini. Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya smangat yang sama.


Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As melalui tragedi Karbala. Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain.
Ismail Amin, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Tafsir Al-Qur’an Universitas Internasional al Mustafa Qom Republik Islam Iran 
Mainsource : http://ismailamin07.blogspot.co.id/2015/10/peringatan-asyura-di-iran-antara-fakta.html

Peringatan Asyura: Dari Irak Hingga Republik Indonesia


hari berduka cita
hari berduka cita
Muharam merupakan bulan duka karena di bulan itu, para pejuang Karbala pada tahun 61 Hijriah gugur syahid dalam rangka menegakkan kebenaran. Pemimpin para pejuang dan pahlawan Karbala adalah Imam Husein as, cucu kesayangan Rasulullah Saww. Di Karbala, Imam Husein berikut keluarganya dan para sahabat setianya dibantai secara keji di Karbala. Puncak duka di bulan ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.
Pada hari itu, Imam Husein, cucu kesayangan baginda agung Muhammad Rasulullah Saww dibantai, dipisahkan kepalanya dari tubuhnya dan ditancapkan di ujung tombak untuk dipertontonkan kepada masyarakat saat itu. Simbol kebenaran dan kelembutan pada saat itu dihinakan di tengah masyarakat. Padahal sejarah bersaksi bahwa Rasulullah Saww sangat menyayangi cucunya yang merupakan putra dari hasil pernikahan suci Sayidah Fatimah Az-Zahra dan Imam Ali bin Abi Thalib as. Bahkan dalam sejarah disebutkan bahwa Rasulullah Saww selalu memanggil Imam Husein as dengan sebutan anak, bukan cucu. Ini menunjukkan kecintaan mendalam Rasulullah Saww kepada Imam Husein as. Untuk itu, bulan Muharam tak diragukan lagi merupakan bulan duka bagi Rasulullah Saww dan keluarganya. Para pecinta Rasulullah Saww dan keluarga sucinya akan tampak murung di bulan ini. Assalamu Alaika Ya Ibna Rasulillah, Aba Abdillah Al-Husein
10 Muharam akrab diistilahkan dengan Asyura. Peristiwa Asyura merupakan tragedi yang tidak terbatas pada waktu dan tempat. Para pecinta Ahlul Bait as di bulan ini berupaya menyatu dengan kesedihan para kekasihnya dan manusia-manusia suci di muka bumi ini. Mereka merasakan duka yang mendalam sambil mengingat peristiwa Asyura sekitar 14 Abad lalu. Tragedi Karbala merupakan puncak konfrontasi antara kebenaran dan kebatilan. Para pecinta Imam Husein as tak akan melewatkan momentum Asyura dengan meluapkan rasa kesedihan yang sekaligus mengikat janji untuk terus membela kebenaran di muka bumi ini. Pengaruh besar tragedi Karbala hingga kini terus membekas di hati pecinta Rasulullah Saww dan keluarganya dari masa ke masa. Mereka menyadari bahwa selama ada kebatilan, maka setiap hari adalah Asyura dan setiap tempat adalah Karbala. Setiap orang dapat memetik pelajaran dari peristiwa Asyura. Inilah keistimewaan hari Asyura.
Dari kawasan Asia hingga Afrika, Asyura senantiasa diperingati dengan suasana yang dapat membangkitkan sanubari setiap insan. Semua orang yang mengikuti peringatan pembantaian Imam Husein as di hari Asyura merasa terpukul dengan peristiwa sadis itu. Dengan menghadiri peringatan Imam Husein as, setiap orang saling mengucapkan bela sungkawa kepada lainnya.
Tak diragukan lagi, puncak acara peringatan Asyura diperingati di negara-negara Timur Tengah yang di sana banyak pengikut dan pecinta Ahlul Bait as. Ketika bulan Muharam tiba, setiap sudut di negara-negara itu diliputi rasa duka. Negara-negara yang menonjol dalam memperingati bulan duka di bulan Muharam adalah Iran, Irak, Lebanon dan Suriah. Di negara-negara itu, peringatan Asyura digelar begitu dahsyat dan merata di seluruh penjuru.
Menurut data sejarah, Irak yang juga tempat bersaksi akan peristiwa Asyura, adalah negara yang paling luar biasa dalam memperingati tragedi Karbala. Bahkan masyarakat setempat sudah mempersiapkan bulan duka itu sepuluh hari sebelum masuknya bulan Muharam. Mereka memulai hari-hari bulan Muharam dengan memberi nama satu persatu para pahlawan Karbala pada hari-hari itu sesuai dengan urutan hari. Mereka hampir setiap malam setelah mendengar khutbah para penceramah, menggelar upacara duka dengan menepuk dada sebagai sombol kesedihan yang mendalam. Mereka melakukan itu secara berkelompok. Pada malam 9 Muharam yang juga disebut dengan istilah Tasua, mereka menyalakan obor yang dibuat dari pohon kurma dari malam hingga pagi hari Asyura.
Hal yang tak luput menjadi perhatian di hari Asyura adalah “Maqtal”. Maqtal merupakan buku yang mengungkap peristiwa Asyura berlandaskan pada pernyataan para sejarawan. Pada hari Asyura itu maqtal dibaca dengan nada sedih. Shahid Ayatollah Mohammad Bagir Hakim adalah diantara pembaca maqtal yang tersohor di Irak. Bahkan banyak pecinta Ahlul Bait as dari berbagai negara datang ke Irak untuk mendengarkan maqtal yang dibacakan oleh Shahid Mohammad Bagir Hakim.
Pada hari Asyura, masyarakat Irak memadati masjid-masjid dan huseiniah untuk mendengar maqtal yang dibacakan para tokoh dan ulama setempat. Ini adalah di antara fenomena pada hari Asyura di Irak. Ketika waktu Dzuhur tiba, mereka bergerak menuju Karbala dan menggelar upacara di haram suci Imam Husein as. Di tempat itu, para pecinta Imam Husein as meluapkan rasa duka mereka di hadapan makam suci Imam Husein as. Waktu dzuhur adalah puncak kesedihan bagi para pecinta Ahlul Bait as karena saat itu diyakini bahwa Imam Husein, keluarganya dan para sahabat setianya tengah menghadapi masa genting di tengah kepungan para musuh di Karbala.
Asyura di Lebanon juga mempunyai ciri khas tersendiri. Jika ingin mengikuti upacara duka kepada Imam Husein dengan sambutan hangat penduduk setempat, anda dapat mendatangi Lebanon. Cukup mendekati salah satu pengikut Ahlul Bait as di Lebanon, anda pasti akan merasakan kerinduan mereka kepada Imam Husein as yang tercermin dalam upacara-upacara peringatan Asyura.
Sepanjang bulan Muharam, khususnya dari tanggal 1 hingga 10 Muharam, berbagai kawasan yang penuh dengan para pecinta Ahlul Bait as, seperti Zaheya dan Beqa, berubah menjadi permukiman yang dipenuhi dengan warna hitam. Pada hari-hari itu, huseiniyah yang merupakan tempat pertemuan kalangan pecinta Ahlul Bait, menjadi ajang upacara duka kepada Imam Husein as. Di huseiniyah-huseiniyah itu, mereka memulai acara duka dengan membaca ziyarah Asyura dan mengenang peristiwa-peristiwa yang terjadi di Karbala. Di penghujung acara, para pecinta mendapat jamuan makanan nazar.
Dalam pawai akbar di sore hari 9 Muharam dan 10 Muharam, seluruh masyarakat pecinta Ahlul Bait as memadati jalan-jalan. Pada tanggal 10 Muharam, mereka mempersembahkan acara pementasan peristiwa Asyura. Masyarakat memadati tempat penyelenggaraan pementasan yang digelar secara terbuka, dan mengenang peristiwa menyayat hati itu. Dalam pementasan itu digambarkan sekelompok pasukan Bani Umayah yang dilengkapi dengan kuda, pedang dan pakaian lengkap perang. Wajah mereka tampak sadis. Sementara di sudut lain ada kelompok lain yang menggambarkan ketertindasan para pengikut dan keluarga Imam Husein as. Dalam pementasan itu juga tampak kemah-kemah keluarga Rasulullah Saww yang dikepung oleh para musuh.
Peringatan Asyura lainnya juga digelar di India dan Pakistan. Di Pakistan, peringatan Asyura sudah dilakukan semenjak 12 abad lalu. Bahkan dalam sejarah negara ini tercantum bahwa kolonial Inggris sempat melarang peringatan Asyura yang merupakan sumber inspirasi perlawanan bagi umat tertindas. Inggris yang saat itu menjajah Pakistan, merasa khawatir akan pelaksanaan acara peringatan Imam Husein as yang dapat menggerakkan semangat perjuangan masyarakat setempat. Meski dilarang, para pecinta Ahlul Bait as saat itu tetap menggelar upacara duka kepada Imam Husein as. Dengan berlalunya masa, upacara duka kepada Imam Husein as menjadi bagian dari budaya setempat. Bahkan banyak para penulis dan penyair yang berbicara tentang Imam Husein as dan Asyura.
Peringatan Asyura dan 40 Hari Syahadah Imam Husein yang dikenal dengan istilah Arbain, digelar di berbagai kota di Pakistan seperti Karachi, Hyderabad, Kotri dan Thatha. Dalam acara Asyura, masyarakat menghindari makan dan minum hingga berakhirnya upacara peringatan. Hal itu sengaja dilakukan untuk menghormati Imam Husein, keluarganya dan para sahabatnya yang dibiarkan kehausan di Karbala. Setelah usainya peringatan Asyura, masyarakat dijamu makanan dan minuman nazar.
Di India, upacara duka kepada Imam Husein as tidak hanya diperingati ummat Islam, tapi para pemeluk agama Hindu pun menghormati peringatan Asyura itu. Mereka menggelar upacara-upacara Imam Husein as di tempat-tempat yang diwakafkan untuk mengenang Imam Husein as. Upacara duka kepada Imam Husein as mendapat tempat tersendiri bagi masyarakat India baik ummat Islam maupun Hindu. Bahkan pemimpin pergerakan terkemuka India, Mahatma Ghandi mengakui bahwa pergerakan anti kolonial di India terinspirasi dari perjuangan Imam Husein as. Ini menunjukkan bahwa tragedi Asyura mempunyai pengaruh yang luar biasa.
Upacara duka kepada Imam Husein as dapat disaksikan di beberapa kota India seperti Lakhnau, Bengal dan Benares. Di kota-kota itu, ummat Islam dan para pengikut Ahlul Bait menghormati hari Asyura dengan menghindari makan dan minum, bahkan menjauhi canda dan tawa.
Sedangkan di Asia Barat, peringatan Asyura juga akan disaksikan di Turki. Tradisi mengenang Imam Husein as sangat kental di negara ini. Hal itu bisa dilihat dari sastra-sastra Turki yang sarat dengan gerakan Imam Husein as. Hal yang menonjol di negeri ini dalam memperingati tragedi Asyura tercermin dalam sastra dan tradisi pementasan di tempat terbuka. Masyarakat dalam jumlah besar pada tanggal 10 Muharam sangat antusias mendengar puisi-puisi dan pementasan tragedi Asyura yang digelar di berbagai kota termasuk Istanbul.
Peringatan Asyura juga dikenang di Afrika, khususnya Afrika utara. Di negara-negara Afrika utara, upacara dan pawai duka diperingati seperti di negara-negara Islam lainnya. Bersamaan dengan menyebarnya peringatan Asyura di masa pemerintah El Baweh di Iran, Irak dan pemerintahan Fathimi di Mesir, peringatan tragedi Asyura juga meluas di negara-negara Afrika.
Di Tunisia, masyarakat setempat juga memperingati tragedi Asyura. Bahkan di negeri ini ada tradisi menghidupkan api di tempat-tempat tertentu dengan keyakinan bahwa hal itu akan membahagiakan anak-anak Imam Husein as di Karbala.
Tragedi Asyura juga diperingati di Indonesia, Malaysia dan Thailand. Di Indonesia, peringatan Asyura semakin semarak pasca Revolusi Islam Iran. Pada tanggal 10 Muharam, berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Makasar, Medan, Samarinda bahkan Jayapura menjadi saksi peringatan Asyura. Di kota-kota itu, semua pecinta keluarga Rasulullah Saww dalam jumlah ribuan berbondong-bondong menghadiri peringatan Asyura di kota masing-masing.
Peringatan tragedi Karbala ternyata sudah menjadi bagian dari tradisi lama di nusantara. Tradisi kuno nusantara dalam mengenang peristiwa asyura dikenal dengan istilah Tabot.
Tabot adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu, yang diadakan bertujuan untuk mengenang tentang kisah kepahlawanan dan kesyahidan cucu Rasulullah Saww, Imam Husein di padang Karbala tanggal 10 Muharam 61 Hijrah bersamaan 681 Masihi. Menurut sejarah, peringatan Asyura di Bengkulu itu untuk pertama kali dilakukan oleh Syeikh Burhanuddin yang dikenal Imam Senggolo, pada tahun 1685. Syeikh Burhanuddin menikahi dengan warga setempat kemudian keturunannya disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari tanggal 1 hingga 10 Muharram pada setiap tahun.
Pada awalnya inti dari upacara Tabot adalah untuk mengenang keluarga dan para pecinta Ahlul Bait as dalam mengumpulkan potongan tubuh Husein dan memakamnya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang secara harfiah berarti “kotak kayu” atau “peti”.
Tradisi itu diduga bermuara dari upacara berkabung yang dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para pekerja yang merasa serupa dan secocok dengan tata hidup masyarakat Bengkulu memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenali dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Para pekerja yang memilih tinggal di Bengkulu itu dipimpin oleh Syeikh Burhanuddin. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli. Keturunan mereka dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai.
Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan yang kemudian dikenali dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, upacara Tabot tidak bertahan lama di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yakni di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Kedua upacara itu mempunyai substansi sama, namun cara pelaksanaannya sedikit berbeda.
Pada intinya, peringatan Asyura mempunyai pengaruh luar biasa di seluruh pelosok dunia. Itu menunjukkan bahwa perjuangan Imam Husein as di Karbala dapat diterima oleh seluruh kalangan dan berbagai suku. Misi perjuangan Imam Husein bukan milik kaum tertentu, tapi untuk semua kaum di muka bumi ini.
Assalamu Alaika Ya Aba Abdillah Al-Husein as.
Mainsource : https://darahalhusain.wordpress.com/2011/10/29/peringatan-asyura-dari-irak-hingga-indonesia/
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar