Bagi rakyat Iran, tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As melalui tragedi Karbala.
Kalau
sejumlah kaum muslimin di Negara lain menyambut kedatangan bulan
Muharram dengan bersuka cita dan saling mengucapkan selamat akan
bergantinya tahun, masyarakat Iran justru melarutkan diri dalam
majelis-majelis duka. Bulan Muharram bagi masyarakat Iran yang mayoritas
bermazhab Syiah adalah bulan duka, bulan yang mengharu biru, bulan yang
menggoreskan kenangan akan peristiwa paling pahit dalam sejarah
Islam.Karena itu, bergantinya tahun hijriah yang seringkali dijadikan
momen untuk bergembira dan saling mengucapkan selamat, tidak akan
ditemukan dilakukan oleh warga Iran.
Rasa belasungkawa akan
syahidnya Imam Husain As beserta keluarga dan sahabatnya yang terbantai
di Karbala mereka tunjukkan bukan hanya dengan pakaian serba hitam yang
mereka kenakan, namun juga pemasangan umbul-umbul bendera hitam,
ornamen-ornamen yang dipasang di tepi-tepi jalan, masjid dan
tempat-tempat umum yang berisi pesan duka Asyura, termasuk mencat
mobil-mobil mereka dengan tulisan Husain, Zainab, Ali Asghar, Aba
al-Fadhl dan nama tokoh-tokoh lainnya dalam peristiwa Karbala.
Secara resmi,
warga Iran memperingati peristiwa Asyura selama sepuluh hari
berturut-turut, dari tanggal 1 sampai 10 Muharram. Hari kesembilan dan
hari kesepuluh dijadikan hari libur nasional. Selama kesepuluh hari
tersebut, setiap sehabis shalat Isya berjama’ah, diadakan
majelis-majelis duka.
Ratusan warga
berbondong-bondong memadati masjid-masjid dan Husainiyah tempat
diadakannya majelis-majelis duka tersebut. Acara dibuka dengan tilawah
al-Qur’an dan dilanjutkan dengan ceramah agama yang berisi pesan dan
hikmah dari kisah-kisah kepahlawanan Imam Husain As beserta keluarga dan
sahabatnya di padang Karbala. Disaat Khatib menyampaikan ceramahnya,
tidak jarang terdengar suara isak tangis dari para jama’ah. Peristiwa
kematian Imam Husain As meski sudah berlalu 1400 tahun lalu, namun bagi
mereka tampak seolah-olah baru terjadi kemarin sore. Setelah
mendengarkan ceramah, lampu-lampu dipadamkan, dan hanya menyisakan
sedikit cahaya. Dalam suasana nyaris gelap itu, seseorang tampil untuk
membacakan maqtal atau syair-syair duka.
Pada prosesi ini,
para jama’ah dilibatkan. Kesemuanya berdiri dan mengiringi kidung duka
yang dinyanyikan sembari menepuk-nepuk dada. Suasana haru semakin
menyeruak setiap disebutkan nama al Husain. Diakhir acara, panitia akan
membagikan kotak makanan dan disantap bersama. Majelis ini berlangsung
selama sepuluh malam berturut-turut.
Dalam majelis ini tidak
adegan melukai diri, tidak ada aksi memukul badan dengan benda tajam
hingga berdarah-darah. Ulama-ulama Iran memberikan fatwa akan keharaman
melukai diri apalagi sampai berdarah-darah dalam memperingati hari
Asyura. Fatwa itupun menjadi hukum postif bagi kepolisian Iran untuk
membubarkan dan menangkapi mereka yang melakukan aksi melukai diri dalam
majelis Husaini.Sayang, karena perbuatan segelintir Syiah
di Irak, Afghanistan dan Pakistan yang masih juga memperingati Asyura
dengan tradisi melukai diri, Syiah pun diidentikkan dengan perbuatan
irasional tersebut.
Patut diketahui, kalau memang melukai diri dianggap ibadah yang afdhal dilakukan
pada peringatan Asyura, maka yang paling pertama melakukannya adalah
ulama-ulama dan kaum terpelajar dari kalangan Syiah, dan itu harusnya
bermula dari Iran, sebagai sentral keilmuan penganut Syiah. Faktanya,
tidak satupun ulama Syiah yang melakukannya, yang ada justru memfatwakan
keharamannya. Dan kalau memang itu sudah menjadi bagian dari tradisi
Syiah, maka tentu jumlah orang-orang Syiah yang melakukannya jauh lebih
banyak dari yang tidak. Faktanya, yang melakukannya tidak seberapa, dan
itu hanya ada diluar Iran, tidak di Iran.
Mengenang Ali Asghar
Pada hari
Jum’at pagi, dari kesepuluh hari awal Muharram itu, diperingati secara
khusus kesyahidan Ali Asghar, putra Imam Husain As yang masih berusia
beberapa bulan namun turut menjadi korban kebengisan tentara-tentara
Yazid. Dikisahkan, bayi Imam Husain As tersebut dalam kondisi kehausan,
sebab sumber mata air berada dalam penguasaan tentara Yazid dan tidak
mengizinkan kafilah Imam Husain untuk mengambil airnya barang setetes
pun.
Kasihan
dengan bayinya yang merengek kehausan, Imam Husain As pun memeluk dan
menggedongnya. Beliau menghadap pasukan Yazid untuk diizinkan mengambil
air, setidaknya untuk menghilangkan dahaga bayinya tersebut, sembari
memperlihatkan kondisi Ali Asghar yang dicekik kehausan. Bukannya iba,
seorang tentara Yazid malah melezatkan anak panah yang tepat mengenai
leher bayi Imam Husain As tersebut, yang kemudian mati seketika
dipelukan ayahnya.
Kejadian tragis ini
secara khusus diperingati pada hari Jum’at pertama bulan Muharram.
Ribuan ibu dengan bayi-bayinya yang berkostum pakaian Arab paduan warna
hijau dan putih lengkap dengan surban dan ikat kepala yang bertuliskan
Ali Asghar, memadati masjid-masjid dan tanah-tanah lapang.
Ditempat itu mereka
mendengarkan ceramah khusus mengenai kisah kesyahidan Ali Asghar dan
betapa pedihnya hati Imam Husain As melihat kematian bayinya yang tragis
di pelukan sendiri, justru oleh mereka yang mengaku sebagai muslim dan
pengikut Nabi Muhammad Saw. Suasana haru dan emosional tidak
terhindarkan ketika kisah yang menyayat hati itu kembali disuguhkan.
Ibu-ibu tersebut menangis sambil mendekap bayi mereka masing-masing
sembari membayangkan kesedihan dan kepiluan hati Imam Husain melihat
bayinya tergeletak tanpa nyawa. Dalam acara ini tidak ada adegan
orangtua mengiris bayinya dengan pedang hingga berdarah, hanya sekedar
untuk merasakan kepedihan Imam Husain.
Foto yang beredar di
media sosial yang menggambarkan kepala seorang anak yang berdarah-darah
karena dilukai oleh orangtuanya sendiri, kejadiannya bukan di Iran. Itu
adalah kelakuan orang-orang yang ekstrim yang justru mendapat kecaman
dari ulama Syiah sendiri, yang tidak bisa menjadi representatif semua
Syiah pasti melakukan itu.
Pada hari kesembilan
Muharram -yang dikenal juga dengan sebutan Tasu’a Husaini- dan pada
hari kesepuluh –dikenal dengan sebutan hari Asyura- karena menjadi hari
libur nasional, jalan-jalan raya dipadati oleh ribuan warga dengan
pakaian serba hitam yang berjalan kaki. Disepanjang jalan, terdapat
posko-posko yang menyediakan minuman panas dan makanan ringan secara
gratis. Satu-dua jam menjelang shalat dhuhur masjid-masjid dan juga
kantor-kantor resmi ulama-ulama Marja dipadati lautan manusia.
Ditempat-tempat itu mereka berkumpul untuk menumpahkan rasa haru dan
kesedihan yang sama.
Suara isak
tangis yang tak tertahan terdengar dimana-mana disaat khatib
menyampaikan detik demi detik proses terbantainya Imam Husain As di
Karbala. Bagaimana saat dadanya yang telah penuh dengan sayatan pedang
ditindih dan kemudian kepalanya dengan tebasan pedang dipisahkan dari
tubuhnya.
Tangisan
mereka dengan tragedi memilukan yang menimpa cucu Nabi Muhammad Saw
tersebut bukan untuk menyesal atas apa yg telah terjadi melainkan upaya
merawat dan menjaga ingatan dan kenangan atas perjuangan dan pengorbanan
keluarga Nabi dalam menjaga eksistensi agama ini.
Bangsa kita
juga punya tradisi yg sama dalam mengenang pengorbanan para pahlawan
bangsa? ada upacara bendera, ada hening cipta, ada ziarah kemakam
pahlawan, ada pembuatan film perang melawan penjajah, ada pementasan
drama, ada pembacaan puisi dan seterusnya. Yang tentu tujuannya bukan
untuk mengorek luka sejarah, bukan pula untuk menyimpan dendam,
melainkan untuk menghidupkan semangat kepahlawanan, patriotisme dan
pengorbanan para pejuang terdahulu supaya generasi sekarang juga punya
smangat yang sama.
Bagi rakyat Iran,
tangisan mengenang al Husain bukanlah tangisan cengeng. Melainkan
tangisan yang justru membakar semangat perlawanan terhadap penindasan
dan kesewenang-wenangan sebagaimana yang diwariskan Imam Husain As
melalui tragedi Karbala.
Rakyat Iran
menyodorkan bukti, bahwa bermula dari tangisan itulah, revolusi besar
yang mengubah takdir Iran dengan menjungkalkan rezim Shah Pahlevi telah
mereka rancang dan ledakkan. Imperium Persia yang berusia 2.500 tahun
beralih menjadi Republik Islam, dimulai dari tangisan mengenang al
Husain.
Ismail Amin, Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Tafsir Al-Qur’an Universitas Internasional al Mustafa Qom Republik Islam Iran
Mainsource : http://id.abna24.com/service/asura-mystery-of-creation/archive/2016/10/14/785371/story.html
Pesan Majma Jahani Ahlubait As Umat Islam Syiah dalam Rangka Peringatan Muharram Dan Safar:
Majelis Duka yang Benar adalah Jalan Melawan Islam Palsu
Dengan membudayakan tradisi yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majlis duka dibawah payung persatuan.
Menurut kantor berita ABNA,
dalam rangka peringatan Majelis Husaini bulan Muharam dan Safar Majma
Jahani Ahlubait As memberikan pesan duka dan nasihat-nasihat kepada para
anggota dan orang-orang terkait.
Dalam pesan ini disebutkan
bahwa peristiwa karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu
bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama
dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.
Dalam pesan ini ditekankan
pula bahwa majlis duka yang benar merupakan cara menghadapi Islam-Islam
palsu, “menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina
para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan
cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka
mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan
penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh.
Tugas kita dalam hal ini
adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri
tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat
seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, pisau, belati atau
pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara
duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.”
Berikut adalah teks lengkap pesan Majma Jahani Ahlubait As:
Bismillahirahmaanirahiim
Imam Shadiq As berkata:
«نفس المهموم لظلمنا تسبیح و همُّه لنا عبادة و کتمان سرّنا جهادٌ فی سبیل الله» (أمالی شیخ مفید،ص338(
Artinya: “Nafas orang
terzhalimi demi kami (ahlubait) adalah tasbih, penderitaan yang dialami
demi kami adalah Ibadah dan menyembunyikan rahasia kami adalah jihad di
jalan Allah” (Syeikh Mufid Amali, hal. 338)
Kepada seluruh anggota, orang terkait, para mubaligh dan para perwakilan Majma Jahani Ahlubait As yang terhormat,
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatu
Dengan mengirimkan shalawat
kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlubait As dan dengan sangat terhormat;
kami menyampaikan belasungkawa kepada para pengikut Ahlubait As, semua
umat muslim dan kaum merdeka di seluruh dunia atas kedatangan bulan
Muharram dan Safar Husaini, hari-hari penuh duka keluarga ma’shumin dan
wilayah, musim pembaharuan ba’iat kepada keturunan suci Rasulullah Saw
dan musim ‘labbaik’ seruan yang mempersatukan.
Majma Jahani Ahlubait As dalam
rangka peringatan acara duka Ahlubait As merasa berkewajiban untuk
menyampaikan nasihat atau pesan-pesan dalam rangka mengagungkan
syi’ar-syi’ar kebenaran Islam suci Muhammadi:
Tragedi karbala sejalan dengan
seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya
dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini
merupakan ibadah.
Majlis duka yang benar
merupakan jalan melawan Islam Palsu; atas dasar inilah majelis duka
tidak boleh hanya membaca syair-syair atau puisi saja dan para pemuka
agama dan para mubaligh agama dalam mimbar-mibarnya harus mementingkan
tema-tema yang bersangkutan dengan tujuan bangkitnya Imam Husain dan
pergerakan Asyura dengan berlandaskan pada Ayat-ayat suci dan
hadits-hadits, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan lemah dan
tidak bersanad, tidak berisi, tidak rasional, membangkitkan perpecahan
dan merusak persatuan umat.
Dengan membudayakan kebudayaan
yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia
dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka
musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus
mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majelis duka dibawah
payung persatuan.
Kecintaan dan mahabah Husaini
harus lebih ditunjukan dengan cara yang logis dan para mubaligh harus
membentengi masyarakat dengan cara menjelaskan fitnah-fitnah musuh agar
mereka berkumpul dibawah bendera Imam Husain As.
Menurut pandangan maraji’ dan
pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah
pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan
para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia
Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka
disebarkan dan dilancarkan lewat musuh. Tugas kita dalam hal ini adalah
harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas
melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti
Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, belati atau pedang kecil) dan
bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini
tidak sesuai dengan ajaran Karbala.
Amr Bil Ma’ruf wa Nahy ‘anil
Munkar yang merupakan salah satu tujuan penting pergerakan Asyura adalah
satu-satunya cara melawan serangan budaya barat; oleh karena itu kita
harus berusaha menyebarkannya dengan Akhlaq dan ma’nawiyat yang
dibarengi dengan cara yang logis yang merupakan syarat masuknya di hati
masyarakat ini.
Kita berharap kepada Allah Swt
agar secepatnya memenuhi janjinya untuk kebebasan setiap orang-orang
yang terzhalimi di dunia, di Bahrain, Yaman, Suriah, Iraq, Pakistan,
Palestina dan negara-negara Islam lainnya dan kemenangan mereka dari
para penguasa dunia, Zionis, kelompok-kelompok takfiri, dan ancaman anti
Islam. Semoga Allah menyelamatkan dan memberikan hidayah kepada dunia
manusia dengan kedatangan Imam Mahdi Ajf.
Majma Jahani Ahlubait As
30 Dzulhijjah 1437 H
Ketua Umum ICMI:
Jangan gara-gara Pilkada, Semangat Toleransi Antar-agama Turun
“Jangan sampai gara-gara pilkada semangat toleransi kita turun. Kita ingin mengedepankan pentingnya semangat dialog, religion peace. Ini bukan hanya berlaku bagi kita, tapi bagi dunia.”
Menurut Kantor Berita ABNA, Ketua Umum Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengingatkan agar
seluruh pihak dapat menahan diri serta tidak membawa isu agama untuk
kepentingan politik.
Menurut dia, Indonesia sebenarnya sudah terbiasa menghadapi
isu-isu yang berkaitan dengan pluralisme dan toleransi. Bahkan, jika
dibandingkan dengan Amerika Serikat, Indonesia jauh lebih toleran.
“Kalau di Amerika, orang Katolik harus menunggu dua abad
baru bisa jadi presiden. Lalu orang kulit hitam harus menunggu 2,5 abad.
Perempuan mungkin baru akan terpilih nantinya,” ujar dia. Jimly
mencontohkan, di Kalimantan Tengah yang 60 persen warganya merupakan
pemeluk agama Islam, selama dua periode lalu dipimpin oleh Teras Narang
yang notabene merupakan non-Muslim. Begitu pula yang terjadi di
Kalimantan Barat. “Gubernurnya Katolik, wakilnya Kristen, Chinese,” ujar
Jimly.
Ia menambahkan, jika pada pilkada terdapat calon kuat
tetapi memiliki keyakinan berbeda dengan agama mayoritas penduduk, maka
sebaiknya tetap diberikan kesempatan. Nantinya, masyarakat yang akan
menentukan apakah calon tersebut layak untuk memimpin suatu daerah atau
tidak.
“Jangan sampai gara-gara pilkada semangat toleransi kita turun. Kita ingin mengedepankan pentingnya semangat dialog, religion peace. Ini bukan hanya berlaku bagi kita, tapi bagi dunia,” papar Jimly.
Imam Husain hidup di Hati Pencintanya di Setiap Tempat dan Waktu
Penolakan asyura justeru akan menjadi jalan untuk semakin memperkenalkan asyura. Jadi dilarang ataupun tidak dilarang, secara intelektual, spiritual dan sosial, tragedi asyura akan terjelaskan ke masyarakat dengan berbagai bentuk.
Setidak-tidaknya ada dua hal
yang senantiasa dituduhkan oleh kelompok yang menolak kegiatan asyura di
Indonesia ini: 1. Di acara ini ada ritual melukai diri, 2. Ada
pelaknatan sahabat utama Nabi seperti Umar ra. dan Abu Bakar ra.,
Dalam sebuah dialog bersama
Kementerian Agama D.I. Yogyakarta dan MUI serta Muspida , saya
menyarankan kepada pihak yang sering menuding seperti itu untuk
melakukan pemeriksaan forensik tubuh para peserta acara Asyura apakah
ada bekas melukai diri, dan bisa dicek dalam dokumentasi kajian
(peringatan) seperti kegiatan asyura ini apakah ada tradisi caci maki
sahabat Umar dan Abu Bakar,apalagi isteri nabi?. Saya kira dengan mudah
dapat dilakukan penelitian, karena acara asyura ini terbuka dan siapa
saja bisa ikut, apalagi ini memang tragedi ini lintas mazhab dan agama.
Jika ditemukan unsur itu, silahkan laporkan ke kepolisian sebagai unsur
penistaan agama. Hak kita semua dijamin UUD 1945. Apalagi tim intelijen
negara dapat melakukan penggalian informasi lapangan secara langsung di
lokasi acara.
Kita juga dapat melakukan
penilaian akan unsur separatisme, terorisme dan anti NKRI dan Pancasila
sebuah kelompok / ajaran dari buku-buku yang mereka miliki dan gerakan
yang mereka lakukan. Dari buku-buku yang kami terbitkan, silahkan
dilaporkan ke Kejaksaaan Agung jika mengandung unsur tersebut.
Kepolisian Sektor (Polsek) dapat berkoordinasi dengan unsur Desa dan
Babinsa untuk meneliti unsur itu. Kemampuan intelijen kita di Indonesia
relatif banyak dipuji oleh berbagai negara dan terbukti berhasil
menangkap jaringan teroris. Tentu saya percaya aparat pemerintah kita
akan dengan mudah menemukan potensi itu jika memang ada.
Tentu sah-sah saja dan dijamin
oleh konstitusi jika ada kelompok yang melakukan demonstrasi menolak
acara ini dan membuat audiensi dengan Pemerintah dan DPRD, saya kira
tradisi yang baik untuk melakukan kritik dan masukan kepada Pemerintah.
Asalkan dilakukan dengan cara yang damai, anti kekerasan dan tidak
memaksakan kehendak.
Yang saya ketahui mayoritas
para pencinta AhlulBayt Nabi di Indonesia yang diistilahkan para
penganut syiah adalah anggota masyarakat yang berkomitmen kepada
Pancasila dan NKRI. Silahkan di cek data BNPT adakah diantara mereka
orang syiah Indonesia yang menjadi terdakwa teroris atau orang menjadi
DPO Densus. Kalau ada yang bisa menemukan kelompok syiah di Indonesia
ini yang melakukan upaya makar dan teror, maka kita akan bersama-sama
melawan mereka, sekalipun mereka mengklaim sebagai penganut syiah.
Karena pelaku kejahatan bisa ada di mana saja, bisa ada dalam kelompok
agama manapun. Silahkan di cek penjara kita di Indonesia, ada berapa
penganut Islam di dalamnya, tentu ini tidak menjadi ukuran bahwa Islam
seperti itu, karena banyak penganut Islam yang memberikan prestasi bagi
bangsa dan agama ini.
Kita mengetahui bersama
sebagian besar kelompok syiah di Indonesia telah muncul sebagai
organisasi massa yang resmi yang tercatat dalam lembaran negara, itu
artinya mereka memilih jalan objektif keyakinan mereka dalam konteks
Negara Kesatuan Republik Indonesia yang akan taat pada konstitusi.
Dengan menjadi bagian resmi organisasi massa, maka ormas kelompok
pencinta keluarga Nabi yang dikaitkan dengan identifikasi ajaran Syiah
akan dapat dipantau secara legal oleh negara. Mereka dituntut konsisten
dengan AD dan ART mereka yang pasti berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Selama beberapa tahun saya
ikut mengamati teman-teman Syiah ini (Syiah Imamiyah) kecenderungan
terus menguat pada upaya memperkuat jalinan identitas KeIslaman dan
Keindonesiaannya. Bisa kita lihat pada tema-tema asyura yang senantiasa
membawa spirit dan peneguhan NKRI. Mereka melakukan kegiatan secara
terbuka, tidak mengkafirkan kelompok lain, bahkan mereka tidak punya
ciri pakaian tertentu, mereka biasa bersama ada yang memakai kaos,
berkemeja, berbaju batiik, ada yang pakai sarung, celana jeans. Tidak
mengindentifikasi dirinya dengan jenggot panjang, dan simbolisme formal
lain. Jadi silahkan di cek di lapangan. Mereka tidak ekslusif hingga
dalam penampilan mereka terbuka apalagi dalam pemikiran (inklusif).
Kalau mereka dituduh taqiyyah (menyembunyikan kebenaran, berbohong dalam
istilah mereka),maka lakukanlah upaya hukum agar dapat dibuktikan di
pengadilan dari landasan kebenaran material yang ada,
Jadi upaya sekelompok orang
untuk menolak acara asyura sebagai bagian dari demokrasi adalah sah
saja, sepanjang dengan cara damai dan tidak memaksakan kehendak apalagi
dengan cara kekerasan. Dialog tentu lebih baik. Dalam sebuah
perbincangan dengan tim POLDA DIY, saya menyampaikan bahwa acara asyura
ini bukan ritual yang wajib secara syariah dilakukan dalam bentuk dan
waktu yang ditentukan. Kita tidak melaksanakan kegiatan besar pun tidak
berdosa, bahkan orang syiah tidak sempat ikutpun dalam hari asyura tidak
berdosa. Ini adalah upaya membangun hubungan cinta dengan keluarga Nabi
dan senantiasa melakukan refleksi sosial keagamaan agar setiap pencinta
Imam Husain senantiasa menjaga keadilan dan menjauhi hidup dalam
kezaliman. Pelaksanaan majelis duka bisa dilakukan dengan keluarga bisa
di rumah, bisa di jalan, bisa di warung kopi, bisa berpakaian hitam,
bisa warna lain, bisa pakai kaos ataupun pakai celana panjang ataupun
pendek. Prinsipnya ini acara mengenang tragedi agar menjadi spirit
kebaikan bagi para pencinta al Husain cucu Nabi Muhammad Saw sebagaimana
yang dikehendaki oleh Allah SWT dan RasulNya.
Semakin ditekan atau diteror,
mungkin saja berpengaruh secara psikologis, tapi karena ini adalah
masalah cinta, tentu kita paham bagaimana sih jika kita sedang jatuh
cinta, kita bisa merawat cinta kita dengan fasiltas apa adanya,
sekalipun hanya dengan membagi makanan kecil untuk sedekah sebagai upaya
mengenang Asyura buat kita sangat berarti dan berkah, sekalipun kita
harus melakukan di ruang terbuka berpanas-panas, dengan cinta semua itu
larut dalam keharuan para pencinta. Prinsipnya kita tidak melawan hukum
di negeri kita tercinta ini dan cinta damai. Semua jalan untuk melakukan
asyura ini bisa terpenuhi. Seorang teman bahkan melakukan peringatan
asyura sendiri (beberapa orang) di dalam gua. Setiap tempat dan setiap
waktu adalah asyura. Asyura sebagai jalan cinta Imam Husain hidup di
hati setiap pencintanya apapun mazhab dan agamanya. Peringatan asyura
bisa kita lakukan tiap minggu atau tiap bulan atau tiap tiga bulan dan
seterusnya. Setiap saat bisa.
Kita terus akan hormati hak
setiap orang untuk berpendapat tentang acara asyura ini, kita sangat
mengapresiasi langkah kelompok yang menolak asyura Syiah (istilah
mereka) dengan melakukan pelaporan ke Polisi, audiensi dengan pemerintah
dan DPRD. Apa yang diputuskan oleh negara tentu akan berupaya kita
dukung untuk menjaga negara kita dalam kedamaian dan cinta kasih, tentu
dengan komitmen berdasarkan hukum yang berlaku.
Tentu kita harapkan juga
kepada para penganut Syiah untuk tidak memaksakan kehendaknya, saya
percaya , terbukti selama ini kita bisa dan senantiasa mau berdialog.
Penolakan asyura justeru akan menjadi jalan untuk semakin memperkenalkan
asyura. Jadi dilarang ataupun tidak dilarang, secara intelektual,
spiritual dan sosial, tragedi asyura akan terjelaskan ke masyarakat
dengan berbagai bentuk. Agar pada akhirnya Islam bisa dikenal sebagai
agama cinta. Bahwa apa yang di bawa para Walisongo dalam konteks Islam
Nusantara menurut saya adalah bagian tidak terpisahkan dari perjalanan
asyura.
Jadi semua kita, yang
mengadakan dan menolak asyura, sedang berjalan dalam upaya mencari
keseimbangan baru dan juga baik bagi upaya meneguhkan identitas
keIndonesiaan kita.
Jayalah Asyura, Jayalah Islam Nusantara, Jayalah KeIndonesiaan
Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw.
Wallahu'alam bi al shawab.
(A.M. Safwan- Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari, RausyanFikr Yogyakarta)
Mainsource : http://id.abna24.com/service/asura-mystery-of-creation/archive/2016/10/15/785548/story.html
Satu Juta lebih Warga Turki Peringati Asyura di Halkaly Square Istanbul
Satu Juta lebih Warga Turki Peringati Asyura di Halkaly Square Istanbul
Menurut Kantor Berita
ABNA, 10 Muharram atau lebih populer dengan sebutan hari Asyura, adalah
hari bersejarah bagi umat Islam Syiah dan pecinta Ahlul Bait diseluruh
dunia. Sebab hari itu terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa cucu
Rasulullah Saw, Imam Husain As di padang Karbala pada tahun 61 H. Ia
terbunuh beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya atas perintah Yazid
bin Muawiyah yang menjadi khalifah kala itu.
Setiap hari Asyura, umat Islam
memperingatinya sebagai hari berkabung. Berikut ini suasana Peringatan
Asyura di kota Istanbul, ibukota Turki pada rabu (12/10). Seratus ribu
lebih warga muslim kota tersebut dengan berpakaian serba hitam dan
atribut yang bertuliskan nama Imam Husain berkumpul di Auditorium Yahya
Kemal Bitli pada malam Asyura selasa (11/10). Pada keesokan harinya,
hari Asyura rabu (12/10) satu juta lebih manusia membanjiri Halkaly
Square yang berada di jantung kota Turki untuk mengenang kesyahidan Imam
Husain As di padang Karbala tahun 61 H silam.
Dihari yang sama, peringatan serupa juga secara serentak dilakukan di kota-kota besar Turki lainnya.




















Tidak ada komentar:
Posting Komentar