ini data di KPU anggota DPRD kota Banjarmasin :
Crop Picture dibawah ini memberikan contoh pengikut wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam yang ANTI dan BENCI Maulid, Haul, Ziarah Kubur dan Tawassul
Mahasiswa saja bisa"Dicuci Otak" oleh
wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam yang ANTI dan BENCI Maulid, Haul, Ziarah Kubur dan Tawassul, apalagi masyarakat awam.... hemmm... sungguh dahsyat... padahal cara berfikir kita gampang koq, kalau dimasyarakat Banua Banjar mengenal sekali dengan yang namanya "cimpedak", dengan kreatifitas dan tafsir warga banua banjar, cimpedak atau tiwadak bisa menjadi "Manday", bisa menjadi "Guguduh Tiwadak", bisa menjadi "Kolak Tiwadak" dan lain sebagainya tetapi semua sepakat bahwa Manday, Guguduh Tiwadak dan Kolak Tiwadak bukanlah Cimpedak atau tiwadak itu sendiri, akan tetapi gabungan berbagai kreatifitas atau tafsir seperti ditambah garam, tepung, gula merah, air dan lain sebagainya, begitu juga dengan Islam, ada yang menafsir dengan Predikat Islam Sunni, Islam Syi'ah bahkan "Islam" wahabi, akan tetapi mereka bukanlah ISLAM itu sendiri.... demikianlah tafsir kami www.edisimuharram.blogspot.com yang kami gunakan untuk membuat ummat Islam di Republik Indonesia khususnya Kalimantan Selatan memahami arti pentingnya perbedaan tanpa "Pemaksaan" yang penting tidak melanggar UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, PANCASILA dan NKRI.
wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam yang ANTI dan BENCI Maulid, Haul, Ziarah Kubur dan Tawassul, apalagi masyarakat awam.... hemmm... sungguh dahsyat... padahal cara berfikir kita gampang koq, kalau dimasyarakat Banua Banjar mengenal sekali dengan yang namanya "cimpedak", dengan kreatifitas dan tafsir warga banua banjar, cimpedak atau tiwadak bisa menjadi "Manday", bisa menjadi "Guguduh Tiwadak", bisa menjadi "Kolak Tiwadak" dan lain sebagainya tetapi semua sepakat bahwa Manday, Guguduh Tiwadak dan Kolak Tiwadak bukanlah Cimpedak atau tiwadak itu sendiri, akan tetapi gabungan berbagai kreatifitas atau tafsir seperti ditambah garam, tepung, gula merah, air dan lain sebagainya, begitu juga dengan Islam, ada yang menafsir dengan Predikat Islam Sunni, Islam Syi'ah bahkan "Islam" wahabi, akan tetapi mereka bukanlah ISLAM itu sendiri.... demikianlah tafsir kami www.edisimuharram.blogspot.com yang kami gunakan untuk membuat ummat Islam di Republik Indonesia khususnya Kalimantan Selatan memahami arti pentingnya perbedaan tanpa "Pemaksaan" yang penting tidak melanggar UUD 45, Bhineka Tunggal Ika, PANCASILA dan NKRI.
Tim www.edisimuharram.blogspot.com -Banjarmasin- "Mungkin", karena "Kurang Laku" atau "Kurang Percaya Diri" (Karena terdeteksi warga Banua Banjar sudah menjadi "Corong" wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi "tanpa sengaja" atau bahkan "Disengaja" tabloid Serambi Ummah yang dulu "jualan sendiri" sekarang terpaksa "Nebeng" Koran Banjarmasin Post di setiap hari Jum'at agar para pembaca Surat Kabar Banjarmasin Post "Dipaksa" menjadi pembaca Serambi Ummah, sungguh miris dengan menghadirkan berita FITNAH tanpa klarifikasi bahwa komunitas muslim syi'ah di Banjarmasin melakukan ritual "menyakiti diri" dalam acara Haul Sayidina Husain sang penghulu pemuda surga , caranya Tabloid ini yang "terduga" terdeteksi "Wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi, PEMBENCI Maulid, HAUL, Ziarah Kubur dan Tawassul" ingin "membenturkan" Islam Sunni dengan Islam Syi'ah yang sama-sama CINTA Maulid, Haul, Tawassul dan Ziarah Kubur dengan menghadirkan sumber dari anggota DPRD kota Banjarmasin Bapak Johansyah, padahal seharusnya sebagai "Pembuat Berita" wartawan Serambi Ummah "Dituntut" untuk bertabayun atau cek dan ricek agar berita seimbang. Namun Apa Daya, kalau hasutan KEBENCIAN selalu disematkan kepada sesama ummat islam dan ummat manusia terus dikobarkan, maka Persatuan Rakyat Republik Indonesia akan tergerus oleh sikap "Tidak Punya Toleransi".
Suka tidak Suka... Islam sekarang terbagi 3, yaitu Islam ala wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam (BENCI MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), Islam Sunni yang diwakili Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Indonesia (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), kemudian Islam Syi'ah yang diwakili Islam Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Islam Iran (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR)..... Jadi PILIH yang MANA ???? pilih pendukung teroris atau pendukung perdamaian seperti Republik Indonesia dan Republik Islam Iran ...?????!!!! (Bjm/07/10/2016/17:39wita/Tim www.edisimuharram.blogspot.com)
Suka tidak Suka... Islam sekarang terbagi 3, yaitu Islam ala wahabi salafi takfiri kerajaan arab saudi pendukung teroris isis sang penebar kebencian sesama ummat manusia dan ummat islam (BENCI MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), Islam Sunni yang diwakili Islam Sunni Syafe'i ala Indonesia yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Indonesia (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR), kemudian Islam Syi'ah yang diwakili Islam Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari yang dianut mayoritas penduduk dan pemerintah Republik Islam Iran (CINTA MAULID, HAUL,TAWASSUL dan ZIARAH KUBUR)..... Jadi PILIH yang MANA ???? pilih pendukung teroris atau pendukung perdamaian seperti Republik Indonesia dan Republik Islam Iran ...?????!!!! (Bjm/07/10/2016/17:39wita/Tim www.edisimuharram.blogspot.com)
Haram Melukai Diri dalam Acara Peringatan Asyura
Pandangan para ulama Syiah mengenai tatbir (melukai diri sendiri) pada peringatan Asyura, simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=ZH7btjKb1aI
Ulama Ahlussunnah Memperingati Kesyahidan Imam Husain as : Meski
Imam Husein bin Ali as syahid dengan begitu tragis, namun darah beliau
tidak mengalir sia-sia. Di balik itu, Imam Husein bin Ali sejatinya
telah meraih kemenangan. Beliau mengorbankan darahnya demi tegaknya
Islam. Beliau pun berhasil meraih misinya, dan mampu mempertahankan
Islam. Kini, umat Rasulullah saw serta semua orang yang mencintai
kebenaran dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan memperingati dan
mengenang kesyahidan serta perjuangan Abu Abdillah Al-Husain as. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=S9Y5nZVdzU0
Mampus Saudi = Mampus Israel
Jika anda menelanjangi cover keislaman dan kearaban Saudi, akan anda
lihat persamaan mereka dengan Zionis israel. Benarkah demikian? Mari
kita simak penjelasannya dalam video ini, klik https://www.youtube.com/watch?v=Kl3Ta0owlwE
Amerika Ditelanjangi!
Mayoritas masyarakat dunia memandang Amerika sebagai negara yang paling
kuat militernya, sehingga mereka membangga-banggakan ِAmerika dan merasa
aman serta kuat ketika menjalin kerjasama dengannya.
Namun lihatlah hakikat sebenarnya di dalam video ini, bagaimana Republik Islam Iran memberikan jawaban telak terhadap ancaman rendah Amerika. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=pBmXKkGnNVE
Namun lihatlah hakikat sebenarnya di dalam video ini, bagaimana Republik Islam Iran memberikan jawaban telak terhadap ancaman rendah Amerika. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=pBmXKkGnNVE
Kemudian Pawai Muharram di Bangil, Jawa Timur juga syarat dengan ujaran-ujaran kebencian, khususnya terhadap penganut mazhab Islam Syiah.
Di tengah-tengah pawai itu, berkibar bendera teroris yang paling berbahaya di dunia, ISIS. apakah gerakan anti-Syiah digunakan pintu masuk radikalisasi masyarakat Indonesia oleh kelompok-kelompok teroris?
Di tengah-tengah pawai itu, berkibar bendera teroris yang paling berbahaya di dunia, ISIS. apakah gerakan anti-Syiah digunakan pintu masuk radikalisasi masyarakat Indonesia oleh kelompok-kelompok teroris?
Agar jelas silahkan klik videonya di https://www.youtube.com/watch?v=VlC0YN3bBvw
Ahlussunnah wal Jama’ah "Dicuri" Wahhabi. Demikianlah ungkap Syaikh Ahmad
Syarif Al-Azhari, salah seorang ulama besar di Al-Azhar, Kairo – Mesir,
saat menanggapi kemarahan hebat para tokoh Wahhabi di negara-negara
Teluk, terutama di Arab Saudi, terhadap konferensi Ahlussunnah wal
Jama’ah di Grozni, Chechnya, 25 – 27 Agustus 2016, yang menyingkirkan
kaum Wahhabi Salafi Takfiri dari devinisi Ahlussunnah.
Bagaimana penjelasan Syaikh Ahmad Syarif Al-Azhari tentang ungkapan ini? Simak jawabannya di dalam video ini. Selamat menyaksikan, klik disini https://www.youtube.com/watch?v=2JaImIyu7FE
Bagaimana penjelasan Syaikh Ahmad Syarif Al-Azhari tentang ungkapan ini? Simak jawabannya di dalam video ini. Selamat menyaksikan, klik disini https://www.youtube.com/watch?v=2JaImIyu7FE
Sunnah - Syiah adalah dua sayap Islam. Inilah ungkapan yang sering disampaikan
secara berulang-ulang oleh Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Ahmad Thayyib di
berbagai tempat dan kesempatan. Tak terkecuali di Jerman, saat
kunjungannya ke parlemen Jerman, Grand Syaikh juga menegaskan kembali
ungkapannya tersebut.
Bahkan bukan hanya merupakan dua sayap untuk Islam, melainkan juga Sunnah - Syiah bersaudara dalam satu agama, demikian pernyataannya di hadapan parlemen Jerman, pada tanggal 15/03/2016.
Selamat menyimak videonya di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=RToFwstRJ6s
Bahkan bukan hanya merupakan dua sayap untuk Islam, melainkan juga Sunnah - Syiah bersaudara dalam satu agama, demikian pernyataannya di hadapan parlemen Jerman, pada tanggal 15/03/2016.
Selamat menyimak videonya di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=RToFwstRJ6s
Konferensi Ahlussunnah wal Jamaah di Grozny – Chechnya yang
diselenggarakan pada 25 – 27 Agustus 2016 telah dihadiri oleh lebih dari
200 ulama Sunni sedunia. Di antara yang hadir adalah Habib Umar bin
Hafidz, Syaikh Ali Jum’ah, Grand Syaikh Al-Azhar Dr. Ahmad Thayyib,
Habib Ali Jufri, Syaikh Osama Al-Azhari, Syaikh Dr. Taufik Ramadhan
Al-Buthi, dan ulama-ulama besar lainnya dari kalangan Ahlussunnah Wal
Jamaah.
Grand Syaikh Al-Azhar, di dalam sambutannya di acara pembukaan konferensi tersebut, Jumat (26/08/2016), menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mazhab Al-As’ariy, Al-Maturidi, Ash-Shufiyyah, dan Ahlulhadist yang kesemuanya tidak sembarangan dalam mengkafirkan, membid’ahkan, dan memfasikkan kaum Muslimin dari mazhab lain.
Imam Besar Al-Azhar ini mengecam kelompok-kelompok yang senang melakukan kejahatan dan menebarkan kebencian atasnama Ahlussunnah dan Salaf, seraya menyatakan bahwa Ahlusunnah Wal Jamaah berlepas diri dari kelompok-kelompok tersebut.
Masih banyak lagi hal yang telah disampaikan oleh Grand Syaikh saat pembukaan konferensi ini. Untuk lengkapnya, saksikan video berikut ini, di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=xpeqyKNUkgE
Grand Syaikh Al-Azhar, di dalam sambutannya di acara pembukaan konferensi tersebut, Jumat (26/08/2016), menegaskan bahwa Ahlussunnah wal Jamaah adalah mazhab Al-As’ariy, Al-Maturidi, Ash-Shufiyyah, dan Ahlulhadist yang kesemuanya tidak sembarangan dalam mengkafirkan, membid’ahkan, dan memfasikkan kaum Muslimin dari mazhab lain.
Imam Besar Al-Azhar ini mengecam kelompok-kelompok yang senang melakukan kejahatan dan menebarkan kebencian atasnama Ahlussunnah dan Salaf, seraya menyatakan bahwa Ahlusunnah Wal Jamaah berlepas diri dari kelompok-kelompok tersebut.
Masih banyak lagi hal yang telah disampaikan oleh Grand Syaikh saat pembukaan konferensi ini. Untuk lengkapnya, saksikan video berikut ini, di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=xpeqyKNUkgE
Muktamar Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah yang diadakan di Grozny, ibukota
Republik Chechen, menyepakati poin-poin yang intinya mengecam tindakan
kelompok ekstremis yang telah merusak citra Islam dan mencatut nama
Ahlussunnah Wal Jamaah.
Mereka menegaskan bahwa faham takfiri yang dicap sebagai "Neo Khawarij" ini, saksikan videonya disini tinggal klik https://www.youtube.com/watch?v=m0G2_xLPVZ8
Mereka menegaskan bahwa faham takfiri yang dicap sebagai "Neo Khawarij" ini, saksikan videonya disini tinggal klik https://www.youtube.com/watch?v=m0G2_xLPVZ8
Kekacauan-demi kekacauan dan syubhat demi syubhat yang dipopulerkan oleh
kalangan Salafy Wahabi dengan mengatasnamakan Islam, telah membuat
seluruh ulama muslimin di Dunia menjadi resah.
Bagaimana tidak? dalam ideologi Wahabi ini, orang dibentuk untuk menjadi Islam yang radikal dan ekstrim, sehingga banyak kejahatan dan kekejian yang lahir dari paham-paham Wahabi, lihat saja Isis, taliban, Al-Qaedah, An-Nushra dan Boko Haram yang semuanya lahir dari ideologi keras Wahabi, bermodalkan cover spiritual yang ekstrim pula mereka merendahkan solat dan puasa selain paham mereka.
Dalam video ini Dr. Ali Al-Jum'ah dalam momen salat Jum'at secara terang-terangan membuka kedok dan hakikat dari Wahabi (Khawarij Abad ini) dan mengutip hadis Rasulullah Saw dengan sebutan anjing neraka, karena sungguh benar Rasulullah Saw menyifati mereka demikian, karena tinak-tanduk dan perilaku mereka yang berbuat kekejian atas nama Allah, Rasulullah, dan agama lantas mereka berlaku keji kepada Mukminin dan Muslimin.
Hal ini merupakan salah satu usaha mulia beliau dalam memisahkan pemahaman masyarakat dari muslihat dan makar Wahabi dan beliau mencoba untuk membatasi antara Wahabi dengan Ahlusunnah.
Bagaimana tidak? dalam ideologi Wahabi ini, orang dibentuk untuk menjadi Islam yang radikal dan ekstrim, sehingga banyak kejahatan dan kekejian yang lahir dari paham-paham Wahabi, lihat saja Isis, taliban, Al-Qaedah, An-Nushra dan Boko Haram yang semuanya lahir dari ideologi keras Wahabi, bermodalkan cover spiritual yang ekstrim pula mereka merendahkan solat dan puasa selain paham mereka.
Dalam video ini Dr. Ali Al-Jum'ah dalam momen salat Jum'at secara terang-terangan membuka kedok dan hakikat dari Wahabi (Khawarij Abad ini) dan mengutip hadis Rasulullah Saw dengan sebutan anjing neraka, karena sungguh benar Rasulullah Saw menyifati mereka demikian, karena tinak-tanduk dan perilaku mereka yang berbuat kekejian atas nama Allah, Rasulullah, dan agama lantas mereka berlaku keji kepada Mukminin dan Muslimin.
Hal ini merupakan salah satu usaha mulia beliau dalam memisahkan pemahaman masyarakat dari muslihat dan makar Wahabi dan beliau mencoba untuk membatasi antara Wahabi dengan Ahlusunnah.
Saksikan videonya, klik disini https://www.youtube.com/watch?v=GohJ15w6Mw0
Secara dzahir kerajaan Saudi wahabi salafi takfiri mendeklarasikan kepada dunia bahwa dirinya sebagai
negara pemerintahan Islam, namun apa yang seharusnya Saudi sebagai
negara Islam yang berkontribusi besar terhadap negara-negara Islam
justru menjadi kawan,.mitra setia bahkan penjilat dan budak israel yang
sejak setengah abad lebih telah menjajah dan membantai rakyat Palestina
tanpa iba dengan menghalalkan segala cara.
Saudi memberikan sarana, fasilitas dan dukungannya kepada israel dalam memonopoli seluruh daratan Palestina yang mana dalam perjanjian tersebut menuntut banyak kepentingan bagi Saudi.
Lantas layakkah negara Islam berlaku baik dan santun kepada pembantai dan perusak Islam sementara Palestina yang sebagai negara Islam diabaikan dan disepelekan?, bahkan hanya sekedar menampakkan dukungan saja kepada Palestina Saudi tidak sudi melakukannya, seperti apakah gelagat perilaku Saudi sebenarnya?, mari kita dapatkan jawabannya disini, tinggal klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=bV1g5gAOLiM
Saudi memberikan sarana, fasilitas dan dukungannya kepada israel dalam memonopoli seluruh daratan Palestina yang mana dalam perjanjian tersebut menuntut banyak kepentingan bagi Saudi.
Lantas layakkah negara Islam berlaku baik dan santun kepada pembantai dan perusak Islam sementara Palestina yang sebagai negara Islam diabaikan dan disepelekan?, bahkan hanya sekedar menampakkan dukungan saja kepada Palestina Saudi tidak sudi melakukannya, seperti apakah gelagat perilaku Saudi sebenarnya?, mari kita dapatkan jawabannya disini, tinggal klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=bV1g5gAOLiM
Wahhabiyyah adalah sebuah sekte gerakan keagamaan di dalam Islam.
Gerakan ini dikembangkan oleh seorang teolog Muslim abad ke-18 yang
bernama Muhammad bin Abdul Wahhab dari Najd, Arab Saudi, yang bertujuan
untuk membersihkan dan menyempurnakan ajaran Islam kepada ajaran yang
sesungguhnya (menurut sekte ini) berdasarkan Qur'an dan hadis dari
"ketidakmurnian" seperti praktek-praktek bid'ah, syirik dan khurafat.
Bagaimana pandangan Syahid Allamah Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi ra ulama Sunni Suriah tentang Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte Wahabiyah ini? Simak penjelasan beliau ra di dalam video singkat ini. Selamat menyaksikan diklik disini https://www.youtube.com/watch?v=4oP2AcQEJbA
Bagaimana pandangan Syahid Allamah Syaikh Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi ra ulama Sunni Suriah tentang Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri sekte Wahabiyah ini? Simak penjelasan beliau ra di dalam video singkat ini. Selamat menyaksikan diklik disini https://www.youtube.com/watch?v=4oP2AcQEJbA
Syeikh Al Jufri seorang ulama Islam Sunni menjelaskan tentang Rahim Ideologi wahabi melahirkan Ekstrimisme : Masing-masing kelompok dalam Islam pada hari ini berusaha melempar
tuduhan bahwa ISIS adalah kelompok dari madzhabnya, hal ini menjadi
trading topik di dunia, dimana ISIS muncul dalam beberapa tahun silam
dengan membawa nama Islam, dan berasal dari ajaran Islam yang statusnya
adalah agama yang luhur dan tidak dijangkau keluhurannya oleh agama
manapun.
Yang mana kelompok Isis telah berbuat kejahatan dan beragam kekejian lalu dari manakah ISIS berasal? Bagaimanakah Isis muncul? Doktrin apakah yang melahirkan pemikiran yang sedemikian ekstrimnya?, mari kita simak jawabannya pada video selengkapnya disini https://www.youtube.com/watch?v=L6YueHi8_18
Yang mana kelompok Isis telah berbuat kejahatan dan beragam kekejian lalu dari manakah ISIS berasal? Bagaimanakah Isis muncul? Doktrin apakah yang melahirkan pemikiran yang sedemikian ekstrimnya?, mari kita simak jawabannya pada video selengkapnya disini https://www.youtube.com/watch?v=L6YueHi8_18
Teroris ISIS PUTIH dan Teroris ISIS HITAM : Kesamaan doktrin agama Wahabi yang dianut dan disponsori penyebarannya
oleh rezim Kerajaan Arab Saudi dengan doktrin yang dianut oleh ISIS
membuat para pengamat menyebut mereka berdua sebagai "ISIS Putih dan
ISIS Hitam". Keduanya merupakan rezim Wahabi-Takfiri yang berdiri atas
dasar pembantaian dan pengkafiran terhadap semua kelompok selain merek
sendiri.
Keduanya pun menerapkan sistem hukum "Syari'ah" versi mereka sendiri yang menindas rakyat kecil khususnya kaum minoritas, dan melindungi pejabat tinggi nya. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=9yTL1_6NEIo
Keduanya pun menerapkan sistem hukum "Syari'ah" versi mereka sendiri yang menindas rakyat kecil khususnya kaum minoritas, dan melindungi pejabat tinggi nya. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=9yTL1_6NEIo
Mengkafirkan sesama Muslim Bukan Ajaran Rasulullah : Kita ketahui bahwasannya Islam berdiri di atas 5 pilar, yakni: Syahadat,
Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji. Sehingga setiap yang masih meyakini
kelima hal tersebut adalah muslim dan tidak boleh dicederai
kemuslimannya terlebih memvonis kafir.
Tidaklah Rasulullah Saw diutus ke muka bumi ini melainkan hanya sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga yang mengikuti beliau pasti akan menjadi pribadi yang rahmat bagi sesama, sehingga perilaku yang mengganggu keamanan dan keselamatan seorang muslim baik dari segi lahiriyah maupun batiniah adalah golongan yang tidak mengindahkan ajaran Rasulullah sebagai umat beliau, mari kita simak petikan khutbah jumat dari Dr. Ali Jum'ah salah seorang ulama besar asal Mesir. Saksikan videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=Lfbfp8VV6KY
Tidaklah Rasulullah Saw diutus ke muka bumi ini melainkan hanya sebagai rahmat bagi alam semesta, sehingga yang mengikuti beliau pasti akan menjadi pribadi yang rahmat bagi sesama, sehingga perilaku yang mengganggu keamanan dan keselamatan seorang muslim baik dari segi lahiriyah maupun batiniah adalah golongan yang tidak mengindahkan ajaran Rasulullah sebagai umat beliau, mari kita simak petikan khutbah jumat dari Dr. Ali Jum'ah salah seorang ulama besar asal Mesir. Saksikan videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=Lfbfp8VV6KY
Musuh Memanfaatkan Ektrimisme Wahabi
Musuh Islam memanfaatkan simbol-simbol dan retorika-retorika keagamaan, terutama pada kelompok yang tidak merepresentasikan Syiah dan Ahlussunnah, yaitu kelompok Wahabiyyah. Musuh memanfaatkan kelompok Wahabiyah dan pemikiran Takfiri mereka untuk menyulut berbagai macam perselisihan diantara kaum muslimin. Simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=rcuO0PTDkqYWalikota Bogor Resmi Cabut SE Larangan Asyura
Setelah rangkaian persidangan dan proses mediasi di Pengadilan Negeri
Bogor, akhirnya Majelis Hakim memenangkan gugatan Yayasan Satu Keadilan
dan menghukum Walikota Bogor agar menaati kesepakatan yang tertuang
dalam Akta Perdamaian yang menyatakan bahwa Surat Edaran No.
300/1321-Kesbangpol tentang Himbauan Pelarangan Perayaan Asyura tidak
berlaku lagi, oleh karenanya tidak mempunyai kekuatan hukum. Keputusan
tersebut diketok palu Selasa 29/3 siang di ruang persidangan PN Bogor,
oleh Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hendra Halomoan, SH., MH., dengan
Hakim Anggota Luh Sasmita Dewi, SH., MH., dan Heru Wahyudi, SH., MH. silahkan klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=xy46hq1y5Io
Stop Radikalisme
Tidak lama setelah Presiden Joko Widodo memberikan instruksi khusus kepada Polri untuk menindak tegas pelaku intoleransi, dan SARA, pada Jumat 1 April 2016 sekelompok massa intoleran menggeruduk acara keagamaan. Sebelumnya, pada Kamis 31 maret, Presiden Jokowi telah memberikan arahan khusus kepada Kapolri untuk bertindak tegas terhadap hal-hal yang bersifat intoleransi. Namun, kelompok radikal masih membandel, contohnya pada hari Jumat 1/4, sekelompok radikal berusaha membubarkan acara peringatan kelahiran Sayyidah Fatimah putri Rasulullah SAW sembari meneriakkan yel-yel tentang kesesatan ajaran Syiah. klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=Hqn_zC_Ve98
Seharusnya sudah jelas bagi semua umat Islam bahwa cara paling efektif
yang digunakan musuh untuk melumpuhkan kebangkitan Islam adalah
menebarkan benih-benih perselisihan, memecah belah barisan, dan
menyibukkan kaum Muslimin dengan sesama mereka. Ini adalah penyakit yang
melalaikan umat dari persoalan-persoalan sejati mereka, terutama
persoalan Palestina.
Lebih lengkapnya, simak pemaparan Imam Ali Khamenei di dalam video singkat ini. Selamat menyimak. diklik disini https://www.youtube.com/watch?v=vZ-uCg_muIc
Lebih lengkapnya, simak pemaparan Imam Ali Khamenei di dalam video singkat ini. Selamat menyimak. diklik disini https://www.youtube.com/watch?v=vZ-uCg_muIc
Di tahun-tahun terakhir ini, isu sektarian Sunnah - Syiah santer
dibicarakan hampir di seluruh negeri-negeri Islam, tak terkecuali di
Indonesia. Lebih dari sekedar dibicarakan, di beberapa negeri Islam, isu
Sunnah - Syiah menjadi pemicu dan pembenaran sebagian kelompok untuk
melakukan kekerasan terhadap kelompok lain. Perpecahan di antara umat
pun tak terhindarkan. Setiap kelompok disibukkan untuk menyerang atau
mempertahankan diri dari serangan. Tentu saja kondisi ini sangat
menguntungkan kaum zionis dan kapitalis imperialis yang jelas-jelas
membenci dan memerangi Islam.
Menanggapi ini, Mufti Besar Suriah, Syaikh Dr. Ahmad Badruddin Hassun memperingatkan dengan keras Muslimin Sunnah - Syiah akan bahaya perselisihan dan perpecahan mereka.
Beliau mengingatkan bahwa musuh akan memanfaatkan keadaan seperti ini untuk terus menguasai dan melebarkan kekuasaan terhadap negeri-negeri muslim, terutama Palestina, A-Quds, dan Masjidil Aqsha.
Mari kita simak hikmah yang disampaikan oleh beliau di video ini https://www.youtube.com/watch?v=AcDt2zBV5u8
Menanggapi ini, Mufti Besar Suriah, Syaikh Dr. Ahmad Badruddin Hassun memperingatkan dengan keras Muslimin Sunnah - Syiah akan bahaya perselisihan dan perpecahan mereka.
Beliau mengingatkan bahwa musuh akan memanfaatkan keadaan seperti ini untuk terus menguasai dan melebarkan kekuasaan terhadap negeri-negeri muslim, terutama Palestina, A-Quds, dan Masjidil Aqsha.
Mari kita simak hikmah yang disampaikan oleh beliau di video ini https://www.youtube.com/watch?v=AcDt2zBV5u8
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang
paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat
seorang penolongpun bagi mereka. (QS. An-Nisa: 145)
Kita tentu pernah mendengar salah satu hadis Nabi saw yang sangat termasyhur di kalangan Sunni dan Syiah:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berkata, ia berdusta, apabila berjanji, ia mengingkari, dan apabila diberi amanat, ia berkhianat” (HR Bukhari)
Setiap Muslim, apapun mazhabnya, tentu akan berusaha sekuat tenaga menjauhi perbuatan ini. Jika tidak, status munafik akan terus disandangnya hingga dirinya bertobat atau sampai kematian menjemputnya. Padahal munafik itu adalah musuh dalam selimut bagi Islam dan kaum Muslim.
Sebagaimana diberitakan banyak media massa maupun media sosial, kunjungan beliau ke tanah air benar-benar memberi angin sejuk bagi umat Islam. Di depan Majelis Ulama Indonesia, misalnya, Prof. Thayyib berpesan agar senantiasa menjaga kedamaian dan kerukunan umat. Beliau bahkan menegaskan bahwa Sunni dan Syiah adalah bersaudara.
Berikut sejumlah poin yang disampaikan beliau selama kunjungannya di Indonesia:
1. Hentikan konflik sectarian karena Sunni dan Syiah adalah bersaudara.
2. Persatuan umat Islam dimulai dari kalangan ulama.
3. Musuh-musuh Islam menginginkan umat saling berpecah belah.
4. Janganlah saling mengafirkan sesama Muslim.
Sayang, saat mayoritas umat Islam di Indonesia bersikap optimis dan menyambut positif ajakan ulama besar itu, segelintir pihak justru bersikap sebaliknya. Sebagian dari mereka berusaha menjelek-jelekkan beliau sebagaimana dilakukan pentolan yayasan al-Bayyinat. Sebagian lagi memelintir ucapannya. Bahkan beberapa di antaranya nekat mencatut nama Majelis Ulama Indonesia untuk menyangkal ajakan dan nasihatnya yang sangat berharga bagi kedamaian hidup dan persatuan umat Islam di tanah air.
Untuk lebih jelasnya silahkan menyaksikan di https://www.youtube.com/watch?v=ymxpJj6LHtQ
Kita tentu pernah mendengar salah satu hadis Nabi saw yang sangat termasyhur di kalangan Sunni dan Syiah:
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berkata, ia berdusta, apabila berjanji, ia mengingkari, dan apabila diberi amanat, ia berkhianat” (HR Bukhari)
Setiap Muslim, apapun mazhabnya, tentu akan berusaha sekuat tenaga menjauhi perbuatan ini. Jika tidak, status munafik akan terus disandangnya hingga dirinya bertobat atau sampai kematian menjemputnya. Padahal munafik itu adalah musuh dalam selimut bagi Islam dan kaum Muslim.
Sebagaimana diberitakan banyak media massa maupun media sosial, kunjungan beliau ke tanah air benar-benar memberi angin sejuk bagi umat Islam. Di depan Majelis Ulama Indonesia, misalnya, Prof. Thayyib berpesan agar senantiasa menjaga kedamaian dan kerukunan umat. Beliau bahkan menegaskan bahwa Sunni dan Syiah adalah bersaudara.
Berikut sejumlah poin yang disampaikan beliau selama kunjungannya di Indonesia:
1. Hentikan konflik sectarian karena Sunni dan Syiah adalah bersaudara.
2. Persatuan umat Islam dimulai dari kalangan ulama.
3. Musuh-musuh Islam menginginkan umat saling berpecah belah.
4. Janganlah saling mengafirkan sesama Muslim.
Sayang, saat mayoritas umat Islam di Indonesia bersikap optimis dan menyambut positif ajakan ulama besar itu, segelintir pihak justru bersikap sebaliknya. Sebagian dari mereka berusaha menjelek-jelekkan beliau sebagaimana dilakukan pentolan yayasan al-Bayyinat. Sebagian lagi memelintir ucapannya. Bahkan beberapa di antaranya nekat mencatut nama Majelis Ulama Indonesia untuk menyangkal ajakan dan nasihatnya yang sangat berharga bagi kedamaian hidup dan persatuan umat Islam di tanah air.
Untuk lebih jelasnya silahkan menyaksikan di https://www.youtube.com/watch?v=ymxpJj6LHtQ
Terorisme atas nama agama pasti punya asal usul. Di masa ini, ajaran
kekerasan lewat cara-cara teror yang menghalalkan segala cara itu
utamanya bersumber dari kecenderungan untuk mengafirkan pihak atau
mazhab lain yang seagama. Istilah populernya, TAKFIRISME. simak ulasannya di https://www.youtube.com/watch?v=eqa2-o5GnMY
Ciri-ciri Syiah TAKFIRI dan Sunni TAKFIRI : Agenda utama musuh adalah menebar perselisihan di tengah kaum muslimin
dan permusuhan di antara pengikut berbagai madzhab Islam. Dengan cara
ini, musuh bisa menyibukkan umat dan memalingkan perhatiannya dari
agenda sebenarnya yang dirancang oleh musuh, yaitu kaum kapitalis bejat
dan kaum zionis keji yang merampas negeri bangsa lain. simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=xCW5K_s7Q-M
Syiah Lebih Mengutamakan Ziarah Imam Husain daripada Ziarah Nabi Saw ??
Sudah menjadi tradisi Syiah memperingati kesyahidan Imam Husain as
dengan mengadakan majelis-majelis duka dan berziarah kepadanya terutama
di hari Asyura (10 Muharram) yang merupakan hari kesyahidan beliau, dan
di hari Arbain (hari ke-40 dari kesyahidan beliau).
Apakah hal tersebut mengindikasikan bahwa Syiah lebih mengutamakan Imam Husain as di atas Nabi Saw, Imam Ali as dan para Imam lainnya?
Inilah jawaban ringkas Syaikh Asad Muhammad Qosir atas pertanyaan tersebut. Selamat menyimak. di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=0UqVL8ujeT0
Apakah hal tersebut mengindikasikan bahwa Syiah lebih mengutamakan Imam Husain as di atas Nabi Saw, Imam Ali as dan para Imam lainnya?
Inilah jawaban ringkas Syaikh Asad Muhammad Qosir atas pertanyaan tersebut. Selamat menyimak. di klik disini https://www.youtube.com/watch?v=0UqVL8ujeT0
Sering kali kita mendengar pandangan-pandangan atau ulasan-ulasan
mengenai perjuangan Al-Husain as beserta keluarga dan para sahabatnya di
padang Karbala.
Pandangan tentang keindahan Islam yang ditampilkan Al-Husain tentang arti kesetiaan, keberanian, kesyahidan, dan pengorbanan, benar namun semua itu kita dengar dari lisan-lisan orang-orang yang notabenenya adalah muslim.
Semboyan bahwa Al-Husain bukan milik satu golongan, madzhab, ras, suku, bangsa ataupun agama. Memang benar adanya, faktanya perjuangan Al-Husain mengundang setiap pribadi yang hendak mengenal norma-norma dan martabat serta kehormatan sebagai manusia. Disinilah titik pertemuan dari indahnya orkes yang dipersembahkan oleh Abul Ahraar pemuka para Syahid Al-Imam Husain as.
Pernahkan anda mendengar arti kesetiaan, keberanian, kesabaran, kekuatan, kemenangan dari pandangan kristen?, dari pandangan yang berbeda dari golongan dan keyakinan anda. Mari kita saksikan selengkapnya klik di https://www.youtube.com/watch?v=YH9KTpT-yHM
Pandangan tentang keindahan Islam yang ditampilkan Al-Husain tentang arti kesetiaan, keberanian, kesyahidan, dan pengorbanan, benar namun semua itu kita dengar dari lisan-lisan orang-orang yang notabenenya adalah muslim.
Semboyan bahwa Al-Husain bukan milik satu golongan, madzhab, ras, suku, bangsa ataupun agama. Memang benar adanya, faktanya perjuangan Al-Husain mengundang setiap pribadi yang hendak mengenal norma-norma dan martabat serta kehormatan sebagai manusia. Disinilah titik pertemuan dari indahnya orkes yang dipersembahkan oleh Abul Ahraar pemuka para Syahid Al-Imam Husain as.
Pernahkan anda mendengar arti kesetiaan, keberanian, kesabaran, kekuatan, kemenangan dari pandangan kristen?, dari pandangan yang berbeda dari golongan dan keyakinan anda. Mari kita saksikan selengkapnya klik di https://www.youtube.com/watch?v=YH9KTpT-yHM
Habib Ali Zainul Abidin Al-Jufri mengingatkan bahwa setiap bentuk
provokasi antara sunnah dan syiah tidak akan menguntungkan siapapun
kecuali pihak musuh yang menginginkan terjadinya peperangan antara Sunni
dan Syiah.
Habbib juga menyayangkan sebagian orang berpakain ulama Syiah yang memobilisasi orang-orang awam Syiah untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok Ahlussunnah demikian juga sejumlah orang berpakaian ulama Ahlussunnah memobilisasi orang-orang awam Ahlussunnah untuk melakuakan penyerangan terhadap Syiah. Simak videonya di sini https://www.youtube.com/watch?v=TE46aB1LEZo
Habbib juga menyayangkan sebagian orang berpakain ulama Syiah yang memobilisasi orang-orang awam Syiah untuk melakukan penyerangan terhadap kelompok Ahlussunnah demikian juga sejumlah orang berpakaian ulama Ahlussunnah memobilisasi orang-orang awam Ahlussunnah untuk melakuakan penyerangan terhadap Syiah. Simak videonya di sini https://www.youtube.com/watch?v=TE46aB1LEZo
Hujjatul islam wal muslimin Falah Zadeh (Perwakilan Imam Ali Khamenei
dalam urusan fatwa) menjelaskan fatwa Imam Ali Khamenei perihal haramnya
mencela symbol-simbol yang disucikan mazhab lain, berikut ini
penjelasannya. simak videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=8VbxIhet5Vk
Teroris dan Wahhabi
Banyak kelompok-kelompok radikal yang bercover Islam, mengedepankan
cover cover Islam yg bukan pokok dan prinsip, namun mengklaim sebagai
pemeluk islam sejati, dan di tengah-tengah gerakan Islam ini yang
notabenenya gerakan prematur memiliki dukungan yang besar dari dalang
kemunculan kelompok-kelompok tersebut, siapakah ibu dari bayi-bayi
radikal yg sok Islamis?, siapakah baby sitter balita-balita ekstrim
yang sok Islamis?, siapakah pengasuh gerakan tersebut dan apa tujuannya?
Mari kita simak selengkapnya disini https://www.youtube.com/watch?v=Y4viOdIUjak
Untuk
Harmonisnya Islam Syi'ah dan Islam Sunni Banjarmasin lewat Seminar bertajuk Ukhuwwah/Persaudaraan bikin Zionis Takfiri Wahabi Salafi "Ngaku Islam" tambah Marah...eng..ing..eng...!!!!! Selamat Natal bagi yang merayakannya (Pasti Zionis Takfiri Wahabi Tambah Marah)...eng ing eng...
Team Buletin MPR-Banjarmasin- Hari ini Rabu tanggal 24 Desember 2014 atau bertepatan dengan 2 Rabiul Awwal 1435 H diadakan Seminar Ulama "Merajut Ukhuwwwah & Toleransi Umat Beragama" dengan Topik : Peringatan Asyura dalam Perspektif Syi'ah dan Muhammadiyah (Tinjauan Normatif, Historis dan Sosiologis), yang mana dalam Banner didalam Ruang Seminar terpampang tulisan sebagai Narasumber adalah Dr.H.Muhsin Labib (Ketua DPP Ahlulbait Indonesia), namun yang hadir adalah salah satu Tokoh Ulama Muda Islam Syi'ah asal Pekalongan Jawa Tengah yaitu Sayyid / Habib Thoha Al-Musawwa lulusan kota pelajar Qum Negara Republik Islam Iran dan Prof.Dr.Ahmad Khairuddin,M.Ag Ketua DPD Muhammadiyah Provinsi Kalimantan Selatan.
Sebenarnya dari Jam 8 pagi Team Buletin MPR sudah berada dilokasi Acara Seminar yang dikatakan akan digelar di Gedung Serba Guna / Aula / Auditorium Masjid Raya Sabilal Mukhtadin Banjarmasin, namun ternyata Acara Seminar di gelar di Ruang Kantor MUI Kalimantan Selatan yang terletak diseberang Gedung Serba Guna / Aula / Auditorium Masjid Raya Sabilal Mukhtadin Banjarmasin sekitar pukul 11 Wita siang.
Dan sebagai info tambahan, sebelum Seminar digelar, paginya ada warga Banua Banjar yang melangsungkan Akad Nikah di dalam Ruang Induk Mesjid Raya Sabilal Mukhtadin Banjarmasin, bahkan dari pantauan team Buletin MPR, Ulama Muda Islam Wahabi Salafi yaitu Khairullah,LC ikut menghadiri acara Akad Nikah tersebut.
Sungguh disayangkan, ulama-ulama Wahabi Salafi yang menjadi Pengasuh Tetap Mesjid Imam Syafe'i (Pengikut Imam Syafe'i Indonesia MENYUKAI Acara Tahlil, Haulan dan Maulidan, tetapi Pengasuh Mesjid ini dengan menamakan Masjidnya Imam Syafe'i mencoba menipu masyarakat dengan MEMBENCI acara Haul, Tahlilan dan Maulidan...ckckckck...kenapa Mesjidnya tidak ganti nama aja jadi Mesjid Wahabi Salafi..????) yang beralamat di jalan Komplek AMD km 7 Banjarmasin seperti Khairullah,LC dan Ahmad Zainuddin, LC yang sering mengkafirkan Islam Syi'ah TIDAK HADIR dalam seminar ini. (Biasa..^_^... ulama-ulama salafi wahabi biasanya Hadir & Menghakimi hanya ketika Ulama-ulama Islam Syi'ah atau Ulama-ulama Islam Sunni Tidak diHadirkan / Penghakimam Sepihak tanpa klarifikasi, contoh masih ingatkan Penghakiman terhadap Islam Syi'ah di Mesjid Hasan Majedi jalan Kayutangi Banjarmasin yang notabene Mesjid yang dimiliki orang-orang Muhammadiyah..Ironis...)
Namun dalam Seminar hari ini sungguh mengagetkan, pemaparan Islam Sunni dari Muhammadiyah yang di wakili oleh Prof.Dr.Ahmad Khairuddin,M.Ag Ketua DPD Muhammadiyah Provinsi Kalimantan Selatan berkesan Pembelaan terhadap Islam Sunni dan membawa Persaudaraan terhadap Islam Syi'ah, sungguh memukau audience yang hadir, sampai-sampai beliau mengatakan hanya Negara Republik Islam Iran yang Islam Syi'ah lah yang berani menentang Hegemoni Barat dan mewakili Islam dalam capaian Tekhnologi Nuklir untuk Damai, apalagi dengan penerapan Sistem Wilayatul Faqih negara Iran, dimana Ulama disana adalah Penentu Politik dan Permasalahan Agama.
Selain itu Al-Habib Abdillah Ba'bud yang merupakan satu perwakilan Komunitas Islam Syi'ah di Banjarmasin memaparkan secara gamblang tentang Penentangan-penentangan yang dilakukan oleh orang-orang dekat dari Orang yang di Pilih Allah SWT. Seperti Nabi Adam yang mempunyai Anak Habil & Qabil, yang satu mengikuti Nabi sedangkan satunya mengikuti Iblis, Nabi Nuh setelah sekian lama berdakwah dan ummat yang banyak, hanya mendapatkan 1 (Satu) kapal Bahtera Keselamatan, Nabi Ya'qub yang mempunyai anak-anak yang mengincar kematian saudaranya Nabi Yusuf as. Hingga setelah wafatnya Nabi Muhammad, orang-orang yang mengaku Islam pun tega Mencincang dan Membunuh salah satu Penghulu Pemuda Surga dan salah satu cucu kesayangan Nabi Muhammad Saww..yaitu Sayidina Husain...oh sungguh tragis.
Yang jelas, pemaparan dari Ulama Muda Kharismatik Islam Syi'ah 12 Imam / Mazhab Jakfari Al-Habib Thoha Al-Musawwa yang berkesan Persaudaraan Islam Syi'ah dan Islam Sunni lebih diutamakan, sebenarnya memancing banyak pertanyaan dari Peserta Seminar yang hadir, namun apa daya, mengingat terbatasnya waktu dan juga adanya kegiatan lanjutan dari Ketua MUI Kalimantan Selatan Haji Makkie dan staff setelah sholat Zuhur ditempat lain, maka Moderator pun akhirnya menutup acara menjelang Sholat Zuhur. Namun sebelum ditutup salah seorang peserta seminar yang merupakan perwakilan Anggota DPRD Kalimantan Selatan pun berujar untuk mengingatkan Panitia Seminar, agar lebih panjang membikin program Acara Seminar dan agar lebih lebih lengkap menghadirkan Nara Sumber, baik dari NU, Muhammadiyah, Syi'ah, Sunni, bahkan Salafi Wahabi, serta berharap Acara seminar semacam ini terus diprogramkan atau dijadwalkan.
Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
- Ketua Umum Masjid Imam Syafi’i Banjarmasin Kalsel
- Dai Islamic Center Damman, Saudi Arabia (2005-2013)
- Alumnus S1 Universitas Islam Madinah, Fak Hadits
Ustadz Ahmad Zainuddin Lc, pengasuh Mesjid "Takfiri Wahabi Salafi" Imam Syafe'i Banjarmasin
dan Pembicara Ustadz Zezen Zainal Mursalin, Lc
serta Ustadz Khairullah,Lc :
Buku Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syi'ah di Indonesia "DITANTANG" Buku Putih Mazhab Syiah sebagai Pembanding..!!!!!
Buku Kecil,"Mengapa Saya Keluar dari
Syiah" di JAWAB TUNTAS dengan Buku Tebal, "Demi Allah Junjunglah
Kebenaran", Hayo BERANI BACA tidak...!!!!!
INI BUKAN menyebar KEBENCIAN...Tapi
KRITIKAN...kalau memang sesama ummat ISLAM kenapa saling TAKUT bahkan
berteman dengan MUSUH ISLAM....!!!!!!!!!
Seminar ini dihadiri juga para Intel dari Polresta Banjarmasin, LDII, Hizbutahrir dan Warga dari kalangan Akademisi dan Non Akademisi.
Sesi Foto bersama dan sedikit wawancara bersama Moderator acara Seminar pun dilaksanakan setelah usainya acara tersebut. Oleh-olehnya dari Kegiatan MUI Kalimantan Selatan adalah uang saku senilai Rp.50.000,- , Nasi Kotak dan Kalender dari MUI Kalimantan Selatan.
Liputan dari Media Cetak, Radio dan Elektronik seperti TV pun hampir tidak ada, padahal Gaung Ukhuwwah / Persaudaraan Islam Sunni & Islam Syi'ah seperti ini mestinya disiarkan kesemua lapisan masyarakat agar tercerahkan dan tidak mudah diadu domba oleh para ulama-ulama karbitan yang hanya ingin Islam terpecah-belah.
Kesan Pertama Sungguh Menggoda, akankah Islam Sunni dan Islam Syi'ah Kalimantan Selatan akan terus berukhuwwah / bersaudara ditengah Propaganda dan Adu domba Zionis Takfiri Wahabi Salafi yang menginginkan Islam Syi'ah dan Islam Sunni "Bentrok"..?????!!!! Semoga persaudaraan ini terus berlanjut, sehingga tidak mudah terprovokasi satu sama lain.....amin ya rabbal 'allamin. (24/12/2014/ffm/ra/ynk/r/bjm)
Dua Ustaz Memaknai Asyura
Masih teringat beberapa hari menjelang Asyura tahun lalu, ada dua momen
kontradiktif yang saya alami di masjid kampus dalam waktu hampir
berdekatan. Ketika khotbah Jumat, seorang ustaz yang namanya saya lupa,
menyampaikan ceramah mengenai pentingnya taqrib Sunni-Syiah.
Sejenak hampir saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Mungkin
kuping ini menipu atau saya dalam kondisi setengah sadar setelah
menggarap laporan penelitian lapangan, “Masak iya khatib ini berani
menyampaikan materi soal pentingnya taqrib di lingkungan yang didominasi
kalangan ‘keras,’” pikir saya sembari menelisik lebih dekat siapakah
sang khatib luar biasa itu. Dia sampaikan materinya dengan intonasi
tegas namun lembut, argumentatif, mengajak hadirin agar tidak terkecoh
oleh ulah segelintir kalangan yang hendak mempertajam skisma Sunni-Syiah
di Tanah Air.
Disampaikan pula bahwa kesamaan Tuhan, kitab, dan rasul terakhir,
sudahlah cukup untuk meyakinkan bahwa dua mazhab sepuh ini lebih banyak
persamaan ketimbang perbedaannya. Lalu pada khotbah kedua sang khatib
berpesan bahwa jika Syiah memperingati Asyura dengan kedukaan atas
syahidnya Imam Husein sedangkan di sisi lain kaum Sunni berpuasa sebagai
wujud syukur, hal demikian tidaklah perlu diperdebatkan mengingat
kesucian hari kesepuluh di bulan Muharam tersebut dapat dimaknai secara
beragam. Duhai, indah nian jika semua mubalig seperti beliau menyeru
pada persatuan umat. Namun setelahnya, saya tak pernah lagi melihat
beliau mengisi khotbah di masjid kampus.
Beberapa hari setelahnya ketika kalender Hijriyah jatuh pada 10 Muharam,
sebuah peristiwa yang 180 derajat berbeda dari hari Jumat sebelumnya
terjadi di masjid yang sama. Selepas shalat Ashar saya memutuskan
mengobrol sejenak dengan beberapa adik angkatan. Di dalam, tengah
berlangsung kajian mengenai keutamaan hari Asyura yang dihelat oleh
lembaga dakwah kampus menghadirkan seorang ustaz. Terlihat sekitar 10
jemaah laki-laki dan perempuan, saya tertarik mendengarkannya dari luar
sembari berbincang.
Mulanya tidak ada keanehan ketika sang ustaz menyampaikan keutamaan
Asyura, namun tiba-tiba di tengah ceramahnya ia berkata, “Asyura itu
hanya milik kaum Sunni saja. Tidak berhak jika kaum Syiah ikut mengklaim
merayakan Asyura dengan meratap, melakukan ritual-ritual sesat,
mengedepankan kesedihan untuk Husein.” Hadirin pun hanya manggut-manggut
seolah mengamini ustaz tersebut. Baiklah, sesi ceramah ini sudah tidak
sehat lagi, pikir saya sambil berpamitan untuk segera pulang.
Beberapa Pelajaran
Apa pelajaran yang bisa ditarik dari dua peristiwa di atas? Asyura
sebagai sebuah hari bersejarah merupakan ujian bagi alim ulama di masa
sekarang untuk bersikap arif mendewasakan umat dalam melihat perbedaan.
Mari kita lihat pada contoh ustaz pertama. Beliau tidak menyalahkan
tradisi berpuasa sunnah pada hari tersebut, namun juga tidak menafikan
fakta historis bahwa pada 10 Muharam 61 Hijriyah silam telah terjadi
tragedi pilu pembantaian keturunan suci Rasulullah di sahara Karbala.
Ini adalah langkah yang baik untuk mengenalkan kepada publik –yang saya
yakin- sebagian besar masih belum pernah mendengar momen duka bagi
seluruh penghuni langit dan bumi yakni kisah heroik syahidnya 72 manusia
pilihan di hari Asyura.
Barangkali ustaz penganjur taqrib ini hendak mengamalkan amanat Bung
Karno kepada bangsa Indonesia untuk tidak melupakan sejarah. Lebih dari
itu, ustaz merangkap khatib ini secara implisit seperti hendak berpesan
bahwa tidak perlu untuk menjadi seorang Syiah untuk dapat memahami makna
Asyura dan Karbala. Asyura bersifat universal. Momen duka, cinta, dan
epos kepahlawanan yang menyelimutinya tidak dibatasi oleh mazhab.
Tidak jadi soal jika berpuasa, tetapi setidaknya ingatlah pula lewat
saudara-saudara Syiah bahwa Asyura menyimpan sejarah berdarah
kebangkitan Imam Husein, kira-kira demikian yang mampu saya
interpretasikan dari khotbah Jumat itu.
Bagaimana dengan contoh ustaz kedua? Bukan bermaksud menyinggung, namun
setidaknya dari beliau kita dapat mengambil i’tibar bahwa tidaklah bijak
jika Asyura sebagai hari yang memiliki nilai sejarah dalam tradisi
keIslaman diklaim sepihak milik mazhab tertentu sedangkan mazhab lain
tidak boleh memaknai dan menghidupkannya.
Ini sama saja ibarat melarang dua kelompok yang sama-sama
berkewarganegaraan Indonesia merayakan 17 Agustus sebagai hari
kemerdekaan hanya karena alasan etnisitas yang berbeda, sebagai
contohnya.
Lebih lanjut, mengkhawatirkan jika kemudian tidak ada pendewasaan pada
pemikiran jemaah (yang semuanya adalah mahasiswa) untuk memahami sejarah
Asyura dari perspektif lain akibat doktrin sang ustaz. Seolah ada upaya
mengubur ingatan kolektif kaum muslimin tentang megatragedi yang
hampir-hampir memusnahkan mata rantai emas keturunan Rasulullah.
Jika hanya hal baik-baik saja yang ditonjolkan, bahkan diimbuhi dengan
klaim “versi sejarah paling valid dan paling berhak” untuk memperingati
10 Muharam, bagaimanakah umat ini di masa sekarang hingga yang akan
datang mampu mengenal hari saat darah, cinta, dan ketaatan Imam Husein
beserta pengikutnya mengalahkan pedang para penindas?
(Fikri/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/6097/dua-ustaz-memaknai-asyura/)
Simsalabim! Telah Lahir Pemersatu Umat Islam
Para agen distributor kebencian sektarian bak sopir angkot yang ngebut
mengejar setoran, melakukan apa saja yang mungkin untuk menyukseskan
mimpi meminjam tangan umat Islam di Indonesia untuk membasmi Syiah.
Beragam modus dan aneka cara ditempuh, mulai dari manipulasi foto,
video, orasi hate speech dengan kedok seminar dan bedah buku, menguasai
mesin pencari Google, hingga mengubah konten wikipedia terkait Syiah.
Umat pun dibodohi dengan menebar jargon sesat melalui pameran buku
“itu-itu juga” yang ditempeli beragam nama penerbit, sampai “bertaqiyah”
menggunakan atribut NKRI.
Gerombolan intoleran ini bahkan rela mempermalukan diri mengadakan acara
dan menggagas forum atau perkumpulan dengan nama heboh tapi abal-abal
seperti Aliansi Nasional Anti Syiah, yang ironisnya ternyata gagal
secara memilukan dan menggelikan.
Yang paling gres adalah terobosan spektakuler seorang dai intoleran yang
tiba-tiba mengatasnamakan umat Islam dengan kreasi nama baru “Koalisi
Umat Islam” untuk merambah dunia politik.
Melihat kekisruhan internal di beberapa parpol berbasis umat Islam,
gerombolan dai penganjur pensesatan dan pengkafiran Syiah ini ingin
memasuki dunia politik praktis dengan “gratis.”
Caranya mudah, cukup dengan mengklaim forum pengajian beberapa makhluk
pengkafir sebagai inisiator dari apa yang disebutnya sebagai
representasi desakan umat Islam arus bawah: mencari capres dan cawapres
Islam.
Eksploitasi simbol agama dan pencatutan nama umat Islam adalah modus
paling purba dalam hal merebut dan mempertahankan kekuasaan sebagaimana
diwartakan sejarah. Sementara di masa kini, pola semacam itu potensial
menjadi tiket gratis menguasai parpol-parpol Islam yang sedang kisruh,
gagap dan bingung menentukan pilihan.
Kondisi labil beberapa parpol itulah yang tampaknya hendak dimanfaatkan
seorang dai muda yang dikenal hiperaktif mengkampanyekan pensesatan
Syiah, untuk menjajal terjun ke rimba politik.
Selang tiga hari setelah melontarkan ide “Koalisi Umat Islam” di
bilangan Cikini, Jakarta, sang penggagas pun bergabung dalam parade para
tokoh intoleran yang memberikan semacam legitimasi genosida Syiah
dengan nama “Deklarasi Aliansi Nasional Anti Syiah” di Bandung. Padahal
saat menjawab pertanyaan salah satu wartawan dalam konferensi persnya di
Cikini, apakah Syiah termasuk bagian yang suaranya bakal diakomodir
dalam Koalisi Umat Islam, dia memberikan jawaban “taqiyah” bahwa koalisi
bentukannya siap mengakomodasi kelompok minoritas Islam manapun,
termasuk Syiah.
Rupanya dia mulai lihai dengan “languange game.” Meski terlihat rada
tertekan, dijajalnya beratraksi dengan dua kata “koalisi” dan “aliansi.”
Yang pertama menyimpan kehendak kekuasaan politik, dan yang kedua
menyimpan hasrat hegemoni teologis.
Orang yang tidak punya kiprah nyata dalam politik baik secara akademis
maupun empiris ini benar-benar terlihat ngotot berharap media mainstream
menyematkan atribut “tokoh nasional” kepadanya. Terbukti, dia sendiri
kelepasan menyebut dirinya “tokoh nasional” yang membawa aspirasi umat
Islam di beragam pelosok untuk memimpin partai-partai Islam atau yang
berbasis umat Islam. Dengan pokrolnya, dia terlihat under estimate
terhadap kecerdasan para pemimpin parpol Islam seraya mengaku bahwa
gagasan ini telah digodok oleh beberapa agamawan non NU alias bukan
Sunni aseli -yang tentu tidak menyebut satupun kyai terkemuka NU yang
memiliki ikatan historis dengan PPP dan PKB.
Dia berharap masyarakat tak bisa membedakan antara kyai dan ulama Sunni
asli yang toleran dengan ‘agamawan’ yang dikenal luas karena
mengharamkam hormat bendera.
Tapi semoga saja para pemimpin parpol Islam peka dan mampu mengendus
modus penetrasi politik aktor-aktor intoleransi yang begitu berani
mencatut nama universal umat Islam demi hasrat dominasi teologis dan
sektarianismenya sendiri, agar atribut “pemersatu umat” benar-benar
dapat dikenali, mana yang abal-abal dan mana yang sejati.
[ML/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/3223/simsalabim-telah-lahir-pemersatu-umat-islam/]
Sampai Kapan Indonesia Tersandera Kelompok Intoleran?
Meningkatnya
kasus pelanggaran hak atas kebebasan beragama dan berkeyakinan dari 39
berkas kasus pengaduan yang diterima oleh Komnas HAM pada tahun 2013 dan
naik menjadi 67 berkas kasus pada tahun 2014, sangat memprihatinkan
Komnas HAM.
Hal tersebut disampaikan oleh Jayadi Damanik, Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Komnas HAM dalam konferensi pers terkait laporan Komnas HAM atas pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, Selasa (23/12) di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat.
Jayadi menjelaskan kasus-kasus yang terjadi pada 2014 terdiri dari 30 berkas kasus tindakan penyegelan, perusakan atau penghalangan pendirian rumah ibadah, 22 berkas kasus lainnya terkait dengan tindakan diskriminasi, pengancaman, dan kekerasan terhadap pemeluk agama dan keyakinan tertentu. Sementara berkas kasus penghalangan terhadap ritual pelaksanaan ibadah terdapat 15 berkas kasus yang dilaporkan.
Sementara itu, M. Imdadun Rahmat, Komisioner Komnas HAM menyatakan dengan penegakan hukum seharusnya sudah cukup. Maka tidak ada imunitas, tidak ada pembebasan-pembebasan orang yang seharusnya ditangkap dan diadili.
Imdad berkeyakinan, jika penegakan hukum dilakukan dengan benar maka intoleransi dan tindakan kekerasan di Indonesia tidak akan terus berlanjut. Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa yang sangat penting bagi Komnas HAM adalah penegakan hukum.
“Jadi stop kekebalan hukum pada pelaku intoleransi, apalagi memberikan posisi istimewa kepada kelompok-kelompok intoleran yang suka melakukan tekanan massa dan politik,” tegasnya.
Komisioner Komnas HAM ini menyesalkan adanya sekelompok elit politik yang justru menjadikan kelompok-kelompok intoleran itu sebagai kawan bersekutu, sehingga kelompok intoleran memiliki nilai politik yang semakin tinggi. Akibatnya, mereka pun semakin sewenang-wenang untuk menekan dan membajak pemerintah-pemerintah daerah untuk memenuhi agenda-agenda intoleransi mereka.
“Jadi saat ini tidak boleh lagi ada pemerintah daerah yang tunduk dan patuh kepada kelompok-kelompok intoleran,” imbuhnya..
Komnas HAM juga menyampaikan harapannya bahwa tahun 2015 akan menjadi tahun penyelesaian atas berbagai kasus pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan yang sampai sekarang tidak terselesaikan.
Dengan kegigihan Komnas HAM untuk mendorong pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM atas kebebasan beragama dan berkeyakinan selama ini, akankah Indonesia benar-benar dapat terbebas dari sandera para intoleran pada tahun 2015 mendatang?(Lutfi/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/6705/sampai-kapan-indonesia-tersandera-kelompok-intoleran/)
Hal tersebut disampaikan oleh Jayadi Damanik, Koordinator Desk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Komnas HAM dalam konferensi pers terkait laporan Komnas HAM atas pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan, Selasa (23/12) di kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat.
Jayadi menjelaskan kasus-kasus yang terjadi pada 2014 terdiri dari 30 berkas kasus tindakan penyegelan, perusakan atau penghalangan pendirian rumah ibadah, 22 berkas kasus lainnya terkait dengan tindakan diskriminasi, pengancaman, dan kekerasan terhadap pemeluk agama dan keyakinan tertentu. Sementara berkas kasus penghalangan terhadap ritual pelaksanaan ibadah terdapat 15 berkas kasus yang dilaporkan.
Sementara itu, M. Imdadun Rahmat, Komisioner Komnas HAM menyatakan dengan penegakan hukum seharusnya sudah cukup. Maka tidak ada imunitas, tidak ada pembebasan-pembebasan orang yang seharusnya ditangkap dan diadili.
Imdad berkeyakinan, jika penegakan hukum dilakukan dengan benar maka intoleransi dan tindakan kekerasan di Indonesia tidak akan terus berlanjut. Oleh karena itu, dia menegaskan bahwa yang sangat penting bagi Komnas HAM adalah penegakan hukum.
“Jadi stop kekebalan hukum pada pelaku intoleransi, apalagi memberikan posisi istimewa kepada kelompok-kelompok intoleran yang suka melakukan tekanan massa dan politik,” tegasnya.
Komisioner Komnas HAM ini menyesalkan adanya sekelompok elit politik yang justru menjadikan kelompok-kelompok intoleran itu sebagai kawan bersekutu, sehingga kelompok intoleran memiliki nilai politik yang semakin tinggi. Akibatnya, mereka pun semakin sewenang-wenang untuk menekan dan membajak pemerintah-pemerintah daerah untuk memenuhi agenda-agenda intoleransi mereka.
“Jadi saat ini tidak boleh lagi ada pemerintah daerah yang tunduk dan patuh kepada kelompok-kelompok intoleran,” imbuhnya..
Komnas HAM juga menyampaikan harapannya bahwa tahun 2015 akan menjadi tahun penyelesaian atas berbagai kasus pelanggaran hak kebebasan beragama dan berkeyakinan yang sampai sekarang tidak terselesaikan.
Dengan kegigihan Komnas HAM untuk mendorong pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM atas kebebasan beragama dan berkeyakinan selama ini, akankah Indonesia benar-benar dapat terbebas dari sandera para intoleran pada tahun 2015 mendatang?(Lutfi/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/6705/sampai-kapan-indonesia-tersandera-kelompok-intoleran/)
Bedah Buku ‘Syiah Menurut Syiah’ Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bedah buku ‘Syiah Menurut Syiah‘ yang diselengarakan di UIN syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 27 November 2014 dihadiri lebih dari 250 peserta baik dari mahasiswa maupun dari kalangan umum. Dalam bedah buku ini diterangkan sejumlah isu yang sering ditimpahkan pada Muslim Syiah. Salah satu isu yang dijawab dalam beda buku ini adalah isu tentang Taqiyah dalam syiah. Acara ini diisi pemaparan oleh Dr. Muhsin Labib, MA, selaku perwakilan dari tim penyusun buku dan Dr. Faris Pari selaku dosen Filsafat di Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. (Lutfi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/6388/bedah-buku-syiah-menurut-syiah-di-uin-syarif-hidayatullah-jakarta/)Bedah Buku Syiah Menurut Syiah Di UIN Jakarta
Secara
umum, Dr. Muhsin Labib, MA selaku narasumber mewakili tim penulis ABI
membagi sistematika penulisan buku tersebut ke dalam dua garis besar
yaitu konsep dan realita. Secara khusus, ingin memahamkan kepada pembaca
bahwa apa yang setiap orang pahami adalah sebuah persepsi, tidak
absolut, relatif dan tidak mutlak benar. Sehingga, apa yang dilihat
secara realita bukanlah sebuah tolak ukur untuk memahami sebuah
kebenaran.
Sebagai
contoh, ketika ada seorang mengaku Syiah dan mengkafirkan sahabat Nabi,
tidak dapat disimpulkan bahwa ajaran Syiah mengkafirkan sahabat Nabi.
Karena hal itu adalah perilaku individu yang tidak mewakili sebuah
konsep ajaran.
“Perilaku individu tidak dapat dijadikan tolok ukur ajaran agama,” tutur Muhsin Labib.
Terlebih,
ulama Syiah telah memfatwakan haram menghina simbol-simbol yang
diagungkan oleh Muslim Sunni. Ketika masih ada yang mengkafirkan sahabat
Nabi yang diagungkan oleh Muslim Sunni, secara otomatis telah keluar
dari mainstream Syiah sebagai konsep ajaran yang dipahami. Sebagaimana
halnya ketika Saddam Husein membantai jutaan Muslim Syiah, tak satupun
Muslim Syiah menganggap Saddam adalah representasi Sunni dalam melakukan
pembantaian umat Islam.
Lebih
lanjut menurutnya, tidak ada Sunni membunuh Syiah, dan tidak ada Syiah
membunuh Sunni. “Kalau ada yang membunuh Sunni, dia bukan Syiah. Kalau
ada yang membunuh Syiah, dia bukan Sunni,” tegasnya.
Terkait
isu banyaknya cabang Syiah, seorang peserta bedah buku menanyakan soal
judul buku Syiah Menurut Syiah. “Syiah yang mana?” tanya peserta. Muhsin
Labib menjelaskan bahwa secara umum yang diterima sebagai konsep ajaran
Islam adalah Syiah Imamiyah Istna Asyariah dan buku tersebut
menjelaskan Syiah secara umum.
Narasumber
lain adalah Dr. Faris Pari, dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurutnya, perbedaan yang sering dipahami adalah perbedaan dalam ranah
praktis. Bukan filosofis teoritis. Hal itu selaras dengan yang dimaksud
Muhsin Labib tentang konsep dan realita. Orang banyak menilai sesuatu
dalam ranah realita, bukan konsep.
“Karena
kalau melihat yang beda akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan,
problem, pelenyapan bahkan berujung pada pembunuhan,” tutur Faris Pari.
Hal itu dapat dilihat misalnya dalam kasus Muslim Syiah Sampang Madura.
Terkait
konsep Taqiyah (tidak menampakkan kebenaran) dalam ajaran Syiah
diakuinya bahwa hal itu berada dalam ranah praktis dan berkutat dalam
problem sosial budaya, bukan pada ranah konsep agama. Sebagai contoh,
ketika orang Syiah berbaur, shalat berjamaah dengan Muslim Sunni,
tangannya sedekap (tidak lurus), dengan pertimbangan tertentu demi
menjaga keharmonisan hubungan sosial.
Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 11.00 WIB itu dihadiri lebih dari 200 peserta; mahasiswa maupun umum.
Mufin,
salah satu peserta dari Fakultas Filsafat UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta saat ditanya apa yang diketahuinya tentang Syiah, dia mengaku
tidak tahu-menahu.
“Awalnya
yang saya tahu, Syiah itu mut’ah dan syahadatnya berbeda,” tutur Mufin.
“Jadi, ini usaha bagus untuk memperkenalkan diri,” pujinya.
(Malik/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/6274/bedah-buku-syiah-menurut-syiah-di-uin-jakarta/)
Tanggapan KH Alawi untuk KH Kholil Nafis
[Catatan redaktur: judul dan paragraf pertama artikel ini telah
diedit pada 23/12, sesuai konfirmasi ulang LI dengan KH Alawi,
selengkapnya baca rubrik wawancara]
Seperti dilaporkan situs muslimmedianews.com yang
mengaku mengutip dari antarajatim.com, dalam seminar bertajuk Menyikapi
Konflik Sunni-Syiah dalam Bingkai NKRI” diadakan Aswaja Center PWNU
Jatim di Surabaya, Kamis (18/12), Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat Dr KH
Kholil Nafis Lc MA mengingatkan bahwa aliran Wahabi, Syiah, dan aliran
radikal lainnya bisa menghancurkan NU sebagai aliran moderat pada 2030.
“Mereka punya uang dan menargetkan NU akan habis pada 2030, karena
kelompok Syiah saat ini sudah memiliki 61 organisasi di Jawa dan 23
organisasi di luar Jawa,” kata Kholil.
Menurut Kyai Alawi, yang merupakan anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini, memang ada pihak-pihak di dalam tubuh NU, yang menjalin koalisi dengan Salafi Wahabi, dengan mengatasnamakan NU. Sementara di lain pihak, NU sendiri sangat konsisten untuk menahan laju ideologi Salafi Wahabi yang kian marak di tanah air.
Menurut Kyai Alawi, yang merupakan anggota Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini, memang ada pihak-pihak di dalam tubuh NU, yang menjalin koalisi dengan Salafi Wahabi, dengan mengatasnamakan NU. Sementara di lain pihak, NU sendiri sangat konsisten untuk menahan laju ideologi Salafi Wahabi yang kian marak di tanah air.
Dalam berbagai kesempatan, Kyai Alawi menyampaikan bahwa kerukunan Sunni
dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara
kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya,
perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di
antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang
pos-pos penting di pemerintahan. (baca: Nahdliyin Jangan Mau Diperalat Takfiri)
Dalam berbagai kesempatan, Kyai Alawi menyampaikan bahwa kerukunan Sunni
dan Syiah akan menguatkan Islam dan sebaliknya, perpecahan di antara
kedua madzhab Islam ini akan semakin melemahkan Islam. Menurutnya,
perpecahan itu memang sengaja didesain agar umat Islam selalu ribut di
antara sesamanya dan melupakan urusan yang lebih penting, yaitu memegang
pos-pos penting di pemerintahan. (Baca: Persatuan Sunni Syiah Dalam Risalah Amman)
“Yang urgent hari ini adalah, membentengi diri dari ideologi
radikal yang diusung oleh kelompok Salafi Wahabi, yang mudah
menyesatkan, mengkafirkan, atau yang paling mengerikan, saat pemikiran
radikal ini bermanifestasi sebagai kelompok-kelompok teroris
transnasional yang kini tengah beroperasi di Timur Tengah,” demikian
tulis Kyai Alawi.
Kyai Alawi juga menuturkan betapa dekatnya kultur antara NU dan Syiah.
Berbagai macam amalan yang sering dilakukan oleh warga NU, ternyata juga
dilakukan oleh muslim Syiah. Misalnya; tawassul, tabbaruk, tahlilan.
Jika Syiah mencintai Ahlul Bait, maka begitu pula halnya dengan NU, yang
termaktub dalam syair, tarian, hikayat, cerita kepahlawanan keluarga
Nabi Saw, peringatan Asyura, hingga rebo wekasan.
“Membina persatuan antara sesama ummat Islam dalam bingkai NKRI yang
ber-Bhineka Tunggal Ika lebih bermanfaat daripada terus menerus saling
mempertentangkan isu Sunni-Syiah,” tambah dia.
Lebih lanjut, Kyai Alawi menyatakan bahwa pihak yang sering mengadu
domba dan menghembuskan fitnah Sunni-Syiah itu berbeda dan harus saling
bermusuhan, sesungguhnya menghendaki perpecahan dalam tubuh Islam,
sehingga memudahkan mereka untuk menggapai tujuannya. Seperti diketahui,
maraknya sentimen Sunni-Syiah sendiri tidak terlepas dari gejolak yang
terjadi di Timur Tengah. (Baca: Ummat Islam Dipecah Belah, Alamnya Dikeruk)
“Menurut penelitian, 50 tahun lagi minyak di Arab Saudi itu habis. Tahun
1954 Arab Saudi pernah dibantu Inggris untuk menginvasi Suriah. Namun
tidak berhasil. Sekarang mereka mencoba lagi, dengan menggunakan
boneka-bonekanya. Yang mendanai persenjataan oposisi di Suriah kan Arab
Saudi? Dan Negara-negara Barat berada dibalik itu. Sebab kita tahu, AS
dan negara-negara Barat tidak memiliki kekayaan bumi yang memadai.
Krisis minyak di Arab Saudi yang diperkirakan 50 tahun lagi, jelas
sangat mengkhawatirkan mereka. Makanya mereka mencari lahan baru lagi.
Nah, inilah salah satu tujuan dibentuknya ISIS itu. Tapi banyak yang
tidak sadar,” papar dia.
“Untuk mengambil sumber daya alam itu, maka cara yang paling mudah dan
klasik adalah dengan mengadu domba negara-negara tersebut,” jelas Kyai
Alawi.
Untuk itu, menurut Kyai Alawi, ummat Islam harus bersatu dan
menghentikan kejahatan ini dengan segala cara. Ia juga berharap, agar
ummat Islam menyadari bahwa sesungguhnya musuh-musuh Islam tidak pernah
berhenti untuk menghancurkan dan melemahkan kaum muslimin.
“Solusinya selain mengerahkan serdadu untuk menghentikan mereka, kita
juga harus bertempur dalam dunia pemikiran, dengan menghadang
syubhat-syubhat mereka. Yang bisa menulis, menulislah. Untuk memberikan
penyadaran dan pencerahan pada masyarakat luas akan kondisi yang
sebenarnya. Dan ulama-ulama harus menyadari tanggungjawabnya dalam
menyadarkan ummat,” ujar dia, memberi saran.
(ba/http://liputanislam.com/tabayun/tanggapan-kyai-alawi-untuk-kholil-nafis/)
Kritik untuk Fimadani.com
LiputanIslam.com — Fimadani.com, dalam laporannya
menyebutkan bahwa Han Monis, pria yang melakukan penyanderaan terhadap
Lindt Chocolate Cafe di Australia pada Senin, 15 Desember 2014 adalah
seorang ulama Syiah asal Iran.
“Teroris Sydney adalah Ulama Syiah Asal Iran,” demikian judul artikel yang dirilis fimadani.com.
Namun isi artikel tersebut ternyata tidak relevan dengan judul, karena
fimadani menyebutkan, bahwa Moris hanya tampil (berpakaian) layaknya
ulama Syiah di media.
“Dalam berbagai situs, Man Haron Monis, tampil sebagai seorang ulama
Syiah yang mengenakan turbah berwarna putih yang mengindikasikan bahwa
ia adalah seorang ulama bukan dari kalangan Ahlul Bait,” sebut
fimadani.com.
Perhatikan dua foto berikut:
Di foto bagian atas, Monis berpenampilan layaknya ulama Syiah. Sedangkan
di foto bawah, ia tampil seperti seorang ulama Sunni. Karena itulah,
bbc.com, 16 Desember 2014 menggambarkan Monis sebagai seorang pria yang
kerap tampil layaknya ulama, namun di Australia, ia ditolak baik oleh
komunitas Muslim Sunni, maupun Muslim Syiah, sebagaimana yang dituturkan
oleh Keysar Trad, pendiri Islamic Friendship Association of Australia. (Baca: Pelaku Penyanderaan Sydney Disebut “Berbahaya” dan “Tidak Stabil”)
Hal senada juga disampaikan oleh Ismail Amin, Mahasiswa Al-Mustafa
International University, Qom, Iran. Kepada Liputan Islam, Ismail
menyatakan bahwa Monis bukanlah seorang ulama.
“Selama di Australia, Monis berpakaian ala ulama Syiah sementara dia
tidak pernah mengeyam pendidikan di hauzah Iran,” jelas Ismail, 17
Desember 2014 melalui pesan singkat.
Ismail menambahkan, bahwa Monis adalah salah satu orang yang
anti-revolusi Islam Iran. Artinya, ia menolak sistem Waliyatul Faqih
yang diterapkan di Iran.
“Orang ini adalah seorang penjahat dan buronan yang kabur dari kejaran
polisi. Beberapa saat lamanya dia tinggal di Malaysia kemudian meminta
suaka ke Australia. Pemerintah Australia menerima permintaan suakanya
dan membela orang ini setiap kali berbicara melawan Iran,” tambah
Ismail.
Ismail menilai, kasus penyanderaan yang dilakukan oleh Monis, dijadikan
sebagai senjata oleh media-media Barat untuk mendeskrditkan Iran, karena
sejauh ini, tambah dia, hanya Iran satu-satunya yang masih tetap
lantang melawan hegemoni negara adidaya, seperti Amerika Serikat.
“Pemerintah Iran sendiri telah mengutuk aksi keras Monis,” tutup Ismail.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, Pemerintah Republik Islam Iran
secara resmi mengutuk aksi penyanderaan di Lindt Chocolate Cafe, Martin
Place di CBD (Central Business District).
“Mengandalkan metode tidak manusiawi seperti ini serta menebar ketakutan
dan kepanikan atas nama Islam tidak dapat dibenarkan dalam kondisi
bagaimanapun,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marziyeh
Afkham, sebagaimana dilansir presstv.com. (Baca: Iran Resmi Kutuk Aksi Penyanderaan Atas Nama Islam di Sidney)
Kecaman juga datang Australian National Imam’s Council (ANIC),
organisasi yang memayungi kaum Muslimin di Australia. ANIC menyatakan
bahwa kejahatan yang dilakukan oleh Monis, sama sekali tidak mewakili
Islam. (Baca: #Illridewithyou: Perlawanan Terhadap Rasisme dan Kefanatikan)
Bahkan selama dua hari, tagar #Illridewithyou menjadi trending topic di
Twitter, yang merupakan wujud solidaritas warga Australia kepada kaum
Muslimin. Penduduk Australia menyadari, bahwa aksi teror yang dilakukan
Monis sama sekali tidak terkait dengan agama Islam.
Rachel Jacobs, seorang dosen di Australia Catholic University menuturkan
kepada Brisbane Times, bahwa #Illridewithyou merupakan sebuah
perlawanan terhadap rasisme dan kefanatikan. #Illridewithyou adalah
kekuatan toleransi dan kasih sayang. #Illridewithyou adalah perjanjian
untuk memperlakukan semua orang—siapapun dia, dengan penuh rasa hormat.
#Illridewithyou adalah pengingat bagi warga Australia, bahwa tidak
sepatutnya sebuah komunitas atau kelompok harus bertanggung jawab atas
kesalahan yang dilakukan oleh satu orang. #Illridewithyou adalah pesan
bagi para bigot, bahwa mereka tidak diinginkan berada di Australia.
Ketika masyarakat Australia sendiri begitu toleran dan dewasa dalam
menyikapi isu terorisme yang kerap dikaitkan dengan agama, lalu, apa
tujuan fimadani.com membuat judul menyesatkan yang rentan menggiring
opini publik kepada pemahaman keliru?
(ba/http://liputanislam.com/tabayun/kritik-untuk-fimadani-com/)
KH Al Bantani: Nahdliyin Jangan Mau Diperalat Takfiri
Pernyataan yang berpotensi memecah-belah umat muslim Indonesia ini mendapatkan tanggapan tegas dari
ulama muda NU yang aktif menyuarakan persatuan umat demi keutuhan NKRI,
KH Alawi Nurul Alam Al-Bantani. Menurut beliau, acara itu tidak
mengatasnamakan NU secara umum, sehingga tidak bisa dijadikan rujukan.
Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana sebenarnya posisi NU dalam masalah
Sunni-Syiah, LI mewawancarai KH Al Bantani. Berikut kutipan pembicaraan
kami.
LI: Pak Kyai, mengapa terlihat ada perbedaan pendapat di antara ulama NU?
KH Al Bantani : Pendapat yang disampaikan oleh salah
seorang ulama NU tidak bisa dengan serta merta dianggap sebagai pendapat
lembaga NU. Karena secara kultural NU sendiri mengakomodasi berbagai
macam perbedaan pendapat tersebut. Para Kyai NU memperoleh ilmunya
dengan cara bermacam-macam, mereka berguru kepada orang yang
berbeda-beda, kitab-kitab yang dibacanya pun berbeda. Karena itu, di
dalam internal NU sendiri ada kaidah fi kulli ra’sin ra’yun.
Maka dari itu, tidak ada keharusan bagi warga Nahdliyin untuk mengikuti
pendapat yang disampaikan kyai tertentu. Jika ada perbedaan pendapat
secara internal di antara kyai NU, secara kultural biasanya akan ada
upaya untuk mengkomunikasikan atau mendiskusikannya. Apalagi jika
perbedaan tersebut berpotensi menimbulkan friksi atau perpecahan.
Pada prinsipnya NU tidak menghendaki lembaga ini dikotak-kotakkan oleh kalangan internal. NU harus tetap berpegang teguh kepada khittah nahdliyyah-nya.
LI: Jadi, sebenarnya pandangan NU terhadap Syiah?
KH Al Bantani : Pertama, jelas Syiah itu jelas berbeda dari NU. Tapi, menyikapi perbedaan tersebut ada dua pandangan yang mengemuka. Yang pertama adalah yang menangkap adanya perilaku menyimpang sebagian orang
Syiah dan menggeneralisir perilaku tersebut sebagai hakikat dari Syiah.
Perilaku yang dimaksud, antara lain menyinggung atau menjelek-jelekkan
simbol-simbol yang dimuliakan kalangan NU. Adapun pandangan yang kedua adalah,
yang memandang bahwa perilaku sekelompok/sebagian Syiah tersebut
bukanlah hakikat Syiah. Pandangan kedua ini melihat bahwa dalam Syiah
pun ada dua kelompok, yaitu Syiah terpimpin dan Syiah tidak terpimpin.
Syiah yang terpimpin itu adalah mereka yang setia dan menjalankan fatwa
dari para marji’ (ulama tinggi Syiah). Sementara yang tidak
terpimpin adalah orang yang mengaku sebagai tokoh syiah dan merasa
berhak mengeluarkan pendapat, meskipun beda dari fatwa marji’.
Nah, kalangan NU yang kelompok kedua ini memandang bahwa seandainya ada
fenomena atau perilaku yang mengganggu atau menyakiti hati dari
orang-orang yang mengaku Syiah, itu pasti berasal dari orang-orang yang
tidak terpimpin. Karena faktanya para marji’ Syiah itu melarang /mengharamkan perilaku-perilaku yang menyakiti hati orang Sunni.
LI: Lebih banyak mana, Nahdhiyyin yang berpihak pada pandangan pertama, atau pandangan kedua?
KH Al Bantani : Saya tidak punya data, yang bisa saya
sampaikan adalah pengalaman saya selama ini, ketika bertemu dengan
orang-orang NU seluruh Indonesia. Ketika saya tanyakan pendapat mereka
tentang Syiah, selama ini tidak saya dapati laporan terkait upaya buruk
dari kalangan Syiah, seperti menguasai masjid NU, melakukan konfrontasi,
dan lain-lain. Dari sini, disimpulkan bahwa mereka baik-baik saja
terhadap umat Syiah.
LI: Kalau secara lembaga, apa sikap NU ketika menyikapi perbedaan pendapat dengan kelompok lain?
KH Al Bantani : Melihat dari khittah-nya, NU
secara kelemnbagaan adalah lembaga yang sangat toleran. Mengkafirkan
kelompok lain adalah hal yang sangat tabu bagi orang-orang NU.
LI: NU di Jawa Barat yang ada yang ikut dalam Deklarasi ANAS (Aliansi Nasional Anti Syiah)
KH Al Bantani : Secara umum, sebenarnya berkat peran
para ulama NU-lah ANAS gagal mencapai targetnya, karena hingga kini
belum sampai keluar fatwa pengkafiran Syiah. Memang betul ada sebagian
yang ikut-ikutan ANAS, tapi mestinya Nahdliyin harus cerdas, jangan
sampai mereka mau dijadikan alat oleh ANAS dalam rangka mewujudkan
target-target ANAS itu. ANAS sendiri sebenarnya adalah gerakan yang
tidak memberikan pncerahan dan melakukan pelanggaran ilmiah. Mereka
melakukan cara-cara memelintir sejarah. Secara ilmiah kan sebuah
kesimpulan hukum hanya bisa diambil kalau menyertakan seluruh pihak yang
terlibat. ANAS tidak pernah mau mengajak orang-orang Syiah untuk duduk
bersama dalam sebuah forum dan memberi kesempatan kepada orang Syiah
untuk membela diri. Secara ilmiah, itu adalah kesimpulan hukum yang
batal.
Karena itu, ANAS sama sekali bukan gerakan yang layak didukung dan
diikuti. Orang-orang NU harus cerdas menyikapi ini.
(fa/http://liputanislam.com/wawancara/kh-al-bantani-nahdliyin-jangan-mau-diperalat-takfiri/)
— http://liputanislam.com/tabayun/jurnalis-mesir-menjawab-fitnah-media-intoleran-atas-iran/
Baca wawancara sebelumnya dengan KH Al Bantani:Umat Islam Dipecah Belah, Sumber Daya Alamnya Dikeruk
Konsep Kenabian Sunni, Syiah Dan Ahmadiyah
Khazanah pemikiran Islam diwarnai dengan berbagai interpretasi terhadap penafsiran Al-Quran yang pada akhirnya memunculkan berbagai mazhab atau aliran dalam Islam. Termasuk di dalamnya perspektif tentang Nabi yang pada tiap aliran dalam Islam itu berbeda antara satu aliran dengan aliran yang lainnya.Lalu seperti apakah perspektif kenabian dalam Sunni, Syiah dan Ahmadiyah?
Dalam seminar yang digelar oleh Fakultas Aqidah Filsafat Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan tema “KONSEP KENABIAN LINTAS ALIRAN: Implementasi Islam Rahmatan lil Alamin dalam Perbedaan,” pada Rabu (17/9) di gedung Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, narasumber dari tiga aliran Islam di Indonesia yaitu, Sunni, Syiah dan Ahmadiyah menjelaskan konsep kenabian yang mereka anut saat ini.
Perspektif Kenabian Ahmadiyah
Bagi Ahmadiyah, pintu kenabian setelah Nabi Besar Muhammad Saw masih terbuka, sehingga memungkinkan peluang bagi adanya nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Tapi nabi yang muncul setelah Nabi Muhammad Saw kenabiaannya disebut dengan Kenabian Ummati, karena sebelumnya telah menjadi umat nabi Muhammad Saw terlebih dahulu. Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan Ahmadiyah, Prof. Abdul Rozzaq.
Rozzaq mendasari pemahamannya tersebut dari Surah An Nisa, ayat 69 yang menurutnya dalam ayat tersebut diartikan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, ada yang termasuk Nabi, ada yang termasuk Siddiq, ada yang termasuk Syahid dan ada yang termasuk Shaleh.
Nah, Nabi yang disebutkan dalam ayat tersebut, menurut Rozzaq adalah Nabi setelah Nabi Muhammad Saw, yang disebut dengan Nabi Ummati itu. Sebab menurut Rozzaq jika tidak ada Nabi setelah Nabi Muhammad, maka pengikut Nabi pun tidak ada yang Siddiq, tidak ada yang Syahid dan tidak ada yang Shaleh.
“Oleh karena itu jamaah Ahmadiyah mempunyai keyakinan bahwa sesudah Rasulullah Saw itu pintu kenabian masih terus terbuka,” terang Rozzaq.
Rozzaq menegaskan bahwa Nabi setelah Rasulullah yang dimaksud adalah Nabi itu hanya menghidupkan Islam kembali dan menegakkan syariat Islam kembali tanpa sedikitpun menambah, mengurangi ataupun mengganti. Tapi betul-betul sebagai Nabi pelayan Umat.
Terkait dengan hadis La Nabiyya Ba’da yang berarti tidak ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad Saw menurut Rozzaq, hadis tersebut ditujukan pada nabi baru yang membawa Syariat baru dan mengubah apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. Hal ini menurut Rozzaq telah ditafsirkan oleh banyak mufasir pada jaman dulu seperti Imam As-Sya’roni.
Perspektif Kenabian Sunni
Dr. Edwin Syarif, MA, perwakilan dari Sunni yang merupakan seorang akademisi menerangkan bahwa di dalam Sunni, pintu kenabian setelah Nabi Muhammad Saw sudah tertutup. Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang terakhir dan tidak ada lagi Nabi setelahnya. Nabi jenis apapun tidak ada dan tertutup setelah Nabi Muhammad Saw.
“Hal itu karena Nabi Muhammad adalah Khatamun Nabiyyin,” terang Edwin.
Namun Edwin menjelaskan bahwa tidak tertutup kemungkinan bila ada seseorang memiliki kemampuan atau mampu mencapai tingkat kenabian. Seperti halnya yang disampaikan oleh al-Ghazali, bahwa seseorang bisa mencapai ilmu Laduni. Yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan hal-hal yang trasenden dan metafisik.
“Saya tidak akan mengatakan itu nabi, itu sulit,” terang Edwin.
Perspektif Kenabian Syiah
Dr. Muhsin Labib yang mewakili Muslim Syiah menjelaskan bahwa konsep kenabian di dalam Syiah itu bukan berfokus pada sosok nabinya tapi lebih pada menyelesaikan konsep kenabiannya terlebih dahulu. Dengan ini akan menunjukkan perbedaan epistemologis dalam memahami kenabian dengan Sunni ataupun dengan Ahmadiyah.
Konsep Kenabian menurut Muhsin adalah pemaknaan teologis dari konsep mediasi antara Tuhan dengan manusia. Di dalam persoalan filsafat selalu muncul pertanyaan, bagaimana Tuhan yang tidak terbatas bisa berhubungan dengan manusia yang terbatas? Sejak awal para filosof berusaha untuk mejawab pertanyaan tersebut yang akhirnya memunculkan berbagai macam teori filsafat seperti teori Emanasi, Iluminasi dan Trasenden Teosofi.
Dengan munculnya teori-teori tersebut menunjukkan bahwa konsep Nubuwwah atau tentang kenabian perlu diselesaikan terlebih dahulu. Setelah konsep tentang Nabi selesai, barulah kemudian bisa mengidentifikasi figur atau sosok Nabinya. Dengan kata lain dalam Syiah harus dijelaskan terlebih dahulu tentang “apa” kemudian berlanjut pada penjelasan “siapa.”
“Sebab tidak mungkin kita menjelaskan tentang ‘siapa-nya’ tanpa tahu lebih dulu tentang ‘apa-nya.’” terang Muhsin.
Setiap aliran dalam Islam memiliki persepsi masing-masing tentang konsep kenabiannya, namun hal ini hendaknya dipandang sebagai khazanah pemikiran Islam yang memberi warna bagi Islam itu sendiri dan bukan untuk saling memberikan label sesat dan saling bunuh.
Dengan upaya saling menghomati tiap persepsi tentang kenabian itulah, maka Islam rahmatan lil ‘alamin akan dapat dicapai. (Lutfi/Yudhi/http://ahlulbaitindonesia.org/berita/5195/konsep-kenabian-sunni-syiah-dan-ahmadiyah/)
SELAMAT NATAL MENURUT AL-QUR`AN
ISLAMTOLERAN.COM-
Ketika hari natal datang biasanya banyak komentar atau pernyataan dari
beberapa ustad atau pemuka agama islam yang mengatakan bahwa mengucapkan
salam natal kepada pemeluk agama nasrani hukumnya haram bahkan ada yang
mengatakan orang muslim yang mengucapkan salam natal telah murtad atau
pindah agama.pernyataan mereka ini tentunya sangat meresahkan dan
merusak kerukunan antar umat beragama yang telah terbina dengan baik di
indonesia ini
Lalu bagaimana pendapat alquran sendiri tentang Hukum boleh tidaknya
ucapan salam natal yang di ucapkan umat islam kepada umat kristiani
ketika Hari Natal tiba?
Dalam kita suci alquran disebutkan "
“Apabila kamu
diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah
memperhitungankan segala sesuatu.”(QS. An Nisaa : 86)
Ayat ini jelas jelas menyuruh seorang muslim untuk membalas penghormatan
pemeluk agama lain dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa).
Sebagaimana yang kita tahu semuanya bahwa umat kristiani sudah sering
mengucapkan selamat idul fitri atau selamat idul adha dan selamat puasa
romadhon kepada umat muslim, maka sudah selayaknyalah kita sebagai umat
islam untuk membalas penghormatan pemeluk agama lain ( umat nasrani
indonseia) dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa)...
Fatwa MUI dan penyataan ulama lainnya yang mengharamkan seorang muslim
mengucapkan selamat natal kepada umat nasrani sangat bertolak belakang
dengan keterangan ayat alquran di atas,,
Maka sebagai muslim yang berpegang teguh kepada alquran dan al-hadits
kita wajib menjalankan apa yang telah diterangkan dalam kitab suci kita
alquran dan menolak fatwa MUI sudah menjadi keharusan.
Tidak semua ulama di indonesia berpendapat mengucapkan salam natal itu
haram. Kelompok yang mengharamkan salam natal bagi umat muslim ini
mereka adalah kelompok minoritas
Di antara ulama yang membolehkan pengucapan salam natal ini adalah ulama
tafsir terkemuka beliau adalah Prof.DR.M.Quraish Shihab.MA
"Saya menduga
keras persoalan tentang boleh tidaknya muslim mengucapkan natal kepada
umat kristiani hanya di indonesia saja .selama saya di mesir saya kenal
sekali dan sering baca di koran Ulama Ulama Al-Azhar berkunjung kepada
pimpinan umat kristiani dan mengucapkan "SELAMAT NATAL" Ujar Prof.DR.M.Quraish Shihab.MA
Para Muslim radikal berpendapat bahwa mengucapkan selamat natal kepada
umat nasrani hukumnya haram karena identik dengan ikut menyetujui Yesus
sebagai tuhan sedangkan muslim berkeyakinan Yesus itu nabi bukan Tuhan.
Padahal tujuan kita memberi ucapan selamat natal untuk saudara kita umat nasrani adalah ucapan selamat karena kegembiraannya .
Contoh misalnya kita mengucapkan "selamat makan" "selamat weekend" dan
ucapan selamat lainnya yang intinya kita mengucapkan karena ada saudara
kita yang sedang gembira atau bahagia bukan ingin menyetujui bahwa Yesus
itu tuhan....
Di dalam ayat alquran manusia sering disindir dengan sebuah sindiran " afala ta`qiluun (mengapa kamu tidak berfikir?)
Kenapa kita ikut bahagia karena ada saudara kita yang lagi senang kok di
haramkan ? logikanya ulama yang berkumpul di sebuah wadah bernama MUI
(majelis ulama indonesia) yang mengharamkan mengucapkan selamat natal
buat umat nasarani ini dimana? afala ta`qiluun? (tidakkah kamu berfikir)
?
Atas nama umat muslim kami mengucapkan selamat natal buat saudara saudara kami umat kristiani yang merayakan natal.
Wish you all my christian family,''MERRY CHRISTMAS''JESUS LOVE US FOREVER.
sumber : http://www.islamtoleran.com/selamat-natal-menurut-al-quran/
http://buletinmajelispecintarasul.blogspot.com/2014/12/harmonisnya-islam-syiah-dan-islam-sunni.html











Tidak ada komentar:
Posting Komentar