Iseng-iseng di Google saya
ketik ‘NU sesat’. Saya dapati ada 538.000 tulisan. Berikutya saya
ketik kata kunci ‘Syiah sesat’, ada 544.000 tulisan. Menarik kan?
Ternyata hampir sama jumlah kata kunci ‘Syiah sesat’ dan ‘NU
sesat’, menarik untuk mencari tahu, Siapakah dalangnya?
Kenapa tak hanya Syiah, tapi
NU secara masif (tapi kurang disadari) disesatkan juga? Siapa
sebenarnya target utama penyesatan, pembid’ahan dan gerakan masif
takfirisme yang merajalela sekarang ini? Percayakah anda, Bukan
Ahmadiyah, bukan pula Syiah. Tapi tak lain tak bukan adalah NU.
Ahmadiyah dan Syiah itu di
Indonesia kan secuil, seiprit. Di Indonesia ini tak ada untungnya juga
nyerang Syiah sebenarnya. Itu cuman target sekunder saja. Ahmadiyah dan
Syiah hanyalah batu loncatan untuk menyerang target utama: NU. Kenapa
menyerang NU? Karena NU-lah (bersama Muhammadiyah) yang menjadi benteng
penjaga bangsa ini sejak, bahkan sebelum, kemerdekaan Indonesia. Jika NU
hancur, hancur pulalah bangsa ini.
Seperti Libya, Suriah, dan
Irak. Lihatlah, sekarang kelompok takfiri ini sudah tak malu-malu lagi
menyerang. membid’ah-bid’ahkan dan bahkan menyesatkan amaliah NU seperti
tahlil, maulid, shalawat, ziarah, dll itu kan? Bahkan dari dalam tubuh
NU sendiri pun gerakan anti NU -tulen yang wasath, yang moderat dan
toleran- mulai bermunculan. Ketika menyerang Ahmadiyah, mereka
mulus-mulus saja, karena Ahmadiyah memang tak punya doktrin ‘melawan’.
Tapi ketika target lanjutannya adalah Syiah, di sinilah kelompok takfiri
ini kesandung dan nyonyor, karena Syiah memilik militansi.
Syiah mencoba meniru semangat juang SAYYIDINA HUSAIN. Syiah memiliki
derita panjang bulan-bulanan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Syiah
adalah orang yang dibesarkan dengan doktrin menjadi petarung dan
pejuang, yang tak akan diam dan siap bangkit melawan.
Menarik untuk dicermati.
Secara kultural, Syiah dan NU di Indonesia memiliki hubungan yang sangat
erat. “NU adalah Syiah minus Imamah, Syiah adalah NU plus Imamah”,
begitu kata alamarhum Gus Dur.
Wahabi Takfiri terlalu nekat
kalau langsung menyerang NU, karena itulah Syiah dijadikan batu
loncatan. Karena itu bisa dimengerti bahwa NU tak akan hancur kalau
Syiah tidak dihancurkan lebih dulu. Syiah-pun tak akan bisa dihancurkan,
selama NU tidak dikacaukan terlebih dahulu. Karena itu, kelompok
takfiri ini (bisa di Sunni-Syiah-Wahhabi), tak akan pernah bisa berhasil
merobohkan NU selama mereka tak berhasil menstigma Syiah sebagai sesat,
kafir, dan bukan Islam. Karena dari situlah mereka mendapat pintu masuk
untuk menyerang NU, yaitu dari pintu ajaran, amaliah, dan kultur Syiah
yang sama dengan NU (shalawatan, mengharap syafaat, maulid, haul,
ziarah, tahlil, dll).
Jangan pula heran ketika
fitnah pada Syiah begitu massif dan sistematis. Tak hanya dari luar
Syiah, bahkan dari dalam Syiah sendiri pun disusupi antek-antek takfiri
pemuja Yasir Habib yang tinggal di London dan Tawhidi yang asal
Australia. Jika Syiah roboh, NU juga Roboh. Berikutnya PANCASILA
digantikan KHILAFAH.
#saveNKRI
(Kyai Zainal Ma’arif) / http://id.abna24.com/cultural/paper/archive/2016/10/15/785680/story.html
Kenalkah Kau dengan al Husain, Cucu Kesayangan Nabi?
Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.
Dia hanya berjarak setahun dengan
abangnya, al Hasan. Sebagaimana abangnya, namanya juga adalah pemberian
Allah Swt melalui malaikat Jibril As yang meminta Nabi Saw menyebutnya
al Husain, yaitu Hasan kecil. Dihari ketujuh kelahirannya, sebagaimana
juga abangnya, dia diaqiqah dengan sembelihan satu ekor kambing.
Para sahabat sang Kakek juga turut
merasakan kebahagiaan akan kelahirannya. Dalam mazhab Syiah dan juga
Maliki, aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya,
masing-masing dengan sembelihan satu ekor kambing. Islam yang datang
dengan doktrin laki-laki dan perempuan sama derajatnya, mustahil
membeda-bedakan laki-laki dan perempuan justru dihari-hari awal
kelahirannya. Suka cita dalam penyambutan kelahiran anak, sama, anak
laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Islam datang justru hendak
merombak tradisi yang membeda-bedakan anak laki-laki dengan perempuan.
Masa kecil al-Husain diliputi
kebahagiaan dan keceriaan masa anak-anak. Dia tidak pernah terlihat
berpisah dengan kakeknya. Sahabat-sahabat Nabi Saw ketika menceritakan
tentang al Husain, mereka akan berkata, “Selalu saja kulihat al Husain
itu duduk dipangkuan Nabi, sambil sesekali diciumi Nabi.” Bahkan ada
salah seorang sahabat yang merasa risih, saking seringnya dia melihat
Nabi menciumi al Husain.
“Ya Rasulullah, saya mempunyai 10 anak laki-laki dan tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.”
“Kenapa?”
“Kenapa?”
“Kami tidak mencium anak laki-laki.”
“Barang siapa yang tidak menyayangi,
tidak akan disayangi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Allah akan
mencabut rasa sayang dari hatimu.”
Tidak hanya diwaktu senggang, Nabi
selalu bersama al Husain. Bahkan diwaktu sedang memimpin jamaah shalat
sekalipun. Al Husain dan abangnya berkejaran diantara kedua kaki Nabi
yang sedang shalat. Ketika Nabi sujud, keduanya bergantian menunggangi
pundak Nabi. Akibatnya, Nabi memperlama sujudnya. Sehabis shalat, para
sahabat bertanya, apa gerangan yang terjadi mengapa sampai sujud Nabi
sedemikian lama. Nabi menjawab, “Kedua cucuku ini menunggangi
punggungku, dan kubiarkan keduanya menyelesaikan keinginannya.”
Salah seorang sahabat pernah mendapati
Nabi sedang asyik bermain dengan kedua cucunya. Al Husain dan al Hasan
naik dipunggung Nabi bersamaan. Sahabat itu turut tersenyum melihat
tingkah keduanya, sambil berkata, “Amat beruntung kalian berdua,
memiliki tunggangan yang paling baik.” Nabi berkata, “Dan keduanya
adalah penunggang terbaik.”
Pernah Nabi sedang berkhutbah. Diatas
mimbar beliau melihat al Husain dan abangnya berkejar-kejaran. Karena
baju yang dipakai al Husain kepanjangan, ia menginjaknya sendiri, dan
terjatuh. Nabi spontan melompat dari mimbar dan menggendong cucunya itu,
kemudian melanjutkan khutbahnya kembali. Nabi tidak ingin al Husain
terluka sedikitpun, apalagi sampai menangis. Menenangkan hati cucunya
itu, lebih utama bagi Nabi dibanding khutbah yang disampaikannya.
Berkali-kali sahabat bertanya, “Ya
Rasulullah, kami melihat, begitu besar kecintaanmu pada al Husain.”
“Iya, al Husain dari aku, dan aku dari al Husain. Mencintai aku siapa
yang mencintainya, dan memusuhi aku siapa yang memusuhinya.” Mendengar
sabda itu, sahabat-sahabat Nabipun berlomba-lomba menunjukkan kecintaan
yang serupa kepada al Husain.
Setiap Nabi usai menyampaikan khutbah
atau nasehat kepada sahabat-sahabatnya, al Husain dan al Hasan segera
berlomba berlari kembali ke rumah. Keduanya adu cepat untuk menyampaikan
apa yang dikatakan Nabi kepada ibunya, Fatimah az Zahra. Begitu Imam
Ali datang dan hendak bercerita kepada istrinya tentang apa yang telah
disampaikan Nabi tadi, Sayyidah Fatimah segera memotong, “Sudah saya
tahu.”
Imam Ali hanya keheranan, “Kamu tahu
dari mana?”. Sang Bunda tersenyum sambil menunjuk kedua anak
laki-lakinya yang cekikan senang.
Pernah, ada seorang kakek tua sedang
berwudhu, namun caranya salah. Al Husain dan al Hasan melihat kejadian
itu. Al Husain segera berkata kepada abangnya, “Bang, yuk kita
bertanding, siapa yang wudhunya paling benar.”
Al Hasan menyanggupi tantangan itu. “Tapi siapa yang menjadi jurinya?” Al Husain pun meminta kepada kakek yang hadir disitu.
“Kek, siap jadi juri ya..”
“Kek, siap jadi juri ya..”
Sang kakek mengiyakan.
Keduanyapun melakukan wudhu dihadapan kakek itu. Dan begitu usai, kakek ditanya siapa yang wudhunya paling benar.
Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar. Saya yang salah.”
Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar. Saya yang salah.”
Al Husain sukses memberitahu cara wudhu yang benar kepada si kakek, tanpa merasa digurui.
Al Husain tidak lama bersama Nabi.
Diusianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa
sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama
sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang.
Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.
Tapi tahukah kau akhir hidup cucu yang
begitu disayangi Nabi itu?. Tahukah kau bagaimana kisah selanjutnya dari
penunggang Nabi itu? Tahukah kau apa yang terjadi dengan leher dan
bibir al Husain yang sering dikecup oleh Nabi itu?
Ia mati dalam keadaan lehernya tersembelih, dan bibirnya ditusuk-tusuk pedang.
Ketika kepala al Husain yang telah
terpisah dari tubuhnya dibawa kehadapan Yazid. Yazid memukul-mukul batok
kepala itu dengan tongkat, dan mempermain-mainkan bibir di kepala itu.
Sahabat-sahabat Nabi yang telah tua renta histeris melihat kejadian itu.
“Hentikan wahai Yazid, aku melihat dengan mata kepala sendiri, bibir itu sering diciumi oleh Nabi.”
Kau mungkin tidak tahu banyak mengenai itu, sebab cerita yang kau dapati tentang al Husain, dia yang sedang tertawa senang sedang menunggangi Nabi, kakeknya.
“Hentikan wahai Yazid, aku melihat dengan mata kepala sendiri, bibir itu sering diciumi oleh Nabi.”
Kau mungkin tidak tahu banyak mengenai itu, sebab cerita yang kau dapati tentang al Husain, dia yang sedang tertawa senang sedang menunggangi Nabi, kakeknya.
Hanya itu… seolah-olah al Husain,
hanyalah cucu Nabi, yang sepanjang usianya adalah cucu yang larut dalam
kegembiraan masa kanak-kanak.
Mana masa muda al Husain, yang diminta ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa muda al Husain yang ikut membela ayahnya dalam perang-perang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir al Husain, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya?
Mana masa muda al Husain, yang diminta ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa muda al Husain yang ikut membela ayahnya dalam perang-perang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir al Husain, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya?
Nabi bersabda tentangnya, “Al Husain adalah pemimpin pemuda di surga…”
Kau tahu dimana kepalanya yang sempat dipermainkan itu dikubur?
Secuil itukah yang kau tentangnya?
10 hari pertama Muharram, berusahalah tahu banyak tentangnya, kau akan mengenal agama ini lebih dekat...
[Ismail Amin] / http://id.abna24.com/service/mourning-of-imam-hussain/archive/2016/10/06/783715/story.html
Majelis Duka yang Benar adalah Jalan Melawan Islam Palsu
Dengan membudayakan tradisi yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majlis duka dibawah payung persatuan.
Menurut kantor berita ABNA,
dalam rangka peringatan Majelis Husaini bulan Muharam dan Safar Majma
Jahani Ahlubait As memberikan pesan duka dan nasihat-nasihat kepada para
anggota dan orang-orang terkait.
Dalam pesan ini disebutkan
bahwa peristiwa karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu
bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama
dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.
Dalam pesan ini ditekankan
pula bahwa majlis duka yang benar merupakan cara menghadapi Islam-Islam
palsu, “menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina
para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan
cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka
mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan
penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh.
Tugas kita dalam hal ini
adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri
tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat
seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, pisau, belati atau
pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara
duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.”
Berikut adalah teks lengkap pesan Majma Jahani Ahlubait As:
Bismillahirahmaanirahiim
Imam Shadiq As berkata:
«نفس المهموم لظلمنا تسبیح و همُّه لنا عبادة و کتمان سرّنا جهادٌ فی سبیل الله» (أمالی شیخ مفید،ص338(
Artinya: “Nafas orang
terzhalimi demi kami (ahlubait) adalah tasbih, penderitaan yang dialami
demi kami adalah Ibadah dan menyembunyikan rahasia kami adalah jihad di
jalan Allah” (Syeikh Mufid Amali, hal. 338)
Kepada seluruh anggota, orang terkait, para mubaligh dan para perwakilan Majma Jahani Ahlubait As yang terhormat,
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatu
Dengan mengirimkan shalawat
kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlubait As dan dengan sangat terhormat;
kami menyampaikan belasungkawa kepada para pengikut Ahlubait As, semua
umat muslim dan kaum merdeka di seluruh dunia atas kedatangan bulan
Muharram dan Safar Husaini, hari-hari penuh duka keluarga ma’shumin dan
wilayah, musim pembaharuan ba’iat kepada keturunan suci Rasulullah Saw
dan musim ‘labbaik’ seruan yang mempersatukan.
Majma Jahani Ahlubait As dalam
rangka peringatan acara duka Ahlubait As merasa berkewajiban untuk
menyampaikan nasihat atau pesan-pesan dalam rangka mengagungkan
syi’ar-syi’ar kebenaran Islam suci Muhammadi:
Tragedi karbala sejalan dengan
seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya
dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini
merupakan ibadah.
Majlis duka yang benar
merupakan jalan melawan Islam Palsu; atas dasar inilah majelis duka
tidak boleh hanya membaca syair-syair atau puisi saja dan para pemuka
agama dan para mubaligh agama dalam mimbar-mibarnya harus mementingkan
tema-tema yang bersangkutan dengan tujuan bangkitnya Imam Husain dan
pergerakan Asyura dengan berlandaskan pada Ayat-ayat suci dan
hadits-hadits, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan lemah dan
tidak bersanad, tidak berisi, tidak rasional, membangkitkan perpecahan
dan merusak persatuan umat.
Dengan membudayakan kebudayaan
yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia
dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka
musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus
mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majelis duka dibawah
payung persatuan.
Kecintaan dan mahabah Husaini
harus lebih ditunjukan dengan cara yang logis dan para mubaligh harus
membentengi masyarakat dengan cara menjelaskan fitnah-fitnah musuh agar
mereka berkumpul dibawah bendera Imam Husain As.
Menurut pandangan maraji’ dan
pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah
pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan
para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia
Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka
disebarkan dan dilancarkan lewat musuh. Tugas kita dalam hal ini adalah
harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas
melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti
Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, belati atau pedang kecil) dan
bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini
tidak sesuai dengan ajaran Karbala.
Amr Bil Ma’ruf wa Nahy ‘anil
Munkar yang merupakan salah satu tujuan penting pergerakan Asyura adalah
satu-satunya cara melawan serangan budaya barat; oleh karena itu kita
harus berusaha menyebarkannya dengan Akhlaq dan ma’nawiyat yang
dibarengi dengan cara yang logis yang merupakan syarat masuknya di hati
masyarakat ini.
Kita berharap kepada Allah Swt
agar secepatnya memenuhi janjinya untuk kebebasan setiap orang-orang
yang terzhalimi di dunia, di Bahrain, Yaman, Suriah, Iraq, Pakistan,
Palestina dan negara-negara Islam lainnya dan kemenangan mereka dari
para penguasa dunia, Zionis, kelompok-kelompok takfiri, dan ancaman anti
Islam. Semoga Allah menyelamatkan dan memberikan hidayah kepada dunia
manusia dengan kedatangan Imam Mahdi Ajf.
Majma Jahani Ahlubait As
30 Dzulhijjah 1437 H
Liputan Khusus:
Bedanya Jika Ikut Langsung Peringatan Asyura
Selama hampir satu jam, Sayyid Ali Rabbani membawakan narasi tragedi Karbala. Meski dia berkebangsaan Iran, namun bahasa Indonesianya sangat fasih.
Suara Sayyid Ali Rabbani
tiba-tiba tercekat. Sejenak dia terdiam setelah sebelumnya menceritakan
bagaimana Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, tetap mendirikan Shalat
secara berjamaah pada malam 10 Asyura. Shalat diikuti oleh anak-anaknya,
para ponakannya (anak-anak saudaranya, Imam Hasan) serta beberapa
sahabat dan pengikut setianya.
Setelah mengambil nafas
yang panjang, Sayyid Ali melanjutkan kisahnya. Malam itu, Imam Husain
mengumpulkan seluruh sahabat serta anggota keluarganya di dalam tenda
utama. Kala itu, mereka sudah dalam kondisi terkepung oleh puluhan ribu
pasukan Yazid bin Muawiyah, dan dalam kondisi kehausan karena akses
mereka ke sungai terdekat diboikot.
Imam Husain lalu
menyampaikan bahwa besok, peperangan akan terjadi dan akan banyak yang
menjemput kematian. Qasim, salah satu putra Imam Hasan yang masih
belasan tahun lalu berkata, “Apakah besok aku juga akan syahid?”, Imam
Husain menanggapi pertanyaan keponakannya, “Puteraku, bagaimana kematian
itu dalam pandanganmu?”. Ia menjawab, “Kematian bagiku, lebih manis
dari madu.” Imam Husain lalu menjawab, “Iya, puteraku, besok, kamu juga
akan meraih kesyahidanmu.”
Kisah yang disampaikan
Sayyid Ali Rabbani ini spontan membuat jemaah yang menghadiri majelis
Asyura, menangis tersedu-sedu. Tangis mereka semakin menjadi-jadi ketika
narasi dilanjutkan, saat bagaimana ribuan prajurit tanpa perasaan
membantai Qasim bin Hasan yang maju ke medan laga seorang diri. Seorang
remaja berwajah tampan yang mirip dengan ayahnya, Imam Hasan, cucu Nabi
Muhammad Saw, kini tak bernyawa, tergeletak bersimbah darah di Padang
Karbala.
Selama hampir satu jam,
Sayyid Ali Rabbani membawakan narasi tragedi Karbala. Meski dia
berkebangsaan Iran, namun bahasa Indonesianya sangat fasih.
Usai menyelesaikan
narasi tragedi Karbala, Sayyid Ali yang merupakan salah satu Qari dari
Iran ini, memimpin Doa Ziarah Imam Husain, semacam doa untuk menyatakan
kesetiaan terhadap perjuangan Imam Husain, dan menyatakan berpaling dari
orang-orang yang memerangi Sang Imam di Karbala, pada 10 Muharram 60
Hijriyah lalu.
Ziarah ini ditutup
dengan sujud bersama, sembari memohon kepada Allah Swt, agar bisa
mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw dan para keluarganya,
termasuk Imam Husain. Muslim Syiah meyakini, para Ahlulbait Nabi Saw
yang berjumlah 12 orang, termasuk Imam Husain, kelak akan menemui para
peziarahnya dan memberikan mereka syafaat di hari akhir kelak.
Jurnalis Berita Kota Kendari, diperkenankan mengikuti ritual yang digelar di Hotel Qubra, Kendari, Selasa (11/10), yang bertepatan dengan 10 Muharram itu. Acara yang dihadiri sekitar seratusan muslim Syiah dari seluruh Sulawesi Tenggara ini, dibuka sekitar pukul 13.00 dan berakhir tiga jam kemudian.
Jurnalis Berita Kota Kendari, diperkenankan mengikuti ritual yang digelar di Hotel Qubra, Kendari, Selasa (11/10), yang bertepatan dengan 10 Muharram itu. Acara yang dihadiri sekitar seratusan muslim Syiah dari seluruh Sulawesi Tenggara ini, dibuka sekitar pukul 13.00 dan berakhir tiga jam kemudian.
Meski demikian, ritual
ini sempat mendapatkan protes dari puluhan orang yang merupakan aktivis
Anti-Syiah. Namun protes mereka tak membuat ritual Asyura di dalam hotel
sampai terganggu. Seluruh ritual berjalan dengan lancar dan khidmat
dari awal sampai selesai.
Ratusan aparat gabungan
Polri dan TNI pun terus melakukan pengamanan untuk menghindari
terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, jumlah jamaah Syiah
yang ikut dalam acara itu terbilang sedikit. Itu pun masih terdiri dari
perempuan dan anak-anak.
Ketua DPW Ikatan Jemaah
Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Sultra, Ustad Nunung Piagi menyesalkan
adanya gerakan yang ingin menggagalkan ritual Asyura. “Anda bisa lihat
sendiri, bahwa peringatan Asyura ini hanya membacakan narasi tragedi di
Karbala dan doa bersama. Apanya yang dipersoalkan? Apa salah jika kami
memperingati kesyahidan Imam Husain?” kata Ustad Nunung.
Dia juga mengatakan, sudah seringkali mengundang tokoh atau warga di luar Syiah untuk melihat langsung ritual Asyura, agar mereka bisa langsung tahu dan memahami esensi dari tradisi ini. “Beda kan kalau kita ikut langsung, daripada hanya mendengar-dengar,” tambahnya.
Dia juga mengatakan, sudah seringkali mengundang tokoh atau warga di luar Syiah untuk melihat langsung ritual Asyura, agar mereka bisa langsung tahu dan memahami esensi dari tradisi ini. “Beda kan kalau kita ikut langsung, daripada hanya mendengar-dengar,” tambahnya.
Di tempat yang sama,
Ketua DPW Ahlul Bait Indonesia (ABI) Sultra, Ir Tachrir mengatakan
setiap tahun peringatan Asyura yang digelar komunitas Syiah memang
selalu mendapat penentangan dari ormas-ormas tertentu. Itu terjadi
karena adanya perbedaan pemahaman antara Syiah dan golongan tersebut
dalam beberapa hal, termasuk ritual Asyura.
Ketua Formasi Sultra,
Muhammad Ridwan Zainal juga menambahkan bahwa pemerintah sebaiknya
memfasilitasi dialog antarmazhab untuk mendorong toleransi antarsesama.
Yang jelas, kata Ridwan, antara Syiah dan Sunni, persamaannya masih jauh
lebih banyak dibandingkan perbedaannya.
Sementara di luar hotel,
pihak MUI Sultra dan Muhammadiyah juga ikut memberikan penjelasan.
Mereka mengatakan, Syiah itu ada yang sesat, dan ada juga yang tidak.
IJABI dan ABI, yang merupakan Ormas penggagas Asyura di Kota Kendari,
tidak termasuk dalam golongan yang disesatkan. Mereka adalah pengikut
Syiah Imamiyah yang diakui sebagai salah satu mazhab resmi dalam Islam.
Juga disebutkan, bahwa
ritual Ahlulbait sebenarnya sangat kental dengan tradisi orang Sultra
sendiri. Tiang keraton Buton yang berjumlah 12, sebenarnya merujuk pada
keyakinan Syiah Imamiyah yang memiliki 12 orang Imam atau pemimpin umat.
Berdasarkan pantauan
jurnalis Berita Kota Kendari, pengamanan itu dihadiri Komandan Kodim
(Dandim), Letnan Kolonel (Letkol) Kafleri Eko Hermawan serta Kapolres
Kendari, AKBP Sigit Hariadi.
Dari penelusuran di internet, tradisi Asyura memang menjadi salah satu ritual besar dalam tradisi Muslim Syiah. Populasi jumlah Muslim Syiah di seluruh dunia diperkirakan mencapai 150 juta sampai 200 juta orang, termasuk 2,5 juta orang di Indonesia. Setiap tahunnya, diperkirakan 20 juta muslim Syiah dari seluruh dunia melakukan ziarah ke makam Imam Husain yang terletak di Karbala, Irak.
Dalam Risalah Amman yang dihadiri ratusan ulama dan para pemimpin negara, disepakati bahwa Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah merupakan bagian dari keanekaragaman mazhab dalam Islam. Dari total pemeluk Syiah, kebanyakan merupakan Syiah Imamiyah dan sisanya adalah Syiah Zaidiyah, yang ajarannya lebih mirip dengan Sunni.
Dari penelusuran di internet, tradisi Asyura memang menjadi salah satu ritual besar dalam tradisi Muslim Syiah. Populasi jumlah Muslim Syiah di seluruh dunia diperkirakan mencapai 150 juta sampai 200 juta orang, termasuk 2,5 juta orang di Indonesia. Setiap tahunnya, diperkirakan 20 juta muslim Syiah dari seluruh dunia melakukan ziarah ke makam Imam Husain yang terletak di Karbala, Irak.
Dalam Risalah Amman yang dihadiri ratusan ulama dan para pemimpin negara, disepakati bahwa Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah merupakan bagian dari keanekaragaman mazhab dalam Islam. Dari total pemeluk Syiah, kebanyakan merupakan Syiah Imamiyah dan sisanya adalah Syiah Zaidiyah, yang ajarannya lebih mirip dengan Sunni.
Menurut Prof Dr KH
Quraish Shihab, perbedaan mendasar Sunni dan Syiah hanya terletak pada
imamah atau kepemimpinan. Syiah hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi
Thalib sepeninggal Rasulullah Saw, dan dilanjutkan oleh sebelas
keturunannya, termasuk Imam Husain. Karena itu, mereka disebut Syiah Ali
atau pengikut Imam Ali.
Mainsource : http://id.abna24.com/service/indonesia/archive/2016/10/16/785963/story.html
Inilah Thoriqoh Alawiyin dan Nasehat Habib Abu Bakar al-Adni Yaman
SALAFYNEWS.COM, JAKARTA
– Setiap kali Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur berkunjung ke
Indonesia, beliau seolah menyirami dan menghilangkan dahaga batin kita
semua. Di tengah kondisi keislaman yang carut-marut, lalu-lalang fitnah
dan tuduhan serta cap sesat, kebencian pada sesama saudara Muslim, dan
berbagai kemunduran keberislaman itu, beliau hadir di tengah-tengah kita
mengingatkan tentang pesan-pesan utama Islam sebagai agama rahmat dan
cinta. Salah satunya dalam kunjungan kedua beliau ke Indonesia pada awal
2016 ini. (Baca: Peran Dakwah Damai Habaib Di Nusantara)
Berikut ini petikan nasihat beliau yang sungguh meneduhkan:
Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra., yaitu thoriqoh yang di saat berkuasa tidak menjajah dan tidak merasa berkuasa.Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Hasan ra., yaitu thoriqoh yang mengalah untuk kebaikan umat Islam.Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Husain ra., yaitu thoriqoh yang berani melawan kemungkaran hinggga tetes darah penghabisan.Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali Zainal Abidin ra., yaitu thoriqoh yang pemaaf dan tak pendendam kepada orang yang telah membunuh keluarganya di depan mata beliau sendiri.
Thoriqoh ‘Alawiyah yang dipegang,
dijaga, dilestarikan, dan diwariskan turun temurun oleh para Saadah
‘Alawi (Habaib) adalah thoriqoh yang bersambung pada Nabi Muhammad SAW
melalui jalur Ahlul Bait (Keluarga Nabi). Thoriqoh ini bukan hanya
bersambung pada Nabi melalui Keluarga Nabi melalui jalur sanad, tapi
juga nasab. Thoriqoh ini adalah jalan akhlak untuk mencapai keridhoan
Allah, Rasul dan Keluarganya. Jalan itu hanya diisi oleh cinta. (Baca: Menjawab Kritikan Ust Felix Siauw “Wahabi-Salafy” Tentang Dakwah Para Wali dan Habaib)
Habib Abu Bakar dalam perkataannya itu
sedikit merinci thoriqoh itu dengan karakteristiknya yang diambil dari
karakteristik Keluarga Nabi. Dimulai dari Sayyidina Ali ra., meneladani
karakteristik beliau, thoriqoh ini tak pernah menganggap kekuasaan milik
manusia, siapapun mereka. Melainkan milik Allah. Karena itu, ketika
kekuasaan kita pegang, maka kekuasaan itu harus digunakan untuk menebar
cinta-kasih pada manusia yang berada dalam kekuasaan kita, sebagaimana
Allah yang menebar rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan menegakkan
Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya lil Muslimin. Kekuasaan
itu ‘pun dipegang dan dijalankan dengan prinsip dasar kekuasaan-Nya,
yakni keadilan. Berlaku adil bahkan kepada orang yang menentang
kekuasaan kita dengan cinta-kasih, bukan menindas mereka. Karena
penindasan takkan pernah bisa menjadi jalan keluar. Mereka yang
menentang justru dirangkul dengan lembut agar juga masuk dalam thoriqoh
ini.
Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Hasan ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh-nya, yakni meletakkan kepentingan (maslahat) umat Islam di atas kepentingan pribadi atau golongan kita. Jangan sampai hanya karena egoisme pribadi atau golongan kita, ukhuwah umat Islam terkoyak dan tergadaikan.
Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan
dengan karakteristik Sayyidina Husain ra. sebagai ciri selanjutnya dari
thoriqoh-nya, yakni thoriqoh yang pantang hina: baik diri maupun agama.
Siap berdiri di barisan terdepan demi harga diri Islam. Dan harga diri
Islam paling utama adalah maslahat dan ukhuwah umat Islam, sebagaimana
menjadi karakteristik Sayyidina Hasan ra.. Adapun mengacu pada
karakteristik Sayyidina Ali ra. dan hadis Qudsi, di sini kita tak pernah
takut sedikit ‘pun pada kekuasaan, selama kekuasaan itu bukan kekuasaan
Allah, karena hanya kekuasaan Allah ‘lah yang sejati dan abadi. Tak
peduli walau diri kita yang harus ditumbalkan, sebagaimana Sayyidina
Husain ra. yang rela syahid demi tegaknya agama Allah dan tumbangnya
rezim penindas. Karena itu, kita harus selalu mengingat perjuangan
Sayyidina Husain ra..
Terakhir, Habib Abu Bakar melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Ali Zainal Abidin ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh-nya, yakni kebesaran hati untuk selalu memaafkan dan tak pendendam bagi siapa saja yang telah mengoyak agama Allah atau menyakiti diri kita namun telah bertobat dan memohon maaf.
Itulah pelajaran dari nasihat Habib Abu
Bakar dalam kunjungannya ke Indonesia. Umat Islam Indonesia benar-benar
butuh akan nasihat itu untuk kita terapkan bersama agar ukhuwah dan
cinta-kasih bersemai di tengah-tengah umat Islam.
Akhirnya, kita harus selalu berdoa agar
sosok dan pikiran berbasis cinta-kasih seperti ini selalu ada di
tengah-tengah kita dan merasuk ke hati serta pikiran sebagai landasan
dalam keberislaman kita. Sehingga Islam menjadi agama perdamaian dan
penyemai ketenangan. (SFA)
Wawancara Media Indonesia dgn KH Mustofa Bisri:
Berlebihan itu Zalim
Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif. Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa.
Menurut Kantor Berita ABNA,
wartawan Media Indonesia, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai
karismatik KH. Ahmad Mustofa Bisri yang lebih sering disapa Gus Mus,
Jumat (14/10). Berikut ini petikan wawancaranya:
Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?
Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalah mana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.
Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.
Contohnya, Gus?
Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis. Akibatnya masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.
Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?
Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.
Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.
Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua.
Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.
Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?
Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.
Caranya belajar?
Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Alquran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Alquran dan Alhadis, tapi orang salah memaknai maksud itu.
Maksudnya?
Orang mengatakan kembali ke Alquran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Alquran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak.
Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Alquran tidak sama. Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badia dan Bayan karena Alquran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.
Jadi silakan mengatakan kembali ke Alquran dan hadis itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Alquran, atau 40 hadis di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!
Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?
Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!
Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?
Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Alquran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam, menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh.
Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif. Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa.
Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi. Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka.
Suporter Republik Islam Iran Peringati Asyura, Kala Timnasnya Jamu Korsel
Ratusan ribu suporter Iran memadati stadion dengan berpakaian serba hitam sembari membawa spanduk bertuliskan nama Imam Husain dan Who is Hussain. Hal tersebut terjadi pasalnya pertandingan berlangsung bertepatan dengan malam kesepuluh Muharram yang merupakan malam duka bagi rakyat Iran yang mayoritas muslim Syiah.
Menurut Kantor Berita ABNA,
terjadi fenomena unik dalam dunia sepak bola pada pertandingan
kualifikasi Piala Dunia 2018 antara timnas Iran menghadapi timnas Korea
Selatan yang dihelat di Azadi Stadium, Tehran selasa (11/10). Ratusan
ribu suporter Iran memadati stadion dengan berpakaian serba hitam
sembari membawa spanduk bertuliskan nama Imam Husain dan Who is Hussain.
Tidak hanya itu, ofisial Iran termasuk pelatih juga mengenakan kemeja
hitam dalam pertandingan tersebut. Hal tersebut terjadi pasalnya
pertandingan berlangsung bertepatan dengan malam kesepuluh Muharram yang
merupakan malam duka bagi rakyat Iran yang mayoritas muslim Syiah.
Malam sepuluh Muharram adalah
malam terakhir Imam Husain As yang gugur ke esokan harinya beserta
keluarga dan sejumlah sahabatnya di padang Karbala 10 Muharram tahun 61
H. Peristiwa terkenal dalam sejarah Islam dengan sebutan Tragedi Asyura.
Tiap tahun rakyat Iran memperingatinya dan menjadikan hari berkabung
nasional.
Fenomena lebih unik lagi terjadi
saat jeda. Ratusan ribu suporter Iran berdiri serentak sesaat seusai
wasit meniup peluit menandakan babak I berakhir sambil meneriakkan
yel-yel Labbaika yaa Husain dan menyanyikan syair-syair duka sembari
menepuk-nepuk dada. Diantara mereka terbentang spanduk-spanduk
bertuliskan nama-nama pahlawan Karbala.
Fenomena unik tersebut tentu
menjadi pengalaman baru bagi Timnas dan ofisial Korsel, pertama kali
terjadi di dunia sepakbola ribuan suporter membanjiri stadion bukan
untuk mengelu-elukan tim yang dibelanya melainkan menggemakan nama Imam
Husain ke seluruh dunia.
Pada pertandingan tersebut, Iran
mampu meraih poin penuh melalui gol semata wayang dari Sardar Azmoun
yang terjadi di babak pertama pada menit ke-24.
Sementara itu, pada pertandingan
lain yang berlangsung di Shahid Dastgerdi Stadium, Irak berhasil
menggunduli tamunya Thailand, dengan skor telak 4-0.
Klik video sepakbola Republik Islam Iran vs Korea Selatan di https://www.youtube.com/watch?v=gl2ubi7LjFU
BalasHapusdan ini juga teriakan al Husain menggema di stadion sepakbola, silahkan klik di https://www.youtube.com/watch?v=DaRKIzsyFWM
BalasHapusMaktam al Husain hingga Do'a Ziarah pun menggema di stadion sepakbola dari Supporter al Husain.. klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=zIfcU-ZTpC8
BalasHapusSupporter Republik Islam Iran di Stadion sepakbola serukan al Husain, silahkan klik videonya di sini https://www.youtube.com/watch?v=UIvXzv5iirU
BalasHapus