Sabtu, 15 Oktober 2016

Peringatan Asyura di Republik Islam Iran antara "Fakta dan Fitnah"


Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As melalui tragedi Karbala.

Kalau sejumlah kaum muslimin di Negara lain menyambut kedatangan bulan Muharram dengan bersuka cita dan saling mengucapkan selamat akan bergantinya tahun, masyarakat Iran justru melarutkan diri dalam majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah Islam.Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat, tidak akan ditemukan dilakukan oleh warga Iran.
Rasa belasungkawa akan syahidnya Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam, ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba al-Fadhl dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.
Secara resmi, warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Hari kesembilan dan hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan majelis-majelis duka.
Ratusan warga berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah al-Qur’an dan  dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya, tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa kematian Imam Husain As meski sudah berlalu 1400 tahun lalu, namun bagi mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan sedikit cahaya. Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk membacakan maqtal atau syair-syair duka.
Pada prosesi ini, para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin menyeruak setiap disebutkan nama al Husain. Diakhir acara, panitia akan membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung selama sepuluh malam berturut-turut.
Dalam majelis ini tidak adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam majelis Husaini.Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan irasional tersebut.
Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya, tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.

Mengenang Ali Asghar
Pada hari Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain As yang masih berusia beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan, sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes pun.
Kasihan dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain As pun memeluk dan menggedongnya. Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba, seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika dipelukan ayahnya. 






Kejadian tragis ini secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram. Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang.
Ditempat itu mereka mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan pengikut Nabi Muhammad Saw. Suasana haru dan emosional tidak terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan. Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar untuk merasakan kepedihan Imam Husain.
Foto yang beredar di media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua Syiah pasti melakukan itu.  
Pada hari kesembilan Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia. Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan kesedihan yang sama. 
Suara isak tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari tubuhnya.
Tangisan mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini.
Bangsa kita juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam, melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya smangat yang sama.

Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As melalui tragedi Karbala.
Rakyat Iran menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al Husain.
Ismail Amin, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Tafsir Al-Qur’an Universitas Internasional al Mustafa Qom Republik Islam Iran

Pesan Majma Jahani Ahlubait As Umat Islam Syiah dalam Rangka Peringatan Muharram Dan Safar:

Majelis Duka yang Benar adalah Jalan Melawan Islam Palsu

Dengan membudayakan tradisi yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majlis duka dibawah payung persatuan.
 
Menurut kantor berita ABNA, dalam rangka peringatan Majelis Husaini bulan Muharam dan Safar Majma Jahani Ahlubait As memberikan pesan duka dan nasihat-nasihat kepada para anggota dan orang-orang terkait.
Dalam pesan ini disebutkan bahwa peristiwa karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.   
Dalam pesan ini ditekankan pula bahwa majlis duka yang benar merupakan cara menghadapi Islam-Islam palsu, “menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh.
Tugas kita dalam hal ini adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, pisau, belati atau pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.”
Berikut adalah teks lengkap pesan Majma Jahani Ahlubait As:
Bismillahirahmaanirahiim
Imam Shadiq As berkata:
«نفس المهموم لظلمنا تسبیح و همُّه لنا عبادة و کتمان سرّنا جهادٌ فی سبیل الله» (أمالی شیخ مفید،ص338(
Artinya: “Nafas orang terzhalimi demi kami (ahlubait) adalah tasbih, penderitaan yang dialami demi kami adalah Ibadah dan menyembunyikan rahasia kami adalah jihad di jalan Allah” (Syeikh Mufid Amali, hal. 338)
Kepada seluruh anggota, orang terkait, para mubaligh dan para perwakilan Majma Jahani Ahlubait As yang terhormat,
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatu
Dengan mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlubait As dan dengan sangat terhormat; kami menyampaikan belasungkawa kepada para pengikut Ahlubait As, semua umat muslim dan kaum merdeka di seluruh dunia atas kedatangan bulan Muharram dan Safar Husaini, hari-hari penuh duka keluarga ma’shumin dan wilayah, musim pembaharuan ba’iat kepada keturunan suci Rasulullah Saw dan musim ‘labbaik’ seruan yang mempersatukan.
Majma Jahani Ahlubait As dalam rangka peringatan acara duka Ahlubait As merasa berkewajiban untuk menyampaikan nasihat atau pesan-pesan dalam rangka mengagungkan syi’ar-syi’ar kebenaran Islam suci Muhammadi:
Tragedi karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.
Majlis duka yang benar merupakan jalan melawan Islam Palsu; atas dasar inilah majelis duka tidak boleh hanya membaca syair-syair atau puisi saja dan para pemuka agama dan para mubaligh agama dalam mimbar-mibarnya harus mementingkan tema-tema yang bersangkutan dengan tujuan bangkitnya Imam Husain dan pergerakan Asyura dengan berlandaskan pada Ayat-ayat suci dan hadits-hadits, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan lemah dan tidak bersanad, tidak berisi, tidak rasional, membangkitkan perpecahan dan merusak persatuan umat.
Dengan membudayakan kebudayaan yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majelis duka dibawah payung persatuan.
Kecintaan dan mahabah Husaini harus lebih ditunjukan dengan cara yang logis dan para mubaligh harus membentengi masyarakat dengan cara menjelaskan fitnah-fitnah musuh agar mereka berkumpul dibawah bendera Imam Husain As.
Menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh. Tugas kita dalam hal ini adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, belati atau pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.
Amr Bil Ma’ruf wa Nahy ‘anil Munkar yang merupakan salah satu tujuan penting pergerakan Asyura adalah satu-satunya cara melawan serangan budaya barat; oleh karena itu kita harus berusaha menyebarkannya dengan Akhlaq dan ma’nawiyat yang dibarengi dengan cara yang logis yang merupakan syarat masuknya di hati masyarakat ini.
Kita berharap kepada Allah Swt agar secepatnya memenuhi janjinya untuk kebebasan setiap orang-orang yang terzhalimi di dunia, di Bahrain, Yaman, Suriah, Iraq, Pakistan, Palestina dan negara-negara Islam lainnya dan kemenangan mereka dari para penguasa dunia, Zionis, kelompok-kelompok takfiri, dan ancaman anti Islam. Semoga Allah menyelamatkan dan memberikan hidayah kepada dunia manusia dengan kedatangan Imam Mahdi Ajf.
Majma Jahani Ahlubait As
30 Dzulhijjah 1437 H

 
Ketua Umum ICMI:

Jangan gara-gara Pilkada, Semangat Toleransi Antar-agama Turun

“Jangan sampai gara-gara pilkada semangat toleransi kita turun. Kita ingin mengedepankan pentingnya semangat dialog, religion peace. Ini bukan hanya berlaku bagi kita, tapi bagi dunia.”
Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengingatkan agar seluruh pihak dapat menahan diri serta tidak membawa isu agama untuk kepentingan politik.
Menjelang pelaksanaan pilkad serentak jilid dua, situasi dan kondisi di sejumlah wilayah dinilainya memanas. "Apalagi kita sedang banyak sekali masalah dalam negeri. Tegang sekali. Padahal, ini masalah hidup tidak perlu tegang,” kata Jimly, di Universitas Al-Azhar, Jakarta, Jumat (14/10/2016).
Menurut dia, Indonesia sebenarnya sudah terbiasa menghadapi isu-isu yang berkaitan dengan pluralisme dan toleransi. Bahkan, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat, Indonesia jauh lebih toleran.
“Kalau di Amerika, orang Katolik harus menunggu dua abad baru bisa jadi presiden. Lalu orang kulit hitam harus menunggu 2,5 abad. Perempuan mungkin baru akan terpilih nantinya,” ujar dia. Jimly mencontohkan, di Kalimantan Tengah yang 60 persen warganya merupakan pemeluk agama Islam, selama dua periode lalu dipimpin oleh Teras Narang yang notabene merupakan non-Muslim. Begitu pula yang terjadi di Kalimantan Barat. “Gubernurnya Katolik, wakilnya Kristen, Chinese,” ujar Jimly.
Ia menambahkan, jika pada pilkada terdapat calon kuat tetapi memiliki keyakinan berbeda dengan agama mayoritas penduduk, maka sebaiknya tetap diberikan kesempatan. Nantinya, masyarakat yang akan menentukan apakah calon tersebut layak untuk memimpin suatu daerah atau tidak.
“Jangan sampai gara-gara pilkada semangat toleransi kita turun. Kita ingin mengedepankan pentingnya semangat dialog, religion peace. Ini bukan hanya berlaku bagi kita, tapi bagi dunia,” papar Jimly.

Imam Husain hidup di Hati Pencintanya di Setiap Tempat dan Waktu 

Penolakan asyura justeru akan menjadi jalan untuk semakin memperkenalkan asyura. Jadi dilarang ataupun tidak dilarang, secara intelektual, spiritual dan sosial, tragedi asyura akan terjelaskan ke masyarakat dengan berbagai bentuk.

Setidak-tidaknya ada dua hal yang senantiasa dituduhkan oleh kelompok yang menolak kegiatan asyura di Indonesia ini: 1. Di acara ini ada ritual melukai diri, 2. Ada pelaknatan sahabat utama Nabi seperti Umar ra. dan Abu Bakar ra.,
Dalam sebuah dialog bersama Kementerian Agama D.I. Yogyakarta dan MUI serta Muspida , saya menyarankan kepada pihak yang sering menuding seperti itu untuk melakukan pemeriksaan forensik tubuh para peserta acara Asyura apakah ada bekas melukai diri, dan bisa dicek dalam dokumentasi kajian (peringatan) seperti kegiatan asyura ini apakah ada tradisi caci maki sahabat Umar dan Abu Bakar,apalagi isteri nabi?. Saya kira dengan mudah dapat dilakukan penelitian, karena acara asyura ini terbuka dan siapa saja bisa ikut, apalagi ini memang tragedi ini lintas mazhab dan agama. Jika ditemukan unsur itu, silahkan laporkan ke kepolisian sebagai unsur penistaan agama. Hak kita semua dijamin UUD 1945. Apalagi tim intelijen negara dapat melakukan penggalian informasi lapangan secara langsung di lokasi acara.
Kita juga dapat melakukan penilaian akan unsur separatisme, terorisme dan anti NKRI dan Pancasila sebuah kelompok / ajaran dari buku-buku yang mereka miliki dan gerakan yang mereka lakukan. Dari buku-buku yang kami terbitkan, silahkan dilaporkan ke Kejaksaaan Agung jika mengandung unsur tersebut. Kepolisian Sektor (Polsek) dapat berkoordinasi dengan unsur Desa dan Babinsa untuk meneliti unsur itu. Kemampuan intelijen kita di Indonesia relatif banyak dipuji oleh berbagai negara dan terbukti berhasil menangkap jaringan teroris. Tentu saya percaya aparat pemerintah kita akan dengan mudah menemukan potensi itu jika memang ada.
Tentu sah-sah saja dan dijamin oleh konstitusi jika ada kelompok yang melakukan demonstrasi menolak acara ini dan membuat audiensi dengan Pemerintah dan DPRD, saya kira tradisi yang baik untuk melakukan kritik dan masukan kepada Pemerintah. Asalkan dilakukan dengan cara yang damai, anti kekerasan dan tidak memaksakan kehendak.
Yang saya ketahui mayoritas para pencinta AhlulBayt Nabi di Indonesia yang diistilahkan para penganut syiah adalah anggota masyarakat yang berkomitmen kepada Pancasila dan NKRI. Silahkan di cek data BNPT adakah diantara mereka orang syiah Indonesia yang menjadi terdakwa teroris atau orang menjadi DPO Densus. Kalau ada yang bisa menemukan kelompok syiah di Indonesia ini yang melakukan upaya makar dan teror, maka kita akan bersama-sama melawan mereka, sekalipun mereka mengklaim sebagai penganut syiah. Karena pelaku kejahatan bisa ada di mana saja, bisa ada dalam kelompok agama manapun. Silahkan di cek penjara kita di Indonesia, ada berapa penganut Islam di dalamnya, tentu ini tidak menjadi ukuran bahwa Islam seperti itu, karena banyak penganut Islam yang memberikan prestasi bagi bangsa dan agama ini.
Kita mengetahui bersama sebagian besar kelompok syiah di Indonesia telah muncul sebagai organisasi massa yang resmi yang tercatat dalam lembaran negara, itu artinya mereka memilih jalan objektif keyakinan mereka dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia yang akan taat pada konstitusi. Dengan menjadi bagian resmi organisasi massa, maka ormas kelompok pencinta keluarga Nabi yang dikaitkan dengan identifikasi ajaran Syiah akan dapat dipantau secara legal oleh negara. Mereka dituntut konsisten dengan AD dan ART mereka yang pasti berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selama beberapa tahun saya ikut mengamati teman-teman Syiah ini (Syiah Imamiyah) kecenderungan terus menguat pada upaya memperkuat jalinan identitas KeIslaman dan Keindonesiaannya. Bisa kita lihat pada tema-tema asyura yang senantiasa membawa spirit dan peneguhan NKRI. Mereka melakukan kegiatan secara terbuka, tidak mengkafirkan kelompok lain, bahkan mereka tidak punya ciri pakaian tertentu, mereka biasa bersama ada yang memakai kaos, berkemeja, berbaju batiik, ada yang pakai sarung, celana jeans. Tidak mengindentifikasi dirinya dengan jenggot panjang, dan simbolisme formal lain. Jadi silahkan di cek di lapangan. Mereka tidak ekslusif hingga dalam penampilan mereka terbuka apalagi dalam pemikiran (inklusif). Kalau mereka dituduh taqiyyah (menyembunyikan kebenaran, berbohong dalam istilah mereka),maka lakukanlah upaya hukum agar dapat dibuktikan di pengadilan dari landasan kebenaran material yang ada,
Jadi upaya sekelompok orang untuk menolak acara asyura sebagai bagian dari demokrasi adalah sah saja, sepanjang dengan cara damai dan tidak memaksakan kehendak apalagi dengan cara kekerasan. Dialog tentu lebih baik. Dalam sebuah perbincangan dengan tim POLDA DIY, saya menyampaikan bahwa acara asyura ini bukan ritual yang wajib secara syariah dilakukan dalam bentuk dan waktu yang ditentukan. Kita tidak melaksanakan kegiatan besar pun tidak berdosa, bahkan orang syiah tidak sempat ikutpun dalam hari asyura tidak berdosa. Ini adalah upaya membangun hubungan cinta dengan keluarga Nabi dan senantiasa melakukan refleksi sosial keagamaan agar setiap pencinta Imam Husain senantiasa menjaga keadilan dan menjauhi hidup dalam kezaliman. Pelaksanaan majelis duka bisa dilakukan dengan keluarga bisa di rumah, bisa di jalan, bisa di warung kopi, bisa berpakaian hitam, bisa warna lain, bisa pakai kaos ataupun pakai celana panjang ataupun pendek. Prinsipnya ini acara mengenang tragedi agar menjadi spirit kebaikan bagi para pencinta al Husain cucu Nabi Muhammad Saw sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dan RasulNya.
Semakin ditekan atau diteror, mungkin saja berpengaruh secara psikologis, tapi karena ini adalah masalah cinta, tentu kita paham bagaimana sih jika kita sedang jatuh cinta, kita bisa merawat cinta kita dengan fasiltas apa adanya, sekalipun hanya dengan membagi makanan kecil untuk sedekah sebagai upaya mengenang Asyura buat kita sangat berarti dan berkah, sekalipun kita harus melakukan di ruang terbuka berpanas-panas, dengan cinta semua itu larut dalam keharuan para pencinta. Prinsipnya kita tidak melawan hukum di negeri kita tercinta ini dan cinta damai. Semua jalan untuk melakukan asyura ini bisa terpenuhi. Seorang teman bahkan melakukan peringatan asyura sendiri (beberapa orang) di dalam gua. Setiap tempat dan setiap waktu adalah asyura. Asyura sebagai jalan cinta Imam Husain hidup di hati setiap pencintanya apapun mazhab dan agamanya. Peringatan asyura bisa kita lakukan tiap minggu atau tiap bulan atau tiap tiga bulan dan seterusnya. Setiap saat bisa.
Kita terus akan hormati hak setiap orang untuk berpendapat tentang acara asyura ini, kita sangat mengapresiasi langkah kelompok yang menolak asyura Syiah (istilah mereka) dengan melakukan pelaporan ke Polisi, audiensi dengan pemerintah dan DPRD. Apa yang diputuskan oleh negara tentu akan berupaya kita dukung untuk menjaga negara kita dalam kedamaian dan cinta kasih, tentu dengan komitmen berdasarkan hukum yang berlaku.
Tentu kita harapkan juga kepada para penganut Syiah untuk tidak memaksakan kehendaknya, saya percaya , terbukti selama ini kita bisa dan senantiasa mau berdialog. Penolakan asyura justeru akan menjadi jalan untuk semakin memperkenalkan asyura. Jadi dilarang ataupun tidak dilarang, secara intelektual, spiritual dan sosial, tragedi asyura akan terjelaskan ke masyarakat dengan berbagai bentuk. Agar pada akhirnya Islam bisa dikenal sebagai agama cinta. Bahwa apa yang di bawa para Walisongo dalam konteks Islam Nusantara menurut saya adalah bagian tidak terpisahkan dari perjalanan asyura.
Jadi semua kita, yang mengadakan dan menolak asyura, sedang berjalan dalam upaya mencari keseimbangan baru dan juga baik bagi upaya meneguhkan identitas keIndonesiaan kita.
Jayalah Asyura, Jayalah Islam Nusantara, Jayalah KeIndonesiaan
Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw.
Wallahu'alam bi al shawab.
(A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari, RausyanFikr Yogyakarta)

Satu Juta lebih Warga Turki Peringati Asyura di Halkaly Square Istanbul

Satu Juta lebih Warga Turki Peringati Asyura di Halkaly Square Istanbul
Menurut Kantor Berita ABNA, 10 Muharram atau lebih populer dengan sebutan hari Asyura, adalah hari bersejarah bagi umat Islam Syiah dan pecinta Ahlul Bait diseluruh dunia. Sebab hari itu terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa cucu Rasulullah Saw, Imam Husain As di padang Karbala pada tahun 61 H. Ia terbunuh beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya atas perintah Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah kala itu.
Setiap hari Asyura, umat Islam memperingatinya sebagai hari berkabung. Berikut ini suasana Peringatan Asyura di kota Istanbul, ibukota Turki pada  rabu (12/10). Seratus ribu lebih warga muslim kota tersebut dengan berpakaian serba hitam dan atribut yang bertuliskan nama Imam Husain berkumpul di Auditorium Yahya Kemal Bitli pada  malam Asyura selasa (11/10). Pada  keesokan harinya,  hari Asyura rabu (12/10) satu juta lebih manusia membanjiri Halkaly Square yang berada di jantung kota Turki untuk mengenang kesyahidan Imam Husain As di padang Karbala tahun 61 H silam. 
Dihari yang sama, peringatan serupa juga secara serentak dilakukan di kota-kota besar Turki lainnya. 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar