Selasa, 18 Oktober 2016

"Supporter" Imam Husain as di arena sepakbola dunia : NU dan Pancasila Target Utama Takfiri, Bukan Syiah

Siapa sebenarnya target utama penyesatan, pembid’ahan dan gerakan masif takfirisme yang merajalela sekarang ini? Percayakah anda, Bukan Ahmadiyah, bukan pula Syiah. Tapi tak lain tak bukan adalah NU.

Iseng-iseng di Google saya ketik ‘NU sesat’. Saya dapati ada 538.000 tulisan. Berikutya saya ketik kata kunci ‘Syiah sesat’,  ada 544.000 tulisan. Menarik kan? Ternyata hampir sama jumlah kata kunci ‘Syiah sesat’ dan ‘NU sesat’, menarik untuk mencari tahu, Siapakah dalangnya?
Kenapa tak hanya Syiah, tapi NU secara masif  (tapi kurang disadari) disesatkan juga? Siapa sebenarnya target utama penyesatan, pembid’ahan dan gerakan masif takfirisme yang merajalela sekarang ini? Percayakah anda, Bukan Ahmadiyah, bukan pula Syiah. Tapi tak lain tak bukan adalah NU.
Ahmadiyah dan Syiah itu di Indonesia kan secuil, seiprit. Di Indonesia ini tak ada untungnya juga nyerang Syiah sebenarnya. Itu cuman target sekunder saja. Ahmadiyah dan Syiah hanyalah batu loncatan untuk menyerang target utama: NU. Kenapa menyerang NU? Karena NU-lah (bersama Muhammadiyah) yang menjadi benteng penjaga bangsa ini sejak, bahkan sebelum, kemerdekaan Indonesia. Jika NU hancur, hancur pulalah bangsa ini.
Seperti Libya, Suriah, dan Irak. Lihatlah, sekarang kelompok takfiri ini sudah tak malu-malu lagi menyerang. membid’ah-bid’ahkan dan bahkan menyesatkan amaliah NU seperti tahlil, maulid, shalawat, ziarah, dll itu kan? Bahkan dari dalam tubuh NU sendiri pun gerakan anti NU -tulen yang wasath, yang moderat dan toleran- mulai bermunculan. Ketika menyerang Ahmadiyah, mereka mulus-mulus saja, karena Ahmadiyah memang tak punya doktrin ‘melawan’. Tapi ketika target lanjutannya adalah Syiah, di sinilah kelompok takfiri ini kesandung dan nyonyor, karena Syiah memilik militansi. Syiah mencoba meniru semangat juang SAYYIDINA HUSAIN. Syiah memiliki derita panjang bulan-bulanan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah. Syiah adalah orang yang dibesarkan dengan doktrin menjadi petarung dan pejuang, yang tak akan diam dan siap bangkit melawan.
Menarik untuk dicermati. Secara kultural, Syiah dan NU di Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat. “NU adalah Syiah minus Imamah, Syiah adalah NU plus Imamah”, begitu kata alamarhum Gus Dur.
Wahabi Takfiri terlalu nekat kalau langsung menyerang NU, karena itulah Syiah dijadikan batu loncatan. Karena itu bisa dimengerti bahwa NU tak akan hancur kalau Syiah tidak dihancurkan lebih dulu. Syiah-pun tak akan bisa dihancurkan, selama NU tidak dikacaukan terlebih dahulu. Karena itu, kelompok takfiri ini (bisa di Sunni-Syiah-Wahhabi), tak akan pernah bisa berhasil merobohkan NU selama mereka tak berhasil menstigma Syiah sebagai sesat, kafir, dan bukan Islam. Karena dari situlah mereka mendapat pintu masuk untuk menyerang NU, yaitu dari pintu ajaran, amaliah, dan kultur Syiah yang sama dengan NU (shalawatan, mengharap syafaat, maulid, haul, ziarah, tahlil, dll).
Jangan pula heran ketika fitnah pada Syiah begitu massif dan sistematis. Tak hanya dari luar Syiah, bahkan dari dalam Syiah sendiri pun disusupi antek-antek takfiri pemuja Yasir Habib yang tinggal di London dan Tawhidi yang asal Australia. Jika Syiah roboh, NU juga Roboh. Berikutnya  PANCASILA digantikan KHILAFAH.
#saveNKRI

Kenalkah Kau dengan al Husain, Cucu Kesayangan Nabi?

Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.


Dia hanya berjarak setahun dengan abangnya, al Hasan. Sebagaimana abangnya, namanya juga adalah pemberian Allah Swt melalui malaikat Jibril As yang meminta Nabi Saw menyebutnya al Husain, yaitu Hasan kecil. Dihari ketujuh kelahirannya, sebagaimana juga abangnya, dia diaqiqah dengan sembelihan satu ekor kambing.
Para sahabat sang Kakek juga turut merasakan kebahagiaan akan kelahirannya. Dalam mazhab Syiah dan juga Maliki, aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya, masing-masing dengan sembelihan satu ekor kambing. Islam yang datang dengan doktrin laki-laki dan perempuan sama derajatnya, mustahil membeda-bedakan laki-laki dan perempuan justru dihari-hari awal kelahirannya. Suka cita dalam penyambutan kelahiran anak, sama, anak laki-laki dan perempuan tidak ada bedanya. Islam datang justru hendak merombak tradisi yang membeda-bedakan anak laki-laki dengan perempuan.
Masa kecil al-Husain diliputi kebahagiaan dan keceriaan masa anak-anak. Dia tidak pernah terlihat berpisah dengan kakeknya. Sahabat-sahabat Nabi Saw ketika menceritakan tentang al Husain, mereka akan berkata, “Selalu saja kulihat al Husain itu duduk dipangkuan Nabi, sambil sesekali diciumi Nabi.” Bahkan ada salah seorang sahabat yang merasa risih, saking seringnya dia melihat Nabi menciumi al Husain.
“Ya Rasulullah, saya mempunyai 10 anak laki-laki dan tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium.”
“Kenapa?”
“Kami tidak mencium anak laki-laki.”
“Barang siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, kalau Allah akan mencabut rasa sayang dari hatimu.”
Tidak hanya diwaktu senggang, Nabi selalu bersama al Husain. Bahkan diwaktu sedang memimpin jamaah shalat sekalipun. Al Husain dan abangnya berkejaran diantara kedua kaki Nabi yang sedang shalat. Ketika Nabi sujud, keduanya bergantian menunggangi pundak Nabi. Akibatnya, Nabi memperlama sujudnya. Sehabis shalat, para sahabat bertanya, apa gerangan yang terjadi mengapa sampai sujud Nabi sedemikian lama. Nabi menjawab, “Kedua cucuku ini menunggangi punggungku, dan kubiarkan keduanya menyelesaikan keinginannya.”
Salah seorang sahabat pernah mendapati Nabi sedang asyik bermain dengan kedua cucunya. Al Husain dan al Hasan naik dipunggung Nabi bersamaan. Sahabat itu turut tersenyum melihat tingkah keduanya, sambil berkata, “Amat beruntung kalian berdua, memiliki tunggangan yang paling baik.” Nabi berkata, “Dan keduanya adalah penunggang terbaik.”
Pernah Nabi sedang berkhutbah. Diatas mimbar beliau melihat al Husain dan abangnya berkejar-kejaran. Karena baju yang dipakai al Husain kepanjangan, ia menginjaknya sendiri, dan terjatuh. Nabi spontan melompat dari mimbar dan menggendong cucunya itu, kemudian melanjutkan khutbahnya kembali. Nabi tidak ingin al Husain terluka sedikitpun, apalagi sampai menangis. Menenangkan hati cucunya itu, lebih utama bagi Nabi dibanding khutbah yang disampaikannya.
Berkali-kali sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kami melihat, begitu besar kecintaanmu pada al Husain.” “Iya, al Husain dari aku, dan aku dari al Husain. Mencintai aku siapa yang mencintainya, dan memusuhi aku siapa yang memusuhinya.” Mendengar sabda itu, sahabat-sahabat Nabipun berlomba-lomba menunjukkan kecintaan yang serupa kepada al Husain.
Setiap Nabi usai menyampaikan khutbah atau nasehat kepada sahabat-sahabatnya, al Husain dan al Hasan segera berlomba berlari kembali ke rumah. Keduanya adu cepat untuk menyampaikan apa yang dikatakan Nabi kepada ibunya, Fatimah az Zahra. Begitu Imam Ali datang dan hendak bercerita kepada istrinya tentang apa yang telah disampaikan Nabi tadi, Sayyidah Fatimah segera memotong, “Sudah saya tahu.”
Imam Ali hanya keheranan, “Kamu tahu dari mana?”. Sang Bunda tersenyum sambil menunjuk kedua anak laki-lakinya yang cekikan senang.
Pernah, ada seorang kakek tua sedang berwudhu, namun caranya salah. Al Husain dan al Hasan melihat kejadian itu. Al Husain segera berkata kepada abangnya, “Bang, yuk kita bertanding, siapa yang wudhunya paling benar.”
Al Hasan menyanggupi tantangan itu. “Tapi siapa yang menjadi jurinya?” Al Husain pun meminta kepada kakek yang hadir disitu.
“Kek, siap jadi juri ya..”
Sang kakek mengiyakan.
Keduanyapun melakukan wudhu dihadapan kakek itu. Dan begitu usai, kakek ditanya siapa yang wudhunya paling benar.
Sang kakek berujar, “Wudhu kalian berdua benar. Saya yang salah.”
Al Husain sukses memberitahu cara wudhu yang benar kepada si kakek, tanpa merasa digurui.
Al Husain tidak lama bersama Nabi. Diusianya baru menginjak 6 tahun, sang kakek meninggal dunia. Betapa sedihnya al Husain kecil. Terus terbayang masa kecil yang indah bersama sang kakek. Betapa kakeknya selalu hanya ingin membuatnya senang. Sedikit luka saja, sang kakek sudah sedemikian risaunya.
Tapi tahukah kau akhir hidup cucu yang begitu disayangi Nabi itu?. Tahukah kau bagaimana kisah selanjutnya dari penunggang Nabi itu? Tahukah kau apa yang terjadi dengan leher dan bibir al Husain yang sering dikecup oleh Nabi itu?
Ia mati dalam keadaan lehernya tersembelih, dan bibirnya ditusuk-tusuk pedang.
Ketika kepala al Husain yang telah terpisah dari tubuhnya dibawa kehadapan Yazid. Yazid memukul-mukul batok kepala itu dengan tongkat, dan mempermain-mainkan bibir di kepala itu.
Sahabat-sahabat Nabi yang telah tua renta histeris melihat kejadian itu.
“Hentikan wahai Yazid, aku melihat dengan mata kepala sendiri, bibir itu sering diciumi oleh Nabi.”
Kau mungkin tidak tahu banyak mengenai itu, sebab cerita yang kau dapati tentang al Husain, dia yang sedang tertawa senang sedang menunggangi Nabi, kakeknya.
Hanya itu… seolah-olah al Husain, hanyalah cucu Nabi, yang sepanjang usianya adalah cucu yang larut dalam kegembiraan masa kanak-kanak.
Mana masa muda al Husain, yang diminta ayahnya untuk melindungi khalifah Utsman dari pembunuhan? Mana masa muda al Husain yang ikut membela ayahnya dalam perang-perang melawan kaum pemberontak? dan mana masa akhir al Husain, yang syahid di Karbala menjaga nyala agama yang disiarkan kakeknya?
Nabi bersabda tentangnya, “Al Husain adalah pemimpin pemuda di surga…”
Kau tahu dimana kepalanya yang sempat dipermainkan itu dikubur?
Secuil itukah yang kau tentangnya?
10 hari pertama Muharram, berusahalah tahu banyak tentangnya, kau akan mengenal agama ini lebih dekat...

Pesan Majma Jahani Ahlubait As Umat Islam Syiah dalam Rangka Peringatan Muharram Dan Safar:

Majelis Duka yang Benar adalah Jalan Melawan Islam Palsu

Dengan membudayakan tradisi yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majlis duka dibawah payung persatuan.


Menurut kantor berita ABNA, dalam rangka peringatan Majelis Husaini bulan Muharam dan Safar Majma Jahani Ahlubait As memberikan pesan duka dan nasihat-nasihat kepada para anggota dan orang-orang terkait.
Dalam pesan ini disebutkan bahwa peristiwa karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.   
Dalam pesan ini ditekankan pula bahwa majlis duka yang benar merupakan cara menghadapi Islam-Islam palsu, “menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh.
Tugas kita dalam hal ini adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, pisau, belati atau pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.”
Berikut adalah teks lengkap pesan Majma Jahani Ahlubait As:
Bismillahirahmaanirahiim
Imam Shadiq As berkata:
«نفس المهموم لظلمنا تسبیح و همُّه لنا عبادة و کتمان سرّنا جهادٌ فی سبیل الله» (أمالی شیخ مفید،ص338(
Artinya: “Nafas orang terzhalimi demi kami (ahlubait) adalah tasbih, penderitaan yang dialami demi kami adalah Ibadah dan menyembunyikan rahasia kami adalah jihad di jalan Allah” (Syeikh Mufid Amali, hal. 338)
Kepada seluruh anggota, orang terkait, para mubaligh dan para perwakilan Majma Jahani Ahlubait As yang terhormat,
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatu
Dengan mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dan Ahlubait As dan dengan sangat terhormat; kami menyampaikan belasungkawa kepada para pengikut Ahlubait As, semua umat muslim dan kaum merdeka di seluruh dunia atas kedatangan bulan Muharram dan Safar Husaini, hari-hari penuh duka keluarga ma’shumin dan wilayah, musim pembaharuan ba’iat kepada keturunan suci Rasulullah Saw dan musim ‘labbaik’ seruan yang mempersatukan.
Majma Jahani Ahlubait As dalam rangka peringatan acara duka Ahlubait As merasa berkewajiban untuk menyampaikan nasihat atau pesan-pesan dalam rangka mengagungkan syi’ar-syi’ar kebenaran Islam suci Muhammadi:
Tragedi karbala sejalan dengan seruan fitrah yang selalu bersinar, hidup abadi dan mengutamakannya dengan cara menghidupkan nama dan budaya Husain bin ‘Ali As ini merupakan ibadah.
Majlis duka yang benar merupakan jalan melawan Islam Palsu; atas dasar inilah majelis duka tidak boleh hanya membaca syair-syair atau puisi saja dan para pemuka agama dan para mubaligh agama dalam mimbar-mibarnya harus mementingkan tema-tema yang bersangkutan dengan tujuan bangkitnya Imam Husain dan pergerakan Asyura dengan berlandaskan pada Ayat-ayat suci dan hadits-hadits, dan menjauhkan diri dari perkataan-perkataan lemah dan tidak bersanad, tidak berisi, tidak rasional, membangkitkan perpecahan dan merusak persatuan umat.
Dengan membudayakan kebudayaan yang benar harusnya dapat menghindarkan dari Islamphobia, Syiahphobia dan perpecahan-perpecahan dan jika hal ini tidak dapat dihindarkan, maka musuh Islam akan menggunakan kesempatan ini; oleh karenanya kita harus mampu membuat putus asa musuh dengan mengikuti majelis duka dibawah payung persatuan.
Kecintaan dan mahabah Husaini harus lebih ditunjukan dengan cara yang logis dan para mubaligh harus membentengi masyarakat dengan cara menjelaskan fitnah-fitnah musuh agar mereka berkumpul dibawah bendera Imam Husain As.
Menurut pandangan maraji’ dan pembesar-pembesar Syi’ah, menghina para pembesar Ahlusunnah adalah pekerjaannya Syi’ah Inggris; dengan cara yang seperti ini bersama dengan para Ahlusunnah Amerika mereka mengenalkannya sebagai bencana dunia Islam, berpaling dari wilayah dan penghinaan-penghinaan mereka disebarkan dan dilancarkan lewat musuh. Tugas kita dalam hal ini adalah harus melakukan acara belasungkawa dengan sangat waspada, berdiri tegas melawan penghinaan, penyebab perpecahan, dan khurafat-khurafat seperti Qamezani (memukul menggunakan cambuk besi, belati atau pedang kecil) dan bid’ah-bid’ah yang banyak dijumpai pada saat acara duka; karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran Karbala.
Amr Bil Ma’ruf wa Nahy ‘anil Munkar yang merupakan salah satu tujuan penting pergerakan Asyura adalah satu-satunya cara melawan serangan budaya barat; oleh karena itu kita harus berusaha menyebarkannya dengan Akhlaq dan ma’nawiyat yang dibarengi dengan cara yang logis yang merupakan syarat masuknya di hati masyarakat ini.
Kita berharap kepada Allah Swt agar secepatnya memenuhi janjinya untuk kebebasan setiap orang-orang yang terzhalimi di dunia, di Bahrain, Yaman, Suriah, Iraq, Pakistan, Palestina dan negara-negara Islam lainnya dan kemenangan mereka dari para penguasa dunia, Zionis, kelompok-kelompok takfiri, dan ancaman anti Islam. Semoga Allah menyelamatkan dan memberikan hidayah kepada dunia manusia dengan kedatangan Imam Mahdi Ajf.
Majma Jahani Ahlubait As
30 Dzulhijjah 1437 H

Liputan Khusus:

Bedanya Jika Ikut Langsung Peringatan Asyura

Selama hampir satu jam, Sayyid Ali Rabbani membawakan narasi tragedi Karbala. Meski dia berkebangsaan Iran, namun bahasa Indonesianya sangat fasih.

Suara Sayyid Ali Rabbani tiba-tiba tercekat. Sejenak dia terdiam setelah sebelumnya menceritakan bagaimana Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib, tetap mendirikan Shalat secara berjamaah pada malam 10 Asyura. Shalat diikuti oleh anak-anaknya, para ponakannya (anak-anak saudaranya, Imam Hasan) serta beberapa sahabat dan pengikut setianya.
Setelah mengambil nafas yang panjang, Sayyid Ali melanjutkan kisahnya. Malam itu, Imam Husain mengumpulkan seluruh sahabat serta anggota keluarganya di dalam tenda utama. Kala itu, mereka sudah dalam kondisi terkepung oleh puluhan ribu pasukan Yazid bin Muawiyah, dan dalam kondisi kehausan karena akses mereka ke sungai terdekat diboikot.
Imam Husain lalu menyampaikan bahwa besok, peperangan akan terjadi dan akan banyak yang menjemput kematian. Qasim, salah satu putra Imam Hasan yang masih belasan tahun lalu berkata, “Apakah besok aku juga akan syahid?”, Imam Husain menanggapi pertanyaan keponakannya, “Puteraku, bagaimana kematian itu dalam pandanganmu?”. Ia menjawab, “Kematian bagiku, lebih manis dari madu.” Imam Husain lalu menjawab, “Iya, puteraku, besok, kamu juga akan meraih kesyahidanmu.”
Kisah yang disampaikan Sayyid Ali Rabbani ini spontan membuat jemaah yang menghadiri majelis Asyura, menangis tersedu-sedu. Tangis mereka semakin menjadi-jadi ketika narasi dilanjutkan, saat bagaimana ribuan prajurit tanpa perasaan membantai Qasim bin Hasan yang maju ke medan laga seorang diri. Seorang remaja berwajah tampan yang mirip dengan ayahnya, Imam Hasan, cucu Nabi Muhammad Saw, kini tak bernyawa, tergeletak bersimbah darah di Padang Karbala.
Selama hampir satu jam, Sayyid Ali Rabbani membawakan narasi tragedi Karbala. Meski dia berkebangsaan Iran, namun bahasa Indonesianya sangat fasih.
Usai menyelesaikan narasi tragedi Karbala, Sayyid Ali yang merupakan salah satu Qari dari Iran ini, memimpin Doa Ziarah Imam Husain, semacam doa untuk menyatakan kesetiaan terhadap perjuangan Imam Husain, dan menyatakan berpaling dari orang-orang yang memerangi Sang Imam di Karbala, pada 10 Muharram 60 Hijriyah lalu.
Ziarah ini ditutup dengan sujud bersama, sembari memohon kepada Allah Swt, agar bisa mendapatkan syafaat dari Nabi Muhammad Saw dan para keluarganya, termasuk Imam Husain. Muslim Syiah meyakini, para Ahlulbait Nabi Saw yang berjumlah 12 orang, termasuk Imam Husain, kelak akan menemui para peziarahnya dan memberikan mereka syafaat di hari akhir kelak.
Jurnalis Berita Kota Kendari, diperkenankan mengikuti ritual yang digelar di Hotel Qubra, Kendari, Selasa (11/10), yang bertepatan dengan 10 Muharram itu. Acara yang dihadiri sekitar seratusan muslim Syiah dari seluruh Sulawesi Tenggara ini, dibuka sekitar pukul 13.00 dan berakhir tiga jam kemudian.
Meski demikian, ritual ini sempat mendapatkan protes dari puluhan orang yang merupakan aktivis Anti-Syiah. Namun protes mereka tak membuat ritual Asyura di dalam hotel sampai terganggu. Seluruh ritual berjalan dengan lancar dan khidmat dari awal sampai selesai.
Ratusan aparat gabungan Polri dan TNI pun terus melakukan pengamanan untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, jumlah jamaah Syiah yang ikut dalam acara itu terbilang sedikit. Itu pun masih terdiri dari perempuan dan anak-anak.
Ketua DPW Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi) Sultra, Ustad Nunung Piagi menyesalkan adanya gerakan yang ingin menggagalkan ritual Asyura. “Anda bisa lihat sendiri, bahwa peringatan Asyura ini hanya membacakan narasi tragedi di Karbala dan doa bersama. Apanya yang dipersoalkan? Apa salah jika kami memperingati kesyahidan Imam Husain?” kata Ustad Nunung.
Dia juga mengatakan, sudah seringkali mengundang tokoh atau warga di luar Syiah untuk melihat langsung ritual Asyura, agar mereka bisa langsung tahu dan memahami esensi dari tradisi ini. “Beda kan kalau kita ikut langsung, daripada hanya mendengar-dengar,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Ketua DPW Ahlul Bait Indonesia (ABI) Sultra, Ir Tachrir mengatakan setiap tahun peringatan Asyura yang digelar komunitas Syiah memang selalu mendapat penentangan dari ormas-ormas tertentu. Itu terjadi karena adanya perbedaan pemahaman antara Syiah dan golongan tersebut dalam beberapa hal, termasuk ritual Asyura.
Ketua Formasi Sultra, Muhammad Ridwan Zainal juga menambahkan bahwa pemerintah sebaiknya memfasilitasi dialog antarmazhab untuk mendorong toleransi antarsesama. Yang jelas, kata Ridwan, antara Syiah dan Sunni, persamaannya masih jauh lebih banyak dibandingkan perbedaannya.
Sementara di luar hotel, pihak MUI Sultra dan Muhammadiyah juga ikut memberikan penjelasan. Mereka mengatakan, Syiah itu ada yang sesat, dan ada juga yang tidak. IJABI dan ABI, yang merupakan Ormas penggagas Asyura di Kota Kendari, tidak termasuk dalam golongan yang disesatkan. Mereka adalah pengikut Syiah Imamiyah yang diakui sebagai salah satu mazhab resmi dalam Islam.
Juga disebutkan, bahwa ritual Ahlulbait sebenarnya sangat kental dengan tradisi orang Sultra sendiri. Tiang keraton Buton yang berjumlah 12, sebenarnya merujuk pada keyakinan Syiah Imamiyah yang memiliki 12 orang Imam atau pemimpin umat.
Berdasarkan pantauan jurnalis Berita Kota Kendari, pengamanan itu dihadiri Komandan Kodim (Dandim), Letnan Kolonel (Letkol) Kafleri Eko Hermawan serta Kapolres Kendari, AKBP Sigit Hariadi.
Dari penelusuran di internet, tradisi Asyura memang menjadi salah satu ritual besar dalam tradisi Muslim Syiah. Populasi jumlah Muslim Syiah di seluruh dunia diperkirakan mencapai 150 juta sampai 200 juta orang, termasuk 2,5 juta orang di Indonesia. Setiap tahunnya, diperkirakan 20 juta muslim Syiah dari seluruh dunia melakukan ziarah ke makam Imam Husain yang terletak di Karbala, Irak.
Dalam Risalah Amman yang dihadiri ratusan ulama dan para pemimpin negara, disepakati bahwa Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah merupakan bagian dari keanekaragaman mazhab dalam Islam. Dari total pemeluk Syiah, kebanyakan merupakan Syiah Imamiyah dan sisanya adalah Syiah Zaidiyah, yang ajarannya lebih mirip dengan Sunni.
Menurut Prof Dr KH Quraish Shihab, perbedaan mendasar Sunni dan Syiah hanya terletak pada imamah atau kepemimpinan. Syiah hanya mengakui kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sepeninggal Rasulullah Saw, dan dilanjutkan oleh sebelas keturunannya, termasuk Imam Husain. Karena itu, mereka disebut Syiah Ali atau pengikut Imam Ali. 
Mainsource : http://id.abna24.com/service/indonesia/archive/2016/10/16/785963/story.html

Inilah Thoriqoh Alawiyin dan Nasehat Habib Abu Bakar al-Adni Yaman

Habib Abu Bakar Adni Aden Yaman
SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Setiap kali Habib Abu Bakar al-Adni bin Ali al-Masyhur berkunjung ke Indonesia, beliau seolah menyirami dan menghilangkan dahaga batin kita semua. Di tengah kondisi keislaman yang carut-marut, lalu-lalang fitnah dan tuduhan serta cap sesat, kebencian pada sesama saudara Muslim, dan berbagai kemunduran keberislaman itu, beliau hadir di tengah-tengah kita mengingatkan tentang pesan-pesan utama Islam sebagai agama rahmat dan cinta. Salah satunya dalam kunjungan kedua beliau ke Indonesia pada awal 2016 ini. (Baca: Peran Dakwah Damai Habaib Di Nusantara)
Berikut ini petikan nasihat beliau yang sungguh meneduhkan:
Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali bin Abu Thalib ra., yaitu thoriqoh yang di saat berkuasa tidak menjajah dan tidak merasa berkuasa.
Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Hasan ra., yaitu thoriqoh yang mengalah untuk kebaikan umat Islam.
Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Husain ra., yaitu thoriqoh yang berani melawan kemungkaran hinggga tetes darah penghabisan.
Thoriqoh kami adalah thoriqoh Sayyidina Ali Zainal Abidin ra., yaitu thoriqoh yang pemaaf dan tak pendendam kepada orang yang telah membunuh keluarganya di depan mata beliau sendiri.
Thoriqoh ‘Alawiyah yang dipegang, dijaga, dilestarikan, dan diwariskan turun temurun oleh para Saadah ‘Alawi (Habaib) adalah thoriqoh yang bersambung pada Nabi Muhammad SAW melalui jalur Ahlul Bait (Keluarga Nabi). Thoriqoh ini bukan hanya bersambung pada Nabi melalui Keluarga Nabi melalui jalur sanad, tapi juga nasab. Thoriqoh ini adalah jalan akhlak untuk mencapai keridhoan Allah, Rasul dan Keluarganya. Jalan itu hanya diisi oleh cinta. (Baca: Menjawab Kritikan Ust Felix Siauw “Wahabi-Salafy” Tentang Dakwah Para Wali dan Habaib)
Habib Abu Bakar dalam perkataannya itu sedikit merinci thoriqoh itu dengan karakteristiknya yang diambil dari karakteristik Keluarga Nabi. Dimulai dari Sayyidina Ali ra., meneladani karakteristik beliau, thoriqoh ini tak pernah menganggap kekuasaan milik manusia, siapapun mereka. Melainkan milik Allah. Karena itu, ketika kekuasaan kita pegang, maka kekuasaan itu harus digunakan untuk menebar cinta-kasih pada manusia yang berada dalam kekuasaan kita, sebagaimana Allah yang menebar rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan menegakkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, bukan hanya lil Muslimin. Kekuasaan itu ‘pun dipegang dan dijalankan dengan prinsip dasar kekuasaan-Nya, yakni keadilan. Berlaku adil bahkan kepada orang yang menentang kekuasaan kita dengan cinta-kasih, bukan menindas mereka. Karena penindasan takkan pernah bisa menjadi jalan keluar. Mereka yang menentang justru dirangkul dengan lembut agar juga masuk dalam thoriqoh ini.
Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Hasan ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni meletakkan kepentingan (maslahat) umat Islam di atas kepentingan pribadi atau golongan kita. Jangan sampai hanya karena egoisme pribadi atau golongan kita, ukhuwah umat Islam terkoyak dan tergadaikan.
Habib Abu Bakar kemudian melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Husain ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni thoriqoh yang pantang hina: baik diri maupun agama. Siap berdiri di barisan terdepan demi harga diri Islam. Dan harga diri Islam paling utama adalah maslahat dan ukhuwah umat Islam, sebagaimana menjadi karakteristik Sayyidina Hasan ra.. Adapun mengacu pada karakteristik Sayyidina Ali ra. dan hadis Qudsi, di sini kita tak pernah takut sedikit ‘pun pada kekuasaan, selama kekuasaan itu bukan kekuasaan Allah, karena hanya kekuasaan Allah ‘lah yang sejati dan abadi. Tak peduli walau diri kita yang harus ditumbalkan, sebagaimana Sayyidina Husain ra. yang rela syahid demi tegaknya agama Allah dan tumbangnya rezim penindas. Karena itu, kita harus selalu mengingat perjuangan Sayyidina Husain ra..
Terakhir, Habib Abu Bakar melanjutkan dengan karakteristik Sayyidina Ali Zainal Abidin ra. sebagai ciri selanjutnya dari thoriqoh­-nya, yakni kebesaran hati untuk selalu memaafkan dan tak pendendam bagi siapa saja yang telah mengoyak agama Allah atau menyakiti diri kita namun telah bertobat dan memohon maaf.
Itulah pelajaran dari nasihat Habib Abu Bakar dalam kunjungannya ke Indonesia. Umat Islam Indonesia benar-benar butuh akan nasihat itu untuk kita terapkan bersama agar ukhuwah dan cinta-kasih bersemai di tengah-tengah umat Islam.
Akhirnya, kita harus selalu berdoa agar sosok dan pikiran berbasis cinta-kasih seperti ini selalu ada di tengah-tengah kita dan merasuk ke hati serta pikiran sebagai landasan dalam keberislaman kita. Sehingga Islam menjadi agama perdamaian dan penyemai ketenangan. (SFA)

Wawancara Media Indonesia dgn KH Mustofa Bisri:

Berlebihan itu Zalim

Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif. Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa.



Menurut Kantor Berita ABNA, wartawan Media Indonesia, Furqon Ulya Himawan, mewawancarai kiai karismatik KH. Ahmad Mustofa Bisri yang lebih sering disapa Gus Mus, Jumat (14/10). Berikut ini petikan wawancaranya: 

Kasus intoleransi kerap berlangsung. Apa yang salah?

Menurut saya, itu akibat dari masa lalu yang tidak kunjung direformasi. Reformasi itu kan islah, ndandani kalau dalam bahasa Jawa. Ndandani atau memperbaiki itu harusnya dicari masalah-masalah mana yang rusak, yang diperbaiki itu mana, akar masalahnya apa, harus diteliti dulu baru direformasi.

Namun, sekarang yang terjadi, hiruk-pikuk reformasi itu ternyata melahirkan orang-orang yang seharusnya direformasi justru malah berteriak paling reformis. Jadi sebetulnya kan masalah itu terjadi pada saat dulu, yang akan kita reformasi.

Contohnya, Gus?

Dulu ada kecenderungan zaman Orde Baru untuk menyeragamkan semua. Bukan hanya pakaian seragam, menanam padi, sampai-sampai mengecat pagar rumah sendiri juga harus seragam. Bahkan masjid pun diseragamkan semua, dengan alasan harmonis.  Akibatnya masyarakat tidak bisa berbeda karena terlalu lama diseragamkan, akhirnya masyarakat kita kaget-kaget kalau ada perbedaan.

Dampaknya terhadap keberagaman dan kebinekaan?

Pertama, masyarakat kita susah menerima perbedaan. Beda sedikit marah, beda sedikit marah. Itu akibat menyeragamkan semua hal dan itu melawan fitrah. Padahal, Tuhan menciptakan alam semesta termasuk kita semua itu dalam kondisi berbeda-beda, jadi tidak akan bisa kalau memang mau disatukan atau diseragamkan.

Kedua, seperti burung yang lama dikurung dalam sangkar, ketika sangkar dibuka, dia malah kebingungan, nabrak sana-sini karena sudah lama tidak merasakan kebebasan. Ketika keran kebebasan dibuka, malah bingung. Padahal, dulu itu teriak saja susah, selalu bunyinya satu, setuju. DPR itu dulu kalau teriak ya setuju, apa saja pokoknya setuju. Sampai-sampai ada ledekan: ada kucing masuk parlemen, ngeong, langsung serempak setuju.

Setelah sekian lamanya hanya bisa bilang setuju, sampai saya bikin sajak 'Negeri Ya, Ya'. Terus sekarang, DPR isinya interupsi semua, ngomong semua, seperti burung yang baru dikeluarkan. Terus yang dulunya tiarap-tiarap, sekarang muncul semua.

Ini gara-gara berbagai macam permasalahan islah yang masih belum dilakukan. Jadi banyak persoalan ini yang sumbernya dari reformasi yang tidak sungguh-sungguh.

Sekarang banyak yang bertindak intoleran, menganggap diri paling benar. Ada pula yang mengatasnamakan Islam. Menurut Gus Mus?

Saya selalu mengatakan, harus terus belajar dan jangan berhenti belajar. Orang kalau mau terus belajar, nanti akan mengerti dan memahami apa-apa yang sebelumnya belum dimengerti dan dipahami. Namun, ini payahnya, orang berhenti belajar karena dia merasa sudah mengerti dan memahami. Padahal, sama sekali belum mengerti apa-apa, malah kadang-kadang sudah berfatwa ke sana kemari.

Caranya belajar?

Ya, ini jadi harus terus belajar. Belajarlah supaya mengerti yang menyeluruh, kalau mau bicara Islam, ya mengaji, jangan mengambil Islam dari buku-buku terjemahan, Alquran terjemahan, hadis terjemahan. Ini tidak mungkin. Terus kadang orang bilang kembali ke Alquran dan Alhadis, tapi orang salah memaknai maksud itu.

Maksudnya?

Orang mengatakan kembali ke Alquran dan sunah Rasul itu kok malah maknanya kembali ke Alquran dan hadis terjemahan Depag, itu bagaimana, itu kacau! Orang bisa membaca terjemahan Depag asal dia bisa baca Latin, dan dikiranya kebenaran yang dibaca dan dipelajarinya itu kebenaran mutlak.

Ia tidak tahu bahwa bahasa Arab Alquran tidak sama. Jadi teruslah belajar bahasa Arab, harus belajar ilmu Balagoh, ilmu Badia dan Bayan karena Alquran itu mengandung itu semua, sastranya tinggi sekali. Jadi, kalau orang hanya membaca terjemahan tidak tahu sastra ya tidak mungkin, tidak bisa, harus mengaji.

Jadi silakan mengatakan kembali ke Alquran dan hadis itu dijadikan semboyan, tapi ya kembali itu belajar dan terus belajar, harus mengaji. Tidak diartikan bacalah terjemahan Alquran, atau 40 hadis di buku-buku mutiara hadis, itu ngacau!

Menjelang pilkada, banyak konflik yang mengancam keberagaman dan berpotensi memecah kebinekaan. MUI sampai mengeluarkan fatwa. Menurut Gus Mus?

Kita sekarang lupa, bahwa yang menentukan orang menjadi kaya, menjadi miskin, menang dan kalah, memiliki kekuasaan atau kehilangan kekuasaan, dan menjadi penguasa atau tidak, menjadi pangkat atau tidak, itu semua Allah Subhanahu wata'ala. Disangka kalau kita ngotot, berarti pasti jadi?!

Bagaimana agar tidak terjadi perpecahan di pilkada, Gus?

Saya selalu mengatakan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal. Itu di Islam tidak boleh! Wala tusrifu, (jangan berlebihan), atau Ghuluw, banyak dalam ayat-ayat Alquran dan Sabda Rasullullah Sallahhu Alaihi Wassalam, menyatakan tidak boleh, alguluw fiddin (berlebihan dalam agama), berlebih-lebihan itu tidak boleh.

Karena berlebih-lebihan itu akibatnya orang tidak bisa berpikir adil, tidak bisa istiqomah, tidak bisa objektif. Jadi, kalau selama kita masih bersikap berlebih-lebihan dalam segala aspek kehidupan kita, sangat sulit kita untuk berpikir jernih, tidak bisa.

Sebab adil itu jejek (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri tegak, lurus), sedangkan berlebih-lebihan itu begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kanan), atau begini (Gus Mus mengisyaratkan tangannya berdiri condong ke kiri), tidak bisa. Karena apa pun nanti akan dijadikan alasan untuk berkelahi. Jadi, kalau kita misalnya senang berlebih-lebihan, benci berlebih-lebihan, senang dunia berlebihan, senang kekuasaan berlebihan, senang pangkat berlebihan, senang kedudukan berlebihan, apa pun itu yang berlebihan, itu semua sumber malapetaka.

Suporter Republik Islam Iran Peringati Asyura, Kala Timnasnya Jamu Korsel

Ratusan ribu suporter Iran memadati stadion dengan berpakaian serba hitam sembari membawa spanduk bertuliskan nama Imam Husain dan Who is Hussain. Hal tersebut terjadi pasalnya pertandingan berlangsung bertepatan dengan malam kesepuluh Muharram yang merupakan malam duka bagi rakyat Iran yang mayoritas muslim Syiah.


Menurut Kantor Berita ABNA, terjadi fenomena unik dalam dunia sepak bola pada pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2018 antara timnas Iran menghadapi timnas Korea Selatan yang dihelat di Azadi Stadium, Tehran selasa (11/10). Ratusan ribu suporter Iran memadati stadion dengan berpakaian serba hitam sembari membawa spanduk bertuliskan nama Imam Husain dan Who is Hussain. Tidak hanya itu, ofisial Iran termasuk pelatih juga mengenakan kemeja hitam dalam pertandingan tersebut.  Hal tersebut terjadi pasalnya pertandingan berlangsung bertepatan dengan malam kesepuluh Muharram yang merupakan malam duka bagi rakyat Iran yang mayoritas muslim Syiah.
Malam sepuluh Muharram adalah malam terakhir Imam Husain As yang gugur ke esokan harinya beserta keluarga dan sejumlah sahabatnya di padang Karbala 10 Muharram tahun 61 H. Peristiwa terkenal dalam sejarah Islam dengan sebutan Tragedi Asyura. Tiap tahun rakyat Iran memperingatinya dan menjadikan hari berkabung nasional.
Fenomena lebih unik lagi terjadi saat jeda. Ratusan ribu suporter Iran berdiri serentak sesaat seusai wasit meniup peluit menandakan babak I berakhir sambil meneriakkan yel-yel Labbaika yaa Husain dan menyanyikan syair-syair duka sembari menepuk-nepuk dada. Diantara mereka terbentang spanduk-spanduk bertuliskan nama-nama pahlawan Karbala.
Fenomena unik tersebut tentu menjadi pengalaman baru bagi Timnas dan ofisial Korsel, pertama kali terjadi di dunia sepakbola ribuan suporter membanjiri stadion bukan untuk mengelu-elukan tim yang dibelanya melainkan menggemakan nama Imam Husain ke seluruh dunia.
Pada pertandingan tersebut, Iran mampu meraih poin penuh melalui gol semata wayang dari Sardar Azmoun yang terjadi di babak pertama pada menit ke-24.
Sementara itu, pada pertandingan lain yang berlangsung di Shahid Dastgerdi Stadium, Irak berhasil menggunduli tamunya Thailand, dengan skor telak 4-0.
 
 
 


4 komentar:

  1. Klik video sepakbola Republik Islam Iran vs Korea Selatan di https://www.youtube.com/watch?v=gl2ubi7LjFU

    BalasHapus
  2. dan ini juga teriakan al Husain menggema di stadion sepakbola, silahkan klik di https://www.youtube.com/watch?v=DaRKIzsyFWM

    BalasHapus
  3. Maktam al Husain hingga Do'a Ziarah pun menggema di stadion sepakbola dari Supporter al Husain.. klik videonya disini https://www.youtube.com/watch?v=zIfcU-ZTpC8

    BalasHapus
  4. Supporter Republik Islam Iran di Stadion sepakbola serukan al Husain, silahkan klik videonya di sini https://www.youtube.com/watch?v=UIvXzv5iirU

    BalasHapus